Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Maulid Puisi: Sastra, Teater dalam Kehidupan Sehari-hari

A
Penulis: Amin Bashiri❯
Hidayat Raharja
Hidayat Raharja

Advertisement


Oleh HIDAYAT RAHARJA*


Advertisement

KOMUNITAS Sastra Sreseh (KSS) merupakan sekumpulan anak muda yang menggandrungi sastra. Mereka dengan berbagai kesibukannya berkomunikasi melalui media sosial untuk berkabar mengenai karya dan perkembangan sastra. Disebabkan cinta mereka berkumpul untuk berbagi cerita mengenai karya sastra (puisi) yang mereka ciptakan. Puisi menjadi jeda dari rutinitas harian mereka sebagai nelayan, pedagang, dan pengajar di pondok pesantren.

Salah satu kegiatan rutin untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruang bersama dilakukan saat bulan Maulid tiba. Mereka mengadakan Maulid Puisi, yaitu membaca puisi setelah membacakan salawat Sarafal Anam. Mereka merayakan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad dengan membacakan pujian terhadapnya, membaca puisi, serta berdiskusi tentang perkembangan sastra mutakhir.

Tahun ini saya bersama aktor Syamsul Arifin diajak mereka hadir dalam Maulid Puisi: Tubuh dan Bahasa Sehari-hari pada Jumat (27/8). Acara itu berlangsung pukul 19.30 hingga selesai. Saya diminta berbincang mengenai sastra, sedangkan Syamsul Arifin membahas tentang teater dalam kehidupan sehari-hari. Itu adalah cara yang sangat menarik. Sebab, Sreseh mengingatkan saya pada peristiwa 1994, saat pesantren di Pramian mendatangkan Emha Ainun Nadjib  dalam istigasah kubro Memperingati Satu Tahun Perisitwa Nipah.

Advertisement

Acara diawali dengan menyanyikan puisi karya KSS sembari menunggu seluruh undangan tiba. Pukul 20.00 acara dimulai dengan pembacaan puisi anggota KSS dan beberapa undangan. Kemudian, dilanjutkan pembacaan Sarafal Anam yang dipimpin Ketua KSS Tajullail Dasuki dengan iringan hadrah banjari dari anggota komunitas. Dalam sambutan yang singkat, Tajullail Dasuki menyampaikan bahwa Maulid Puisi merupakan satu-satunya acara KSS yang dilaksanakan setiap bulan Maulid.

Pelaksanaan saat ini memasuki tahun kedelapan. Artinya, aktivitas Maulid Puisi sudah berlangsung delapan tahun. Ketua KSS berharap sastra dan teater dekat dengan keseharian mereka. KSS juga bisa menjadi wadah untuk memfasilitasi kreativitas anak muda di Sreseh dalam bidang sastra dan kebudayaan.

Bulan purnama menatap dari langit malam. Ia terbit dari balik rindang pohon di halaman kantor Kecamatan Sreseh. Perbincangan yang sangat menarik membahas bagaimana menghidupkan sastra dalam kehidupan sehari-hari. Perbincangan santai, bercerita bagaimana sastra tumbuh di lingkungan kita melalui puji-pujian di langgar dan parsemon yang hadir dalam kehidupan masyarakat. Pada masa lalu, orang tua kita sering menggunakan parsemon ketika tidak suka terhadap sesuatu. Tujuannya, pesan mereka sampai tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Kedua, kehidupan sehari-hari merupakan sumber penciptaan dalam karya sastra. Sebab, karya sastra bisa bersumber dari lingkungan terdekat yang diolah dalam kreativitas menjadi dunia baru yang diciptakan pengarang. Pohon, sawah, ladang, laut, pasar, nelayan, pengalaman-pengalaman personal yang mengesankan meurpakan salah atau sumber inspirasi lahirnya karya sastra. Puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Namun, di dalamnya menyimpan  peristiwa yang berbeda tafsir dari setiap pembaca, sesuai pengalaman latar kultural.

Karya sastra yang bersumber dari lingkungan suatu ketika akan menjadi dokumen, tidak hanya menyimpan  keindahan, tapi juga menyimpan peritiwa di suatu tempat pada waktu tertentu. Ia bisa mengenang masa lalu atau kondisi masa kini dan pada suatu saat. Sebab, lingkungan terus tumbuh dan berkembang.

Akibatnya, apa yang semula ada dalam puisi atau karya sastra menjadi sesuatu yang tidak ada (punah) sehingga menjadi kenangan dan mengakibatkan seseorang mencari tahu tentang objek yang ada dalam  karya sastra. Mahwi Air Tawar memaparkan bahwa puisi-puisi D. Zawawi Imron tentang lalang, siwalan, laut, sawah, pantai akan menjadi kenangan berbeda ketika kita melihat laut pada saat ini.

Advertisement
Editor : Amin Bashiri
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Puisi J. Akit Lampacak

Puisi J. Akit Lampacak

pada saatnya buih itu sampai ke matamu seprti kerikil yang terlempar dari kaki masa kecil tentu kau akan mendengar suara angin seperti riuh burung pagi kehilangan mimpi gemerciknya menggelinding mengaliri ruang sunyi

Puisi Ririe Rengganis

Puisi Ririe Rengganis

Ibu selalu membawa laut di rambutnya....

Puisi M.Lailul Mubarok

Puisi M.Lailul Mubarok

Namun tak dengan kini Karena mulutku sudah terkunci Oleh gerakanmu yang dimainkan dalam sepi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer