Ombak
pada saatnya buih itu sanpai ke matamu
seprti kerikil yang terlempar dari kaki masa kecil
tentu kau akan mendengar suara angin
seperti riuh burung pagi kehilangan mimpi
gemerciknya menggelinding mengaliri ruang sunyi
dalam bayanganmu tak ada ombak yang melukai hujan
dan anak-anak sungai di jantung musim
tak pernah mungkin sesak menelan asin.
Namun, tak ada yang mesti kau bayangkan
dingin bersuara malam, bersiur panjang
dan hidup telah terbuai kesenangan lain
tentu bagi ingatan ombak begitu dangkal
berlayar di atas ramalan nelayan dan para pemancing
saat pada jaring dan kail tak meniupkan keberuntungan
kau pun pulang sebagai buih yang tersesat di lautan.
apa yang mesti disempurnakan pada suara ombak ini
mengayuh waktu hanya cara paling berbahaya bagi kita
maka kita biarkan harapan bersandar
sebagai kemauan yang tak berkemudi.
Sumenep, 2025
Bahasa Musim
pada sunyi yang dingin
ia lahir meneteskan suara
berkembang riak
pada ranting dan air
gemercik terdengar
dari lidah sungai.
kita melahirkan kenangan
musim melahirkan jarak
kita tak mampu berteriak
ketika ladang mengering
kita pun berseling;
menyuarakan masa depan
bagi harapan yang dangkal.
begitulah kiranya
malam melahirkan bulan
siang memperluas kenangan
walau di bawah pepohonan
kita hanya dedaunan.
kita mendekati suara angin
senyap terdengar liar
seperti burung terbang.
dari ketinggian awan gemetar,
ada ilusi hujan dalam renta dunia
cuaca menggemma, musim bercerita
lebih manja dari bahasa kita.
Solo, 2025
Suara Sunyi
dalam sajak ini
tak tersisa gema
suara tak berkaca
hening tak bercermin.
diam-diam bergerak sajak
tanpa jejak di bumi
bagai bahasa tanpa bunyi.
cinta yang tak terungkap
meratap dalam harap
terungkap dalam diam
mungkin di tubuh malam
sajak tak pernah hilang.
Sumenep, 2025
Nyanyian Angin
angin, bawalah aku
pada getarmu yang gigil
tiuplah lukaku
di siur rendah tubuhmu
di langit ini aku hanya meratap
embusan rindu yang ragu
tiap kali kudengar
gema tubuhmu yang gentar
pada kelihaian waktu
telingaku kaku
dan mataku yang mengucur
bersedih menuruni pegunungan.
dalam embusanmu
selalu berderu keinginan
seperti suara janji
yang minta ditepati
agar desah hari ini
sanggup menaiki hari nanti.
demikianlah takdir pepohonan
meniup tinggi suaramu
ranting dan dedaunan
merayakan kehendak batang
dan puisi akan selesai
di tengah haru pagi
dalam tubuh yang sunyi.
Solo, 2025
Suara Pancing
ikan macam apa yang hendak diharap
dari biru laut ketika angin ribut
di matamu gelombang berdesakan
mendengar desah kail tak tersentuh
_menunggu selalu membuatmu acuh.
sejak terlempar jauh umpan dan harapan
buih yang riuh itu adalah masa depanmu
_buram oleh kesabaran
ketika pelampungmu ada sambaran
kau kira ikan besar,
ternyata hanya hambar.
dalam kamus para pemancing
tak ada kata yang berharga
kecuali suara kemungkinan
_bermain kilau waktu
mengingat rupa kekasih
yang terlalu asin untuk diingat.
Sumenep, 2025
*)J. Akit Lampacak Lahir di Sumenep. Alumnus Ponpes Annuqayah Daerah Lubangsa Utara. Tinggal di Laweyan, Kota Surakarta, Solo. Buku puisi tunggalnya bertajuk Lampang 2021.