MH Said Abdullah, ”Fa’innahu Sakhiyyun”

Amin Bashiri • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 09:20 WIB
Mohammad Suhaidi
Mohammad Suhaidi
 
Mohammad Suhaidi, (Penulis Madura dan Dosen Universitas PGRI Sumenep)

 


“Ia [MH Said Abdullah] tidak segan-segan memberikan bantuan pada masyarakat yang serba kekurangan. Misalnya, memberikan bantuan sejuta pohon jarak, membagikan 150 ekor kambing, memberikan bantuan pada lembaga-lembaga pendidikan swasta tanpa melihat apakah lembaga itu sealiran dengan ideologi politik.” (Edhisetiawan, Januari 2012)


Setidaknya begitulah penggalan narasi tentang sosok MH Said Abdullah (MHSA) yang penulis temukan dalam teks tulisan bang Edhisetiawan (alm) dengan judul : “Said Abdullah (Jalan Panjang Pejuang Kebudayaan)”.  

Tulisan Bang Edhisetiawan ini, secara utuh mengapresiasi praktik transformasi nilai-nilai uswah hasanah dan kedermawanan yang dilakukan oleh MHSA dalam semua lintasan kehidupan sosial dan kebudayaan di Madura. Intinya, MHSA telah mampu memerankan dirinya sebagai sosok yang dapat memberikan manfaat nyata dalam kehidupan dan pembangunan masyarakat secara umum.

Sebuah hadist menegaskan dengan sangat gamblang ; manusia terbaik adalah ia yang bermanfaat terhadap manusia yang lain. “Khoirunnasi anfa’uhum linnasi”, begitulah bunyi teks arabnya. Subtansi hadist itu jelas sekali, mengajarkan tentang pentingnya memberikan manfaat kepada orang lain dan lingkungan sekitar. 

Agama mengajak setiap manusia untuk menjadi yang terbaik bagi manusia yang lainnya. Menebarkan manfaat (beramal salih) merupakan jalan sejati bagi siapapun; tak pandang bulu, tak pandang jabatan, tak pandang status sosial dan tak pandang kaya atau miskin. 

Karena menjadi bermanfaat itu, salah satunya bisa diukur dengan satu pertanyaan “apakah manfaat yang diberikan benar-benar dirasakan atau tidak?” Untuk MHSA, insyaallah, jawabannya sama : “masayarakat merasakan manfaat atas kiprah dan pengabdiannya”.

Tulisan ini mungkin saja dianggap terlalu subyektif, tetapi juga tetap membuka ruang untuk objektif. MHSA tetaplah manusia, yang tidak mungkin sempurna sesempurna mungkin. Subyektivitas dan objektivitas tetap ada dala membaca seorang tokoh, tetapi kiprah dan peran yang dilakukan oleh MHSA selama ini, lebih mendekati pandangan yang objektif.

Mencoba membaca tentang kapasitas seorang sosok MHSA, yang mulai melegenda, bukan saja karena ia seorang politisi, pejabat negara sebagai ketua Banggar DPR RI, bukan karena dia sebagai ketua DPD PDI-P Jawa Timur.

Tetapi yang jauh lebih penting adalah terletak pada kedermawanan yang menjadi ciri khas pada diri politisi asal Kota Keris ini. MHSA, Fainnahu Sakhiyyun yang berarti ia termasuk sosok yang sangat dermawan.

Rakyat lebih mengenalnya sebagai sosok yang suka berbagi, dan punya rasa empati yang tinggi dan memiliki perhatian terhadap wong cilik. Kira-kira begitu, tafsir  opini yang bisa simpulkan dari suara-suara masyarakat bawah tentang praktik sosial yang dilakukan oleh MHSA.

Transformasi kebaikan yang dilakukan oleh MHSA dalam berbagai bentuknya di tengah-tengah masyarakat, telah mampu memberikan dampak positif terhadap diri dan partai yang telah menjadi kendaraan perjuangannya selama ini. Karena partai pada hakikatnya buka tujuan, tetapi wasilah untuk mencapai tujuan luhur ; yang memberikan manfaat yang besar terhadap rakyat.

Istilah petugas partai yang menjadi pegangan setiap kader PDI-P, telah  mampu ditransformasi oleh MHSA menjadi petugas rakyat yang terus mencoba menghadirkan harapan dan senyum kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Bukan hanya mereka yang bekerja sebagai tukang becak, petani yang hidup di pelosok pedesaan, dan para guru ngaji yang dengan ikhlas dan tanpa pamrih menjadi sahabat berbagi MHSA.

Bingkisan sembako atau bentuk lain yang diberikan kepada masyarakat merapakan bagian dari cara MHSA berbagi kemanfaatan, yang diberikan kepada masyarakat tanpa pandang bulu. Hal itu menjadi salah satu bentuk nyata dari amal kebaikan yang dilakukan oleh sosok legenda politik Madura ini.

MHSA telah mampu mempraktekan teori virtue ethics (keutamaan moral) dalam kehidupan nyata. Teori ini menjelaskan bahwa kebaikan seseorang tidak hanya bisa dinilai dari praktik-praktik yang dilakukan, melainkan juga dari karakter baik yang sangat melekat pada dirinya.

Suka atau tidak, praktik “khoirunnasi anfa’uhum linnasi” yang dipraktekkan oleh MHSA pada dasarnya merupakan salah satu ciri ideal dari orang-orang yang suka memburu kebaikan.

Tentu saja, kebaikan yang diberikan oleh MHSA baik yang dilakukan kepada mereka secara personal maupun kelembagaan, adalah wujud nyata dari konsistensinya dalam menebar kemanfataan kepada umat. Prof Ahsin Sakho Muhammad, dalam bukunya “Oase Al-Qur’an Petunjuk dan Penyejuk Kehidupan (2020:72-73) memberikan gambaran tentang salah satu ciri mereka yang senang berburu kebaikan :”memberikan kepada orang lain apa yang bisa dia berikan ari berbagai kebaikan. Betapun demikian, hatinya tetap tidak tenang karena khawatir Allah tidak berkenan dengan apa dia lakukukan.”

Karena kebaikan yang selalu ditebarkan, nyaris semua lapisan sosial masyarakat di Madura, mengenal  MHSA sebagai sosok dermawan yang kaya, bukan hanya kaya harta dan jabatan, tetapi juga kaya perasaan sosial, kaya empati, kaya simpati dan kaya kebijaksanaan.

Perhatiannya terhadap masyarakat bawah semakin menjelaskan tentang latar belakang sosialnya yang benar-benar berangkat dari bawah. MHSA besar dan sukses dalam karir politik dan jabatan setelah hijrah ke Ibu Kota, karena usaha dan perjuangannya sendiri memang berangkat dari titik nol.

Ibarat rumput, MHSA adalah rumput yang mampu tumbuh di tengah lahan yang tandus dan keras, bukan rumput yang tumbuh subur di atas tanah rawa. Ia mampu tumbuh dengan ketangguhan, dan tetap kuat bertahan dalam keterbatasan. Itulah yang membentuk karakter kuat pada diri MHS sebagai pribad yang sakhiyyun.

Kedermawanan yang menjadi karakteristik MHSA, salah satunya dibentuk oleh latar belakang sosial yang dilalui sejak kecil di Sumenep; ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan, pengalaman hidupnya memang tidak jauh beda dari kondisi wong cilik yang sebenarnya, karena sosok yang lahir pada 22 Oktober 1962 ini, memiliki pengalaman hidup yang benar-benar keras ; pernah menjadi tukang cuci mobil dan sales kripik tempe, sebelum akhirnya takdir politik menempatkannya sebagai wakil rakyat di DPR RI dari dapil Madura. Nyaris setiap Pileg, MHSA selalu mendapatkan kepercayaan untuk tidak tergantikan sebagai anggora DPR RI. Tentu saja, faktornya tidak sederhana. Kedermawanan MHSA menjadi salah satu kunci utama keberhasilannya dalam menarik simpati masyarakat Madura.

MHSA dan Ekosistem Kedermawanan

Praktik kedermawanan yang dilakukan oleh MHSA begitu nyata. Bentuknya ada. Masayarakat tidak memungkiri. Kedermawanan pada hakikatnya merupakan puncakdari keutamaan karakter Sebagai politisi, MHSA tidak tidak pandai berjanji, tetapi pandai berbagi manfaat, baik rejeki yang dimiliki maupun berbagi akses program dalam pembangunan Madura.

Karena konsistensi ini, MHSA mampu menciptakan ekosistem kedermawanan yang kongkrit di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, MHS bukan hanya dikenal masyarakat bawah, tetapi juga dikenal dan dekat dengan para ulama, kiai dan guru ngaji.

Tentu saja, kedermawanan MHSA tidak hanya dapat dilihat dari aktivitas berbagi zakat mal, sedekah, maupun bantuan sembako yang diberikan cukup banyak dan merata. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah praktik kedermawanan MHSA telah dilakukan dengan dalam bentuk yang unik melalui relasi sosial yang rahmah : karena MHSA mampu membangun eksosistem kedermawanannya dalam bentuk kepedulian personal, kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan dan penguatan solidaritas sosial yang menggambarkan filosofi kebudayan Madura : “rampak naong beringin korong.

Praktik kedermawanan itu, telah melekat menjadi ciri khas dalam diri MHSA. Nyaris tidak pernah luntur. MHSA kerapkali hadir menjadi sosok ideal yang terus setia pada jalan suci “berbagi dan berbuat” untuk masyarakat dan Indonesia secara umum.

Berbagai kegiatan sosial yang menjadi ekspresi dari kedermawanan itu, kerapkali dilakukan dalam bentk penyaluran zakat mal setiap Ramadan, bantuan kepada tukang becak, ojek online, pedagang kaki lima, santunan untuk keluarga miskin, dukungan terhadap guru ngaji, hingga pengembangan fasilitas pendidikan dan kesehatan, telah menjadi bukti nyata transfomasi nilai-nilai kedermawanan yang dilakukan oleh MHSA.

Oleh karena itu, praktik kedermawanan yang dilakukan oleh MHSA, tidak semata-mata hanya dilakukan sebatas tindakan yang sesaat, melainkan juga telah dilakukan dengan satu konsep ekosistem kedermawanan yang mampu menghidupkan jaringan kepedulian sosial yang kuat.  Dengan itu, MHSA terus berkibar.

Namanya tidak hanya sekedar menjadi sosok politisi dan pejabat, melainkan telah menjadi pelopor kedermawanan yang nyata. Praktik kedermawanan yang dilakukan sepanjang waktu, telah dirasakan bukan hanya pada angka, jumlah dan  bentuk kepedulian yang diberikan oleh MHSA, tetapi publik hari ini, telah merasakan dampak sosial yang terlihat oleh mata telanjang.

 Salah satunya, kepedulian MHSA terhadap dunia pendidikan, yang kemudian dilakukan dengan cara mendirikan lembaga pendidikan jenjang sekolah dasar bertaraf internasional yang terknal dengan nama Fathimah International Elementary School (FIES) dan kepekaannya terhadap dunia kesehatan. Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep, menjadi lembaga kesehatan berkelas dengan fasilitas mewah yang didirikan MHSA untuk membangun masyaraka yang sehat.

Dua lembaga berkelas ini, dalam prakteknya tidak hanya untuk kalanga masyarakat berkelas, tetapi dapat dimanfaatkan oleh semua kelas, termasuk kelas wong cilik yang memang menjadi agenda perjuangan MHSA sepanjang waktu. FIES dan RS BHC menjadi bagian dari konstribusi besar pemikiran dan kedermawaban MHS untuk Sumenep, Madura dan Indonesia.

FIES khususnya, telah menjadi simbol pembelaan pendidikan nyata tehadap masyarakat lokal, karena FIES menjadi pusat pendidikan dengan layanan pendidikan gratis untuk memberikan jaminan akses pendidikan dengan kualitas internasional bagi kalangan masyarakat kurang mampu. FIES bisa dianggap sebagai sekolah rakyat yang benar-benar berasal dari,  oleh, dan untuk rakyat.

Akhirnya, peran dan kiprah kedermawanan MHSA dalam rekam jejak perjalanannya telah terbukti memberikan dampak kemanfaatan yang luar biasa. Kiprah dan peran sosial kedermawanan itu, telah melegitimasi posisi sosial MHSA yang sangat kuat di mata rakyat dalam semua lapisan. Tahun ini, pada  22 Oktober 2026, MHS telah memasuki umur yang ke-64.

Angka ini menjadi penting, karena bukan hanya menjelaskan tentang usia sang legenda politik ini dilahirkan, tetapi juga menjadi bukti perjalanannya yang cukup panjang an lama dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Selamat ulang tahun Bang MHSA. Semoga tetap dalam ma’unah dan hidayah-Nya dalam melanjutkan perjuangan menjadi sosok yang benar-benar bermanfaat kepada rakyat!

Editor : Amin Bashiri
MH Said Abdullah opini