BANGKALAN, RadarMadura.id – Nama Adinda Larasati Dewi Kirana tidak asing di dunia olahraga renang. Atlet berdarah Bangkalan tersebut telah mendapat sederet penghargaan di cabang olahraga (cabor) renang.
Prestasinya bukan hanya di tingkat nasional, melainkan juga internasional. Buktinya, dia menjadi salah satu penyumbang medali dalam pesta olahraga SEA Games 2017 yang dilaksanakan di Malaysia.
Saat itu, dia mendapatkan tiga medali perunggu. Perjalanan karier atlet 24 tahun itu di cabor renang sangat panjang. Bahkan, sejak usianya di bawah lima tahun (balita).
Artinya, berbagai prestasi yang didapat diperoleh melalui kerja keras, semangat berlatih, dan konsistensi yang tinggi.
Adinda mengaku bergelut di dunia olahraga air sejak balita. Awalnya, atlet kelahiran Kecamatan Kamal, Bangkalan, itu sering dibawa orang tuanya saat mendampingi kakaknya yang berlatih renang, yaitu Moch. Dimas Permana Taufik.
”Saya itu saya selalu ikut-ikutan kakak. Jadi, saat kakak berlatih renang, saya juga ingin mencoba,” ujarnya.
Kedua orang tuanya, yaitu Tutik Kriana dan Taufik Aprianto, sempat tidak menginginkan Adinda belajar renang karena dia anak perempuan.
Namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya ibu dan bapaknya mengizinkan Adinda berlatih renang.
”Awalnya bukan untuk menjadi atlet renang. Tetapi, agar saat di sekoah ada olahraga renang, orang tua itu tidak kepikiran,” ucapnya.
Adinda kali pertama berlatih renang di Klub Surya Naga, Sidoarjo. Ternyata, sang pelatih melihat bakat luar biasa dari diri Adinda. Karena itu, dia diikutsertakan berbagai kejuaraan renang sejak usia dini.
”Saat usia empat tahun saya sudah ikut lomba antarklub se-Jawa Timur di Jember,” tuturnya.
Kemampuan Adinda semakin terasah saat dia bergabung dengan klub renang asal Surabaya, yaitu Hiu.
Prestasi demi prestasi mulai dia dapatkan dengan klub barunya. ”Alhamdulillah, prestasi saya juga semakin meningkat,” ujarnya.
Adinda mengungkapkan, saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia menjalani pendidikan seperti biasa.
Namun saat duduk di bangku SMP dan SMA, dia tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti siswa pada umumnya. Sebab, waktunya harus terbagi antara pendidikan dan olahraga yang digeluti.
”Saya masuk sekolah itu sekitar satu sampai dua jam saat SMP dan SMA. Itu pun siang karena pagi dan sorenya harus latihan,” jelasnya.
Dari sederet prestasi yang sudah diraih, Adinda mengaku belum sepenuhnya puas dengan berbagai pencapaiannya saat ini. Salah satu impiannya yang belum terwujud yaitu tampil dalam kejuaraan renang tingkat dunia.
”Kalau umur masih cukup dan ada kesempatan, saya ingin tampil di olimpiade,” sambungnya.
Saat ini Adinda tergabung dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Provinsi Jatim untuk persiapan menghadapi kejuaraan multievent paling bergengsi tingkat nasional. Yaitu, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang akan dilaksanakan tahun ini.
Adinda mengaku ingin mengulang kesuksesannya dalam kejuaraan empat tahunan tersebut. Saat PON 2020, dia berhasil menyumbang delapan medali emas dan satu perak untuk Provinsi Jatim. Capaian itu lebih baik dibandingkan PON 2016.
Sebab, saat itu dia menyumbangkan empat medali. Perinciannya, tiga medali emas dan satu perak. Empat medali tersebut didapatkan dari nomor pertandingan berbeda. ”Semoga di PON selanjutnya meraih prestasi yang membanggakan,” harapnya.
Di keluarganya, yang menjadi atlet renang bukan hanya Adinda. Kakaknya, Moch. Dimas Permana Taufik, dan adiknya, Moch. Akbar Putra Taufik, juga atlet renang.
Perenang tiga bersaudara tersebut saling mendukung satu sama lain. ”Kita punya best time tersendiri untuk saling memotivasi,” katanya.
Baca Juga: Yuk, Ajak Keluarga dan Buah Hati Berlibur sambil Belajar di Eduwisata Garam Pamekasan
Ingatkan untuk Selalu Istiqamah
Kesuksesan Adinda Larasati Dewi Kirana dan dua saudaranya di dunia cabang olahraga (cabor) renang tidak lepas dari support kedua orang tuanya. Yakni, Tutik Kriana dan Taufik Aprianto.
Taufik mengaku sengaja mendukung pilihan ketiga putranya yang sama-sama berkarier di dunia olahraga renang.
Dia melihat potensi yang luar biasa dari ketiga putranya. ”Yang penting mau fokus untuk satu pilihan, yaitu olahraga renang,” imbuhnya.
Secara akademik, ketiga anaknya yang menekuni olahraga memang tertinggal. Namun, dia bersyukur, prestasi nonakademik yang diraih membuat putranya memiliki kesempatan untuk menekuni bidang akademik.
”Adinda mendapat beasiswa S-1 sampai S-3 di Unesa. Sedangkan Dimas mendapat beasiswa S-1. Artinya, pendidikan mengikuti prestasi anak-anak,” katanya.
Taufik mengaku hanya menanamkan satu prinsip kepada ketiga putranya yang berkarier di dunia olahraga, yaitu harus istiqamah. Khususnya dalam berlatih untuk memenuhi target dan cita-cita masing-masing.
”Saya juga selalu mengingatkan agar tidak meninggalkan salat, ngaji, dan berdoa. Artinya, usaha dan doa harus seimbang,” imbuhnya.
Adinda saat ini masih berada dalam usia emas sebagai seorang atlet. Pada masanya nanti, dia akan pensiun. Dia akan mendukung jika suatu saat buah hatinya tersebut berkiprah di dunia pelatih renang.
Khususnya jika mendapat kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan potensi atlet lokal Bangkalan. ”Agar ada kenangannya untuk tanah kelahiran,” ujarnya. (jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti