PAMEKASAN, RadarMadura.id – Musim panen tembakau di Pamekasan tidak selalu membawa cerita manis bagi petani. Sebagian petani memang telah menyelesaikan musim panen hingga rajangan kering masuk gudang.
Namun, tidak sedikit yang memilih jalan pintas. Yakni, melepas hasil panen dengan sistem tebbas baba. Yaitu, menjual tembakau langsung di sawah tanpa dipetik atau dirajang lebih dulu.
Fenomena itu kian marak seiring dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan yang turun di tengah musim panen membuat kualitas daun menurun. Harga beli di pasaran pun ikut jatuh. Situasi ini membuat banyak petani lebih memilih menjual secara utuh di lahan meski harga yang didapat jauh dari harapan.
Seperti yang dialami Lasip, petani tembakau asal Dusun Tlangi 1, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru. Dari lima lahan miliknya, empat lahan dijual dengan harga Rp 8 juta dan satu lahan lainnya dilepas Rp 1,7 juta. Menurutnya, keuntungan memang tidak besar, tetapi setidaknya sudah melebihi modal.
”Lebih aman dijual langsung, daripada dipaksa panen sendiri tapi malah rugi,” ujarnya.
Keterbatasan biaya menjadi alasan utama. Dia menyebut, untuk merajang tembakau, Lasip membutuhkan tenaga kerja tambahan. Sementara di desanya, tidak ada kelompok tani (poktan) yang memiliki mesin perajang.
Kondisi itu berbeda dengan daerah lain yang sudah difasilitasi mesin modern sehingga petani bisa mengolah daun emas hingga siap dijual ke gudang. Selain faktor finansial, cuaca yang kerap berubah juga menambah risiko.
Daun yang sudah dipetik bisa rusak jika hujan turun tiba-tiba. Jika kualitas menurun, harga rajangan otomatis terjun bebas. Karena itu, sistem tebbas baba dianggap sebagai langkah paling realistis, meski keuntungan tipis.
Nasib serupa dialami Ahmad, petani di desa yang sama. Dia lebih dulu menjual tembakau di lahannya dengan harga Rp 5 juta. Baginya, pilihan tersebut adalah jalan tengah.
”Yang penting lebih dari modal. Kalau dipaksakan panen sendiri, biayanya kemungkinan bisa sangat membengkak,” katanya singkat.
Fenomena itu mengindikasikan dilema yang dihadapi petani tembakau Pamekasan. Potensi keuntungan besar sebenarnya ada jika panen dilakukan tuntas. Namun, tanpa fasilitas pendukung, pilihan itu bisa berubah menjadi bumerang. Akhirnya, petani lebih memilih melepas lahan mereka kepada pembeli dengan harga yang sudah pasti.
Kondisi ini juga membuka kesenjangan antarwilayah. Di kecamatan lain, kelompok tani sudah memiliki mesin perajang sehingga lebih percaya diri mengolah hasil panen. Sementara di Waru, petani harus mengandalkan sistem manual. Akibatnya, jalan tebbas baba lebih sering ditempuh.
Namun, bagi petani seperti Lasip dan Ahmad, mensyukuri setiap hasil yang ada tetap menjadi pegangan. Meski hanya sedikit, hasil panen kali ini masih bisa menutup modal dan menyisakan keuntungan. Bagi mereka, daun emas tetaplah rezeki yang patut dijaga, meski harus dilepas lebih cepat dari harapan. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti