Merdeka, di Perempatan Jalan Itu
di perempatan jalan itu
sesosok tubuh meringkuk menahan lebam kesedihan
kubaca paragraf kesenduan yang terpahat dengan tinta air mata, pada sorot mata yang tampak layu dan bibir kering terpapar cuaca
sekotak tempat koin terjejer di sebelah kain yang terhampar begitu saja
anak dara duduk manis dengan jemari lincah menatap boneka kecilnya
ia belum lagi mengerti, tentang terik, hujan, dan keluh yang berkecamuk di antara kerumunan
bahwa hidup sesungguhnya tak boleh sememilukan ini
peluh yang mengalir seusai upacara ini mengetuk rutuk
ah, tetiba ada perih yang menyembul
tatkala kenangan melayang menuju negeriku
di banyak perempatan jalan dengan gambar serupa
potret buram ini menampar degup keriaan
di antara pekik merdeka,
yang sebentar tadi
berkumandang di setiap perempatan
di negeriku, dan negeri-negeri jauh
MERDEKA (?!,.””#)
George Town, Penang, Malaysia 17082024
………………………………………………….
Heneng Hening Henung*
aku menjumpaimu di kala bulan sudah tergelincir menjauh
dua per tiga dini hari
wajahmu lindap di balik kelambu yang semakin temaram
kopi yang kujerang masih hangat
kepulan asap di atas mug tua ini lamat-lamat membentuk bayang yang mengharu
menemani persamuhan yang gagu
setelah puluhan purnama terpisah ruang dan waktu
pintu yang kaku
jendela yang bisu
langit-langit berwarna biru
lantai ubin yang membatu
menabalkan rindu yang tetiba membuhulkan isak yang terperam, lama
bantu aku
mengingatmu
mensyukuri adamu
menginsyafi peranku atasmu
amin!
Baca Juga: Sanja’na Agus Widiey; Bula Paggun Mole
Desasiswa Bakti Fajar Permai, USM, 15082024
*salah satu dari ‘pepali pitu’, tujuh dasar ajaran luhur filosofi hidup Sunan Drajat. Bahwa dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan meresapi & mencapai cita luhur dan permenungan kesejatian
………………………………………………….
Entah
kumandang khutbah siang ini
pelan-pelan menelusupkan sunyi yang abstrak
lautan manusia di depan mimbar merunduk khusyuk
entah apa yang bergema di setiap kepala
tapi rasanya hanya beberapa ayat saja yang tertangkup
lalu gerimis turun seusai terik yang menusuk
jalan mulai lengang, seketika
aku melipir ke sudut bangunan tua
jam sudah menunjuk pukul berapa lebih berapa
aku mengunyah entah
suatu yang tak tahu apa
aku tak berani bertanya
sekelilingku sibuk sendiri dengan pikirannya
pelan-pelan kueja lamat-lamat yang berputar di kepala
tentang luka, resah, dan juga cerita lama yang tak kunjung sudah
tak terhitung jumlahnya
satu yang kupercaya, setiap dera senantiasa meninggalkan jejaknya
lalu angin berembus sekejap saja
menghantar semacam kegaduhan di pelupuk mata, yang basah, terciprat air sisa rintik
ah. sekarang sudah pukul berapa
baiknya kuteruskan nanti saja
suatu yang tak tahu apa. entah!
Selasar Masjid Al Malik Khalid, USM, 09082024
………………………………………………….
Jendela 1
dengan apa aku akan merapal doa. pada titik-titik hujan yang singgah di jendela. satu per satu datang dan pergi. sepasang bola mata yang resah mengintai. di ujung ufuk yang semakin tergelincir. menunduk. terpekur. mengiris cemas yang seketika.
………………………………………………….
Jendela 2
dari balik jendela yang berdebu. sebuah nama terapal lirih. angin selat dan fajar menyingsing perlahan. sepi dari semenanjung jauh kini menghukumku. satu per satu kuhitung waktu. aku tahu, puan. cinta tak hanya menghadirkan pelangi. tapi juga amuk badai yang menggentarkan. kita telah melewati banyak musim. Namun sepertinya sisi gelapku lebih suka remang tanpa cahaya. tapi kau tetap setia di sana. menantiku. menemukan jalan pulang.
………………………………………………….
Baca Juga: Sanja’na Maswadi Kama: Tanges Ngasowar
Jendela 3
dari bening kaca yang sudah terseka kulihat dengan gagap sepotong siluet yang tak nyana dari kejauhan. mendung samar-samar mengintai hendak menutup hari yang kerontang. pada desir angin yang menyeringai, kutitip aroma senja yang lindap dengan gontai menuju pulang. air mata yang menetes acak di sela pipimu yang ranum adalah penanda. tak perlu membuncah jika pikirmu nyalang ke alam risau.
dunia memang begitu adanya, kekasih. sebab musim pun tak sama lagi. tak ada yang beredar tepat dalam pusaran mestinya. kita hanya perlu bersetia kepada segala kemungkinan. remang atau terang, sungguh, tak ada beda!
Asrama Desasiswa Bakti Fajar Permai, USM, 08082024
………………………………………………….
Achdiar Redy Setiawan
Pembelajar pada Jurusan Akuntansi Universitas Trunojoyo Madura yang sedang menempuh pendidikan doktoral pada The Center for Islamic Development Management Studies (Isdev), Universiti Sains Malaysia di Pulau Pinang, Malaysia. Penikmat sastra dan kajian seni budaya.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia