SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Satu dari sekian penyair Madura yang lahir dari rahim pesantren adalah Raedu Basha. Karya-karyanya yang khas dan bernapaskan lokalitas, kerap mengantarkannya terlibat di berbagai forum sastra.
Sastra benar-benar mandarah daging bagi alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep ini. Sejak masih nyantri, Raedu memang sudah pandai menulis. Bahkan, dengan kawan-kawannya, dia turut mendirikan Rumah Sastra Bersama. Sebuah komunitas sastra di Latee.
Sebagaimana sastrawan Madura pada umumnya, karya-karya Raedu, baik itu fiksi maupun nonfiksi selalu berpijak pada lokalitas kemaduraan. Tetapi, jika yang lain selalu bersandar pada tema-tema besar, seperti laut, sawah, dan ladang, Raedu justru berbeda. Dia lebih memilih menulis yang lokal, tapi belum pernah tersentuh.
Contohnya, kumpulan puisi Hadrah Kiai (2017), buku yang menyorot kehidupan ulama dan kiai pesantren. ”Sebenarnya lokalitas adalah sebuah tema, sekaligus ideologi saya dalam berkarya,” kata Raedu kemarin (21/10).
Pria beralamatkan Dusun Daja Songay, Desa Billapora Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep, ini, memang menyukai hal-hal yang bernapaskan lokalitas. Bahkan, dirinya mengaku senang jika menulis mengenai budaya lokal.
”Ketika saya menulis tentang pesantren dan santri misalnya, itu juga tentang lokalitas. Terlepas dari sebuah identitas pesantren dalam taraf sosial-politiknya,” ujar alumnus pascasasrjana Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini.
Raedu berpandangan bahwa lokalitas adalah sesuatu yang sangat dekat dengan manusia. Sebab, lokalitas selalu melingkupi kehidupan manusia. ”Dalam mengonsumsi sesuatu, saya juga sangat senang dengan produk lokal, bukan impor,” katanya.
Produktivitas Raedu patut dijadikan contoh. Terutama bagi santri yang menggandrungi karya sastra. Raedu tak henti-hentinya menulis dan membaca. Tak berlebihan jika dia disebut sebagai salah satu sastrawan Madura mutakhir yang cukup produktif.
Hal itu dibuktikan dengan penghargaan KSK 2021 atas satu buku puisi Wisata Desa Billapora dalam Sajak (2021). Buku ini mengeksplor Desa Billapora ke dalam puisi. ”Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan agar unik adalah menulis sesuatu yang belum pernah ditulis oleh orang lain,” terang pria kelahiran Sumenep, 3 Juni 1988 ini.
Dengan cara seperti itulah Raedu berkarya. Meskipun, disadari atau tidak, tetap membutuhkan kepekaan. Sebab, selain dengan kata-kata, puisi ditulis setelah selesai melakukan pengamatan. ”Dengan cara seperti itu, lokalitas bisa menjadi bagian penting dari diri kita,” tutur ayah dari satu anak ini.
Saat menulis Wisata Desa Billapora dalam Sajak, Raedu memang benar-benar menulis tentang desa. Sebab, desa sangat penting dalam banyak hal. Desa adalah sumber kehidupan.
”Tanah Air itu bukan kota, tapi desa. Orang-orang di desa itu sangat berjasa dalam kehidupan kita. Kita makan padi, dan daging mereka, terlalu luas jika disebutkan,” beber Raedu.
Raedu bersyukurWisata Desa Billapora dalam Sajak masuk nominasi KSK. Selain sebagai tantangan untuk mempertahankan produktivitasnya, Raedu akan semakin luas mendapatkan pembaca. ”Kalau hadiahnya, ya jangan ditanya,” tandasnya.
Wisata Desa Billapora dalam Sajak masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) Kategori Puisi 2020–2021. Selain Readu, kumcer Damar Kambang karya cerpenis asal Pamekasan Muna Masyari masuk lima besar kategori prosa. (c3)
Editor : Abdul Basri