Oleh AHMAD MUHLI JUNAIDI*
SEHABIS acara Service Learning Initiatives (SLI) yang diselenggarakan melalui gagasan Kiai Moh. Khatibul Umam (MKU) di SMA 3 Annuqayah, saya mampir di Kebun Konservasi Assalam dalam rangka pulang ke Dusun Tanggulun, Montorna. Hakikatnya, tak terhitung ke berapa kali saya mampir, sambil leha-leha dan numpang mandi, lalu salat di musala kebun milik PP Annuqayah tersebut. Namun kali ini, seperti ada dorongan kuat untuk kembali mampir. Untungnya, waktu itu ada adik Ahmad, sang pemelihara kambing etawa milik Kebun Assalam. Tiba-tiba ia ngomong, ”Neserra kebbun neka, Ka’, se ngagunge ampon songkan abit.” (Kasihan kebun ini, Kak, sang penjaganya sakit lama).
Deg, hati saya tiba-tiba berdesir. Saya urai pelan-pelan ucapan Dik Ahmad tak lama setelah ia kembali ke kandang kambingnya. Saya tafakuri setiap kata dari ucapan itu. Nyata benar, mata ini semakin sendu dan semakin sayu. Apalagi setelah menyapu halaman gubuk dan menyaksikan teduhnya petilasan serta tempat sujud di bawah rindangnya pepohonan. Hati ini semakin terhanyut dalam kesunyian sore hari, Senin 16 Juni lalu. Aeng mata agarabas ta’ ekarassa(air mata terjatuh tanpa dirasakan).
Itulah rawatan tangan dingin yang mulia Kiai Khomaidy Ch. Rawatan itu berwujud konservasi alam berupa kebun yang terdiri atas pohon jati, mahoni, mangga, jambu monyet, akasia, dan porang. Kebun itu tak kurang dari 4 hektare (luas total hutan Assalam milik Annuqayah 15 hektare, Red) berada di Dusun Prancak, Desa Prancak, Pasongsongan. Kebun itu telah membantu tanah gersang dan mati menjadi tanah hidup.
Seluas 4 hektare lebih, kini menjadi hutan konservasi yang benar-benar membantu ekosistem baru sehingga binatang-binatang pun turut senang. Kok bisa? Sore itu, saya didendangkan kicauan pranjak, murai, tekukur, perkutut, kutilang, dan siulan kera hutan pinggir selatan. Bahkan, manusia di sekitarnya pun berasa diuntungkan berkat sumur bor yang diinisiasi Kiai Homaidy Ch.
Namun, malam harinya, sekitar pukul 22.30 WIB, di grup WA Guru SMA 3 Annuqayah, berita duka berkelindan hadir. Pertama dari Kiai Irfan Azhim, disusul kabar duka yang diteruskan para guru. Isinya ”Kiai Homaidy Ch telah wafat”. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Rupanya, bincang sebentar dengan Dik Ahmad, dan selonjoran kaki di musala itu, adalah bertanda bahwa ahli rawatnya akan menuju haribaan Sang Mahakekal, malam nanti.
Wafat di RSI Garam Kalianget, dengan menderita penyakit jantung koroner, yang gejalanya sudah cukup lama beliau sandang. Rupanya, Kemah Alam yang diselenggarakan PSG SMA 3 Annuqayah pada bulan Maret adalah kemah terakhir yang beliau kawal. Waktu itu, saya berbincang cukup lama. Fokus perbincangan tak jauh-jauh dari konservasi alam. Sambil saya bawakan tembakau asli Tanggulun, beliau sangat berharap agar konservasi ini terus dikelola dengan baik. Seakan berwasiat kepada saya, ”Pasera enggi, Pa’ Li, badha orang se gate tor neser dha’ alam lingkungan kita, saamponna kita tadha’?” ujar beliau berat. (Siapa ya, Pak Li, ada orang yang punya perhatian besar pada lingkungan alam setelah kita wafat?). Rupanya, ucapan beliau ini pun tanda bahwa tak lama lagi akan meninggalkan alam ini.
Bincang itu terjeda oleh suara MC acara Kemah Alam, yang menugaskan saya agar memimpin tahlil. Padahal, sejujurnya saya sangat tidak rela terjeda dalam setiap perbincangan santai dengan beliau. Sebab, dalam untaian kata-kata dari bibir beliau yang perokok linting berat, selalu tersemat hikmah dan motivasi kehidupan.
Kebun Assalam yang sudah berupa hutan lindung itu, sejatinya bukan hanya konservasi lahan tandus berubah menjadi lahan produktif. Tapi, juga berupa pedepokan batik, sekolah alam, dan tempat kontemplasi diri.
Berapa banyak manfaat bagi peserta kursus batik, yang beliau ajarkan dengan telaten. Sungguh jumlah yang tak terhitung hingga mereka punya bekal kemandirian ekonomi dengan cara membatik di tempat asal masing-masing. Demikian pula anak-anak di tingkat sekolah dasar yang memperoleh manfaat abadi atas gagasan Kiai Homaidy Ch terkait memanfaatkan alam dan sumber daya terbarukan. Bagaimana pula bersikap sebagai khalifah di bumi dalam berinteraksi bersama lingkungan alamnya. Semua diejawantahkan dalam sekolah alam setiap Jumat sore.
Bagi Anda yang mengalami kejenuhan hidup di kota, atau riuh rendah kebisingan sosial media, sampai-sampai Anda stres misalkan, singgah di tempat itu akan mengobati segala tekanan yang ada di dalam diri Anda. Jika butuh sedikit lebih sunyi, Anda bergeser ke selatan sekitar 200 meter. Dari tempat ini, suara kendaraan bermotor, kecuali yang knalpot bodong, tak akan terdengar lagi. Sungguh, nuansa kontemplasi yang hipnotis. Silakan dicoba saja, agar Anda tak penasaran.
Semuanya itu adalah kontribusi yang digagas Kiai Homaidy Ch sejak puluhan tahun yang lalu. Dan, saat ini, beliau meninggalkan untuk selamanya Kebun Assalam. Jejak yang ditorehkan beliau bersama Ibu Mus’dah Amien, Dik Ahmad, Dik Syahirul Alim, dan pengurus Balai Pengabdian Masyarakat (BPM) PP Annuqayah, selalu terawat dengan baik. Sebab, rawatan terbaik dari generasi yang masih hidup inilah jejak abdi beliau dapat dirasakan. Dan akan selalu mengalir ke haribaan Kiai Homaidy Ch sebagai amal jariah.
Selamat jalan sang kiai alam. (*)
*)Guru SMA 3 Annuqayah
Editor : Dafir.