Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Saat Uang Kehilangan Nilainya, Apakah Teori Irving Fisher Masih Relevan?

Amin Basiri • Minggu, 7 Juni 2026 | 09:25 WIB
Rohmiati Rinur Jannah
Rohmiati Rinur Jannah

Oleh Rohmiati Rinur Jannah

Ketika Uang Tak Lagi Memiliki Daya yang Sama

Di tengah roda kehidupan masyarakat modern, uang diposisikan sebagai alat utama untuk menopang kelangsungan hidup. Namun, sebuah realitas pahit perlahan mulai dirasakan secara kolektif: uang yang digenggam masyarakat tak lagi memiliki daya yang sama seperti sediakala.

Fenomena pelemah nilai mata uang atau inflasi ini hadir dalam rupa melambungnya harga komoditas pokok, membubungnya biaya pendidikan, hingga mahalnya ongkos transportasi yang secara perlahan mengikis daya beli masyarakat.

Persoalan fundamental ini membawa kita kembali pada pemikiran klasik Irving Fisher mengenai teori kuantitas uang. Melalui persamaan ekonominya yang terkenal, Fisher memberikan peringatan keras bahwa jumlah uang yang beredar (M) memiliki keterikatan yang sangat erat dengan tingkat harga barang dan jasa (P).

Ketika jumlah uang di masyarakat meningkat secara berlebihan (M) tanpa diimbangi oleh peningkatan kapasitas produksi riil (T), pasar akan meresponsnya dengan kenaikan harga.

Akibatnya, masyarakat membutuhkan nominal yang jauh lebih besar hanya untuk mendapatkan barang yang sama. Di sinilah pertanyaan kritis muncul, apakah peningkatan pendapatan nominal masyarakat benar-benar mencerminkan perbaikan kesejahteraan, ataukah itu sekadar ilusi angka di atas kertas yang gagal menutupi penurunan daya beli yang nyata?

Teori di Atas Kertas vs Beban Hidup Masyarakat

Pemerintah kerap mengambil kebijakan ekonomi tertentu seperti mencetak uang atau menggelontorkan bantuan sosial demi menjaga stabilitas jangka pendek. Langkah intervensi ini memang dapat meringankan beban sesaat, tetapi apabila tidak dikendalikan dengan pertumbuhan produksi yang seimbang, kebijakan tersebut justru berisiko menjadi bumerang yang memicu inflasi hebat.

Di Indonesia sendiri, masyarakat berulang kali dipaksa beradaptasi dengan dampak inflasi riil ketika harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, cabai, telur, hingga bahan bakar melonjak signifikan, terutama menjelang hari besar keagamaan atau saat terjadi krisis global.

Kondisi ketidakseimbangan permintaan dan ketersediaan barang di pasar ini tidak membagi beban secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Kelompok masyarakat menengah ke bawah dan pelaku usaha mikro menjadi pihak yang paling rentan menghadapi hantaman inflasi ini.

Dengan pendapatan yang serbaterbatas, mereka dipaksa memotong kualitas hidup mereka; mengurangi pos pengeluaran penting untuk pendidikan dan kesehatan demi sekadar mempertahankan isi piring makan.

Sementara itu, di sektor dunia usaha, para pelaku usaha mikro harus terimpit di antara kenaikan harga bahan baku dan jatuhnya daya beli konsumen. Dalam kondisi makro yang tidak sehat, situasi ini bahkan dapat memicu badai pengurangan tenaga kerja demi menekan biaya operasional perusahaan.

 Stabilitas Nilai Mata Uang sedang Terancam

Memasuki era ekonomi modern, tantangan untuk menjaga stabilitas nilai mata uang menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan masa hidup Fisher. Di era globalisasi, stabilitas domestik tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berkelindan erat dengan konstelasi geopolitik global, konflik internasional, krisis energi, hingga fluktuasi harga minyak dunia yang siap mengirimkan gelombang inflasi ke berbagai negara.

Belum lagi ditambah dinamika baru seperti meluasnya perdagangan digital, investasi global, hingga kehadiran mata uang kripto yang mengubah tatanan sistem keuangan.

Di sinilah peran dan tanggung jawab besar bank sentral diuji. Di Indonesia, instrumen kebijakan moneter seperti pengaturan suku bunga, pengendalian kredit, dan pengelolaan cadangan kas bank digunakan sebagai benteng utama untuk mengontrol peredaran uang dan menjaga daya beli rakyat.

Namun, inti dari teori Irving Fisher tetap menjadi alarm yang relevan bagi pengambil kebijakan: stabilitas ekonomi sejati tidak akan pernah bisa dicapai secara instan hanya dengan mencetak atau memperbanyak jumlah uang.

Ketika negara gagal menjaga keseimbangan ini dan nilai uang menurun drastis, dampaknya tidak berhenti pada indikator angka ekonomi semata, tetapi menjalar menjadi krisis sosial.

Ketimpangan ekonomi akan semakin menganga, angka kemiskinan bertambah, dan kesejahteraan sosial runtuh. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas nilai uang bukan lagi sekadar tugas administratif lembaga keuangan, melainkan komitmen kolektif antara pemerintah, pelaku usaha, dan kesadaran finansial masyarakat.

Keadilan sosial ekonomi hanya akan mewujud nyata ketika negara mampu menciptakan produktivitas, lapangan kerja, dan sistem ekonomi sehat yang memastikan setiap lembar uang di dompet rakyat kecil tetap memiliki nilai yang adil untuk menghidupi masa depan mereka. (*)

*)Mahasiswi Sarjana Ekonomi Syariah Universitas Trunodjoyo Madura

Editor : Amin Basiri
#Irving Fisher #opini #uang