
Cerpen A. MUNDZIR AR.
DIA ingin aku ikut serta dalam olimpiade tembak-menembak yang diadakan antarnegara tahun ini. Namun, dia memberitahuku bahwa di final aku harus mengganti peluruh karet yang juri kasi kepada peluruh asli. Lantas dengan jiwa profesional yang kumiliki, aku menuruti permintaannya. Ia memberi tahu target yang harus kubasmi dalam lomba ini. Dan karena ia menjadi salah satu peserta, maka ia ingin aku membunuhnya ketika pertandingan pula.
“Kau bisa membunuhnya di olimpiade yang dia ikuti tahun ini, gunakan otak licikmu untuk mendaftar, lantas membunuhnya di sana.” Ucapnya malam itu melalui telepon.
Tanpa mengetahui identitasnya, dan memang dalam kesepakatan, kami tak perlu mengetahui identitas satu sama lain. Lantas aku pun mengiyakan permintaannya. Tepat ketika kami sama-sama sampai di final, aku membalik arah pistol yang kugenggam tepat ke arah jidatnya, setiap orang yang menonton di podium sontak menutup matanya ngeri, melihat otaknya berhamburan di udara. Badannya kini tersungkur di atas lantai yang kasar, ia tampak seperti ayam yang tepar baru saja disembelih di sebuah kondangan. Bunyi sirene polisi meraung di mana-mana. Namun, lagi-lagi karena aku adalah pembunuh bayaran profesional, tak mungkin mereka dapat menangkapku dengan mudah.
Asap mengepul di sekitar sebelum akhirnya polisi itu tiba ke arahku. Mereka keluar dari mobil dengan pistol yang mengarah entah pada siapa. Salah satu polisi melesatkan peluruhnya sembarang, peluruh itu tepat pada sasaran yang berada pada jarak 10 meter. Penonton memperhatikan kelakuan mereka yang pusing di lapangan mencari keberadaan diriku, seolah sedang berada dalam pertunjukan sulap dan sedang disaksikan oleh ratusan ribu penonton.
“Cari di pojok-pojok, jangan sampai ketinggalan sedikit pun.” Salah-satu dari mereka mengomando.
“Siap komandan.”
“Kita cukup kemalingan bahwa dia adalah pembunuh yang dicari saja. Tak boleh lebih,” tambahnya.
Penonton diiring petugas keluar podium. Aku menyaksikan mereka dengan tenang di sini. Misiku sudah selesai, maka aku sudah tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya butuh jepretan kamera sebagai bukti pada klien bahwa aku telah selesai dengan tugasku dan tinggal menunggu deretan angka masuk dalam rekeningku.
***
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




