SUMENEP, RadarMadura.id – Koran yang dipajang di depan posko tempat orang tua bertemu santri itu menjadi tempat santri untuk singgah. Di papan informasi tersebut mereka membaca koran Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Santri-santri silih berganti datang dan pergi.
Dua mading itu berdiri tegak di balik tembok plakat Pondok Pesantren Annuqayah Latee. Santri yang lalu-lalang tidak sedikit yang mampir atau memang menuju tempat tersebut untuk membaca. Kibaran bendera Merah Putih menjadi saksi kecintaan mereka dalam dunia membaca.
Seorang dari sekian santri yang membaca koran itu adalah Majdi. Minggu (30/7) siang itu, dia mengenakan kemeja batik, kopiah, dan sepatu yang serbahitam. Tas kantong bertulis ”Annuqayah” yang menggantung di bahu kiri juga menemani saat membaca setiap tulisan di rubrik Seni dan Taneyan.
Selain suka membaca, santri asal Desa Banjar Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep, itu juga suka menulis. Sesekali dia mencatat menggunakan bolpoin ke telapak tangan kiri.
Santri dan literasi seperti dua sisi mata uang. Waktu santri digunakan untuk membaca dan menulis. Beragam kitab dibaca dan dikaji serta diterapkan dalam kehidupan.
Dari rahim pondok pesantren inilah lahir sosok yang memiliki keahlian di banyak bidang. Termasuk penulis dan sastrawan. Salah satu lembaga yang banyak melahirkan penulis itu Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. (luq)
Editor : Ina Herdiyana