
Oleh Sukma Firdaus*
“Deadline is fardhu ain” itulah ilmu pertama yang saya dapatkan ketika menjadi bagian dari Jawa Pos Radar Madura pada pertengahan 2012, sepulang saya kuliah dari Yogyakarta. Saya bingung mau bekerja apa, bekerja sebagai tenaga pendidik, sebagaimana keilmuwan yang tertera dalam ijazah S-1, ternyata lagu Iwan Fals "Oemar Bakri" benar adanya.
Dipikir-pikir, kiriman dari orang tua saat kuliah lebih cukup, mencukupi kebutuhan saya. Setelah saya lulus dan menjadi pendidik, sepertinya untuk membeli BBM motor saja harus ekstra hati-hati, apalagi membeli rokok.
Setiap pagi setelah saya mengantar adik sekolah, sebelum beraktivitas lain, saya menyempatkan mampir ke toko majalah di seberang jalan Pendopo Wakil Bupati Pamekasan. Tujuannya satu, untuk mencari informasi, khususnya informasi dari media massa yang bonafide, yaitu koran Jawa Pos dan Radar Madura di dalamnya.
Di toko majalah itu, tentunya tidak enak jika saya hanya membaca dan pergi, sebab Jawa Pos saat itu harganya sekitar empat ribuan. Koran harian paling mahal, karena memang informasi yang disajikan lengkap dan yang pasti berimbang. Saya harus membeli koran lain yang harganya seribuan, namun tujuan utama ingin membaca Jawa Pos dan Radar Madura.
Kenapa begitu? Pertama, tentunya ingin meng-update informasi, karena saat itu gadget belum populer, smartphone apa lagi, bahkan saat itu saya hanya punya handphone biasa (not-net-not) belum punya BlackBerry yang populer saat itu, maklum "Oemar Bakri". Di situ saya membaca berbagai informasi, maklum baru pulang dari Yogya yang sangat dinamis, di mana bisa gratis membaca berbagai koran di kampus dan di pojok-pojok kampung.
Mencari pojok-pojok kampung yang memajang koran untuk dibaca masyarakat tidak ditemukan di Pamekasan, maka dengan begitulah solusi saya mempunyai informasi. Hal ini terus saya lakukan setiap pagi dengan modal 1.000 membeli koran, namun tujuan utama membaca Jawa Pos dan Radar Madura di tempat. Meski demikian, koran yang harga 1.000 itu tetap saya baca di rumah sampai tuntas.
Setelah kira-kira dua pekan, saya membaca lowongan wartawan di halaman pertama Radar Madura untuk menjadi pencari berita di koran tersebut. Dengan modal pengalaman di kampus, tanpa pikir panjang saya langsung mengirimkan lamaran ke Jawa Pos Radar Madura melalui Kantor Jawa Pos Radar Madura Biro Pamekasan dengan tujuan kantor pusat Jawa Pos Radar Madura di Bangkalan.
Singkat cerita, selang kira-kira dua pekan berikutnya, di halaman terakhir Jawa Pos Radar Madura, muncul salah satunya nama saya, untuk mengikuti seleksi ke kantor pusat Jawa Pos Radar Madura.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




