Puisi J. Akit Lampacak

Amin Bashiri • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:31 WIB
Abstract nature/ vecteezy.com
Abstract nature/ vecteezy.com

Ombak

 

pada saatnya buih itu sanpai ke matamu

seprti kerikil yang terlempar dari kaki masa kecil

tentu kau akan mendengar suara angin

seperti riuh burung pagi kehilangan mimpi

gemerciknya menggelinding mengaliri ruang sunyi 

dalam bayanganmu tak ada ombak yang melukai hujan

dan anak-anak sungai di jantung musim

tak pernah mungkin sesak menelan asin.

 

Namun, tak ada yang mesti kau bayangkan

dingin bersuara malam, bersiur panjang

dan hidup telah terbuai kesenangan lain

tentu bagi ingatan ombak begitu dangkal

berlayar di atas ramalan nelayan dan para pemancing

saat pada jaring dan kail tak meniupkan keberuntungan

kau pun pulang sebagai buih yang tersesat di lautan.

 

apa yang mesti disempurnakan pada suara ombak ini

mengayuh waktu hanya cara paling berbahaya bagi kita

maka kita biarkan harapan bersandar

sebagai kemauan yang tak berkemudi.

Sumenep, 2025

 

 

Bahasa Musim

 

pada sunyi yang dingin

ia lahir meneteskan suara

berkembang riak 

pada ranting dan air

gemercik terdengar 

dari lidah sungai.

 

kita melahirkan kenangan

musim melahirkan jarak

kita tak mampu berteriak

ketika ladang mengering

kita pun berseling;

menyuarakan masa depan

bagi harapan yang dangkal.

 

begitulah kiranya

malam melahirkan bulan

siang memperluas kenangan

walau di bawah pepohonan

kita hanya dedaunan.

 

kita mendekati suara angin

senyap terdengar liar

seperti burung terbang.

dari ketinggian awan gemetar,

ada ilusi hujan dalam renta dunia

cuaca menggemma, musim bercerita

lebih manja dari bahasa kita.

Solo, 2025

 

Suara Sunyi

 

dalam sajak ini

tak tersisa gema

suara tak berkaca

hening tak bercermin.

 

diam-diam bergerak sajak

tanpa jejak di bumi

bagai bahasa tanpa bunyi.

 

cinta yang tak terungkap

meratap dalam harap

terungkap dalam diam

mungkin di tubuh malam

sajak tak pernah hilang.

Sumenep, 2025

 

Nyanyian Angin

 

angin, bawalah aku

pada getarmu yang gigil

tiuplah lukaku

di siur rendah tubuhmu

di langit ini aku hanya meratap

embusan rindu yang ragu

 

tiap kali kudengar

gema tubuhmu yang gentar

pada kelihaian waktu

telingaku kaku

dan mataku yang mengucur

bersedih menuruni pegunungan.

 

dalam embusanmu

selalu berderu keinginan

seperti suara janji

yang minta ditepati

agar desah hari ini

sanggup menaiki hari nanti.

 

demikianlah takdir pepohonan 

meniup tinggi suaramu

ranting dan dedaunan

merayakan kehendak batang

dan puisi akan selesai

di tengah haru pagi

dalam tubuh yang sunyi.

Solo, 2025

 

Suara Pancing

 

ikan macam apa yang hendak diharap

dari biru laut ketika angin ribut 

di matamu gelombang berdesakan

mendengar desah kail tak tersentuh

_menunggu selalu membuatmu acuh.

 

sejak terlempar jauh umpan dan harapan

buih yang riuh itu adalah masa depanmu

_buram oleh kesabaran

ketika pelampungmu ada sambaran

kau kira ikan besar, 

ternyata hanya hambar.

 

dalam kamus para pemancing

tak ada kata yang berharga

kecuali suara kemungkinan

_bermain kilau waktu

mengingat rupa kekasih

yang terlalu asin untuk diingat.

Sumenep, 2025

 

*)J. Akit Lampacak Lahir di Sumenep.  Alumnus Ponpes Annuqayah Daerah Lubangsa Utara. Tinggal di Laweyan, Kota Surakarta, Solo. Buku puisi tunggalnya bertajuk Lampang 2021. 

Editor : Amin Bashiri
sastra puisi