
Oleh: Mardiyah Hayati*
Beberapa waktu terakhir, istilah Kampus Berdampak menjadi pembicaraan di berbagai perguruan tinggi. Semangatnya sangat baik, yaitu mendorong kampus agar tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kampus diharapkan hadir melalui riset yang bermanfaat, pengabdian yang menyelesaikan masalah, inovasi yang dapat diterapkan, hingga lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Di tengah semangat tersebut, saya membaca opini Prof. Mukhamad Najib di Jawa Pos yang mengangkat persoalan graduate mismatch, yaitu kondisi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Tulisan tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Saya sependapat.
Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman. Dunia kerja berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga perubahan struktur ekonomi menuntut lulusan yang memiliki kemampuan baru. Kampus tidak boleh tertinggal.
Namun, menurut saya, ada satu pertanyaan yang juga penting untuk kita renungkan.
Setelah lulusan memperoleh pekerjaan, lalu apa?
Apakah tugas perguruan tinggi selesai ketika alumninya diterima bekerja?
Ataukah masih ada tanggung jawab yang lebih besar?
Pertanyaan itu muncul karena selama ini kita sering mengukur keberhasilan pendidikan tinggi dari angka-angka yang mudah dihitung. Berapa banyak mahasiswa yang diterima bekerja? Berapa banyak yang lulus tepat waktu? Berapa persen lulusan yang bekerja? Berapa banyak publikasi yang dihasilkan? Berapa paten yang didaftarkan? Berapa mahasiswa yang mengikuti MBKM? Berapa banyak usaha rintisan yang dibentuk?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




