Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kampus Berdampak, Lalu Apa?

A
Penulis: Anis Billah❯
Mardiyah Hayati Dosen Universitas Trunojoyo Madura
Mardiyah Hayati Dosen Universitas Trunojoyo Madura

Advertisement

Oleh: Mardiyah Hayati*

Beberapa waktu terakhir, istilah Kampus Berdampak menjadi pembicaraan di berbagai perguruan tinggi. Semangatnya sangat baik, yaitu mendorong kampus agar tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kampus diharapkan hadir melalui riset yang bermanfaat, pengabdian yang menyelesaikan masalah, inovasi yang dapat diterapkan, hingga lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Di tengah semangat tersebut, saya membaca opini Prof. Mukhamad Najib di Jawa Pos yang mengangkat persoalan graduate mismatch, yaitu kondisi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Tulisan tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Advertisement

Saya sependapat.

Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman. Dunia kerja berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga perubahan struktur ekonomi menuntut lulusan yang memiliki kemampuan baru. Kampus tidak boleh tertinggal.

Namun, menurut saya, ada satu pertanyaan yang juga penting untuk kita renungkan.

Advertisement

Setelah lulusan memperoleh pekerjaan, lalu apa?

Apakah tugas perguruan tinggi selesai ketika alumninya diterima bekerja?

Ataukah masih ada tanggung jawab yang lebih besar?

Pertanyaan itu muncul karena selama ini kita sering mengukur keberhasilan pendidikan tinggi dari angka-angka yang mudah dihitung. Berapa banyak mahasiswa yang diterima bekerja? Berapa banyak yang lulus tepat waktu? Berapa persen lulusan yang bekerja? Berapa banyak publikasi yang dihasilkan? Berapa paten yang didaftarkan? Berapa mahasiswa yang mengikuti MBKM? Berapa banyak usaha rintisan yang dibentuk?

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Radar Madura, Kampus Kehidupan yang Tak Pernah Usai

Radar Madura, Kampus Kehidupan yang Tak Pernah Usai

Radar Madura telah menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Madura. Ia tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga merawat identitas daerah.

Mahasiswa UTM Dorong Penguatan Keamanan Lingkungan Kampus

Mahasiswa UTM Dorong Penguatan Keamanan Lingkungan Kampus

Koordinator Komunitas Pelita UTM Alfiansyah Bin Alwan mengatakan, minimnya pengawasan dan patroli menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya.

Unira Mantapkan Diri sebagai Kampus TEDUH,  Rayakan Dies Natalis Ke-48 dengan Beragam Kegiatan

Unira Mantapkan Diri sebagai Kampus TEDUH, Rayakan Dies Natalis Ke-48 dengan Beragam Kegiatan

Rektor Unira Gazali menegaskan bahwa TEDUH merupakan nilai-nilai dasar universitas atau university values yang menjadi pedoman dalam seluruh aspek penyelenggaraan perguruan tinggi ke depan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer