PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sayuran kangkung tentu sudah sangat familier di kalangan masyarakat Indonesia.
Bahkan, sudah biasa menjadi pelengkap hidangan di meja makan. Perawatannya pun terbilang gampang-gampang susah.
Ladang yang hanya sekitar delapan meter persegi di seberang warung kelontong itu ditanami sekitar empat ribu kangkung.
Lokasinya terletak ke arah selatan dari SDN Murtajih 1 dengan jarak sekitar dua kilometer.
Tanaman itu milik Nur Laily, warga Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.
Laily baru pertama menanam sayur dengan nama ilmiah ipomoea aquatica ini.
Namun, sepertinya perempuan alumnus Universitas Madura (Unira) ini sudah memahami perihal kangkung ini.
Penanaman dimulai dengan menyiapkan lubang sedalam 1,5 sentimeter dan jarak antar bedengan berkisar 20 sentimeter.
”Kalau bibitnya beli di toko pertanian dekat dari sini, lokal itu,” kata Laily.
Penyiramannya bisa dilakukan sehari sekali dengan volume airnya yang banyak. Bisa disiram selama lima hari sekali dengan melebihi dari bedengan sayuran kangkung itu.
Hal itu supaya sayuran kangkung yang ditanam bisa segar saat waktunya panen.
Dan kandungan air pada akar lebih banyak sehingga tidak masalah apabila penyiraman tidak dilakukan setiap hari.
”Kalau kekurangan air, daunnya layu,” jelas Laily.
Dia mengingatkan, rumput liar menghambat perkembangan kangkung menjadi tidak sempurna.
Karena itu, harus rajin menyemprotkan pestisida. ”Paling parah itu kalau ada rumput liar yang tumbuh,” jelas Laily.
Sementara pupuk dia menggunakan urea, phonska, dan ZK. Agar daun kangkung lebih besar dan segar bisa diberi obat perangsang.
Dalam sebulan bisa panen hingga 10 kali. Panen pertamanya bisa dilakukan setelah 40 hari dari masa tanam.
”Panen selanjutnya itu semakin bagus asalkan perawatannya juga maksimal,” ucap Laily.
Koordinator Penyuluh Kecamatan Pademawu Intan Pratiwi mengatakan, pupuk kangkung bisa menggunakan merek apa saja.
Asalkan unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) tinggi dan berimbang.
”Untuk perawatan yang terpenting rutin melakukan pemupukan dan cukup air,” ujarnya.
Saat petani lain menanam tembakau atau dikenal, Laily memilih tanaman kangkung. Hasil pertaniannya banyak diburu konsumen.
Terutama para peternak kelinci. Sebab, di daerah tersebut sebagian warganya selain menjadi petani juga beternak kelinci.
”Di sini banyak yang beternak kelinci, makanya saya menanam yang juga bisa laku keras kepada para warga. Mau yang berbeda soalnya,” ucap Laily sambil tersenyum.
Sistem penjualan menggunakan hitungan setiap bedeng. Dengan harga mulai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu sesuai dengan panjang bedengan. Total panen pertama bisa mencapai Rp 2 juta.
”Senang saja bergelut di usaha pertanian meskipun pas kuliah dulu jurusan akuntansi, mungkin karena memang wilayahnya juga bergerak di bidang tani,” terangnya.
Dia berharap, setelah ini semakin banyak petani yang juga menanam tanaman hortikultura ini yang hasilnya juga memuaskan.
Asalkan, bisa tekun, ulet, dan tidak puas atau capaiannya yang diraih.
Dia juga terkadang membagi-bagikan tanaman kangkungnya tersebut kepada warga sekitar. ”Dibuat sayuran juga enak ini, kalau saya biasanya ditumis,” tutupnya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti