Brida Bedah Potensi Daerah lewat Riset Kampus

Amin Bashiri • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:31 WIB
FOKUS: Kepala Brida Sumenep Siswahyudi Bintoro (depan baju cokelat) saat melakukan rapat bersama para pihak di kantornya.
FOKUS: Kepala Brida Sumenep Siswahyudi Bintoro (depan baju cokelat) saat melakukan rapat bersama para pihak di kantornya.

SUMENEP, RadarMadura.id – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Sumenep menggandeng perguruan tinggi untuk membedah potensi dan persoalan daerah melalui riset strategis. Sepanjang 2026, kajian yang dilakukan mencakup pengembangan produk unggulan, ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, hingga penguatan iklim investasi.

Kepala Brida Sumenep Siswahyudi Bintoro mengatakan, sejak awal tahun pihaknya melibatkan 16 perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar Kabupaten Sumenep.

 Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi pijakan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang lebih terarah dan berbasis data.

Dari 16 perguruan tinggi tersebut, empat di antaranya menghasilkan policy brief atau ringkasan rekomendasi kebijakan. "Keempatnya adalah Universitas Merdeka Malang, Universitas Jember, Universitas Islam Negeri Madura, serta Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya," katanya.

Universitas Merdeka Malang mengkaji kelayakan pengembangan kawasan produk unggulan di Sumenep. Kajian tersebut bertujuan memetakan potensi daerah agar pengembangan komoditas unggulan dapat dilakukan secara terencana dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Sementara itu, Universitas Jember meneliti model pengembangan ketahanan pangan berbasis food-energy-water nexus. Pendekatan tersebut mengintegrasikan aspek pangan, energi, dan air untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pendapatan asli daerah (PAD).

Universitas Islam Negeri Madura menganalisis faktor penguatan ekonomi masyarakat dalam menurunkan angka kemiskinan. Adapun Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya mengkaji penguatan ekosistem investasi daerah melalui peta potensi digital.

"Kajiannya diarahkan untuk meningkatkan daya saing investasi sekaligus mengendalikan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) daerah," jelas Bintoro.

Selain empat perguruan tinggi tersebut, 12 perguruan tinggi lainnya menghasilkan executive summary atau ringkasan hasil kajian. Mereka meliputi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Kampus Sumenep, Universitas PGRI Sumenep, Universitas Annuqayah, Universitas Wiraraja, Universitas KH Bahaudin Mudhary, dan Universitas Al-Amien Prenduan.

Berikutnya, Institut Kariman Wirayudha, Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni, serta Sekolah Tinggi Agama Islam Nurud Dhalam.

Salah satu kajian yang menyentuh persoalan sosial dilakukan Sekolah Tinggi Agama Islam Nurud Dhalam. Perguruan tinggi tersebut mengangkat program sosialisasi dan edukasi perlindungan hukum bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Desa Ganding, Kecamatan Ganding.

Bintoro menegaskan, pelibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam memperkuat fungsi riset dan inovasi daerah. Kajian akademis diharapkan dapat membantu pemerintah menentukan program pembangunan sesuai dengan potensi dan persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Melalui kajian yang dilakukan secara akademis, pemerintah daerah memiliki bahan pertimbangan untuk menentukan program pembangunan sesuai potensi dan persoalan yang dihadapi masyarakat," imbuh Bintoro. (iqb/han)

Editor : Amin Bashiri
brida sumenep riset kampus