Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Prioritaskan Dirimu dengan Kata Tidak

Amin Basiri • Minggu, 7 Juni 2026 | 07:15 WIB
The Art of Saying No Oleh  Damon Zahariades
The Art of Saying No Oleh Damon Zahariades

 

Judul buku    : The Art of Saying No
Pengarang    : Damon Zahariades
Penerbit    : Baca 
Cetakan    : 1 Juli 2025
Tebal         : 184 Halaman
ISBN        : 978-623-8371-48-8
Peresensi    : Khafiatul Jannah

 

KATA tidak adalah kata yang cenderung dihindari oleh seseorang ketika dihadapkan pada pilihan yang mengharuskan untuk membantu orang lain. Alasannya, kata tidak memiliki peran harga diri (self-esteem) yang rendah. Hal itu membuat kita cenderung ingin menyenangkan orang lain.

Sebagian besar dari kita telah tertanam keyakinan bahwa kata tidak adalah sifat yang egois dan kasar. Hal tersebut dianggap memiliki nilai yang sangat penting bagi sistem nilai kehidupan. Padahal jika direnungkan kembali, kata tidak mengandung makna penting untuk mengedepankan prioritas diri kita sendiri di atas prioritas orang lain.

Damon Zahariades dalam buku ini mengungkapkan bahwa “Ketika kamu memprioritaskan kebutuhan kamu di atas kebutuhan orang lain, beberapa orang terus memaksamu mengikuti kemauan mereka.

Mereka tidak akan mau menerima jawaban tidak.” (hlm. 17). Kasus inilah yang menyebabkan kita takut untuk mengatakan tidak dan menyetujui permintaannya dengan terpaksa. Hal itu dilakukan agar kita tidak terjerumus dalam konflik, konfrontasi, ataupun permusuhan karena orang tersebut akan bersikap egois dan memaksakan kehendaknya pada kita. Padahal, kita mempunyai pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Memprioritaskan diri kita sendiri adalah hal yang paling dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Jika kita adalah orang yang senang berusaha bersikap penuh belas kasih dan murah hati dalam setiap hal yang dilakukan, kita akan tetap mengatakan iya meskipun harus megorbankan diri sendiri dalam kepahitan.

Misalnya, menunda untuk merampungkan tugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu mendesak demi membantu orang lain. Di sinilah kita akan beranggapan bahwa menolong orang lain adalah hal yang melelahkan dan kita akan kecewa sehingga dengan kekecewaan itulah kita cenderung enggan menolong orang lain lagi.

Akan tetapi, jika kita bersikap tegas untuk mengatakan tidak, sebetulnya akan menolong kita dari kekecewaan tersebut dan secara otomatis akan menyelesaikan tugas kita sendiri yang mungkin sebelumnya sempat tertunda.

Dari konflik itulah, penulis memberikan solusi yang tegas untuk berani mengatakan tidak, entah itu kepada keluarga, teman dekat, rekan keja, maupun orang lain. Dengan demikian, kata tidak memiliki risiko yang harus dikorbankan untuk memprioritaskan diri kita sendiri di atas prioritas orang lain.

Akan tetapi, bukan berarti penulis memerintahkan kita untuk mengabaikan orang lain, tetapi mengajarkan kita agar tetap bersiaga merespons orang-orang yang meminta bantuan dengan sikap yang tegas dan sopan. Tegas adalah sikap bahwa kita yakin dengan keputusan yang diambil, sedangkan sikap sopan adalah bukti kehormatan yang ditunjukkan kepadanya.

Dengan begitulah orang-orang juga akan menghargai kita. Sebagaimana yang dikatakan Greg McKeown, “Jika kamu tidak memprioritaskan dirimu, orang lain akan memprioritaskan dirinya atas hidupmu.” Sebab, belum tentu mereka mengerti atau menghargai kita, hanyalah kita sendiri yang dapat melakukannya.

Maka, kita perlu belajar mengatakan tidak dengan tegas dan sopan, yaitu dimulai dengan penolakan kecil dalam situasi rendah. Percobaan ini memungkinkan kita untuk perlahan membangun kepercayaan diri. Maka, biarlah kebiasaan ini mengakar dalam pikiran, karena “Makin kuat kepercayaan diri dan keyakinanmu terhadap dirimu sendiri, makin mudah bagimu untuk mengatakan tidak kepada orang lain. Bahkan ketika mereka marah, mendesak, dan manipulatif secara emosional.” (hlm. 137).

Buku ini sangat cocok dibaca kalangan remaja maupun dewasa yang tengah berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan mereka yang selalu merasa berat hati untuk mengatakan tidak. Selain itu, Damon menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti sehingga para pembaca tidak akan bosan. Apalagi, buku ini mencakup esai yang berisi pengalaman penulis dan contoh-contoh yang dibuat unik dan menarik sebagai gambaran bagi para pembaca. (*)

*)Ketua Perpustakaan PP Annuqayah Lubangsa Utara Putri sekaligus ketua Sanggar Sareang MA 1 Annuqayah Putri periode 2025–2026, calon mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Editor : Amin Basiri
#The Art of Saying No #Damon Zahariades #resensi