PAMEKASAN, RadarMadura.id – Calon jemaah haji (CJH) yang akan berangkat tahun ini didominasi lanjut usia (lansia).
Oleh karena itu, pendampingan dan fasilitasi CJH pada penyelenggaraan ibadah haji 2026 akan difokuskan kepada lansia.
Anggota Komisi VIII DPR RI Ansari menyatakan, pendekatan ramah lansia dalam penyelenggaraan haji 2026 bukan sekadar slogan.
Kebijakan itu diterjemahkan dalam penambahan dan penguatan peran petugas di lapangan.
”Karena mayoritas lansia, pelayanan harus menyesuaikan. Pendampingan diperkuat agar jemaah merasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Keterlibatan petugas perempuan mencapai 33 persen. Komposisi tersebut dinilai strategis untuk membantu kebutuhan jemaah.
Khususnya, bagi jemaah haji lansia perempuan yang memerlukan perhatian khusus selama menjalankan rangkaian ibadah.
Politikus PDIP Perjuangan itu mengingatkan jemaah agar tidak membawa barang yang dilarang, termasuk peralatan masak seperti rice cooker.
Sebab, seluruh kebutuhan konsumsi telah difasilitasi pemerintah.
”Tidak perlu membawa peralatan masak atau lainnya. Karena, di bandara pasti akan dikembalikan. Pemerintah sudah menyiapkan semuanya. Termasuk, makanan dengan ciri khas Indonesia,” tegasnya.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Pamekasan Abdul Halim menyatakan, kebijakan haji 2026 menggunakan pendekatan layanan yang berpusat pada jemaah.
Skema disusun menyesuaikan kondisi jemaah yang mayoritas lansia.
”Layanan (haji, Red) dibuat lebih fleksibel, pendampingan diperkuat, dan fasilitas lebih aksesibel agar jemaah lansia tetap aman dan nyaman selama melaksanakan ibadah,” kata Halim pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Senin (16/2).
Dia menegaskan, lansia menjadi kelompok prioritas bersama perempuan dan disabilitas.
Menurut dia, seluruh kebijakan diarahkan untuk mendukung Tri Sukses Haji. Yakni, sukses ritual, sukses layanan, dan sukses peradaban. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti