Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi dan Sudut Pandang Lain yang Belum Selesai Digali: (Catatan tentang Manuskrip Puisi Kembang Laut yang Dilaksanakan Komunitas Damar Korong)

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 21 Juli 2024 | 13:30 WIB
FOKUS: Peserta menyimak pemaparan salah seorang anggota yang menanggapi isi manuskrip puisi Ina Herdiyana di Warung Pentol Barokah, Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Minggu (14/7).
FOKUS: Peserta menyimak pemaparan salah seorang anggota yang menanggapi isi manuskrip puisi Ina Herdiyana di Warung Pentol Barokah, Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Minggu (14/7).

Oleh INA HERDIYANA*

 

DI BANJAR orang-orang berkumpul. Ada yang bersimpuh, melipatkan kedua kakinya dengan rapat, dan duduk santai sembari menyeruput es teh setelah menikmati pentol yang pedas. Ada pula yang bersila, khusyuk. Mereka bukan hendak mengaji atau membacakan ayat-ayat suci, tetapi mengkaji dan membedah manuskrip pusi.

Ada 36 puisi karya Ina Herdiyana yang dibedah pada pertemuan Komunitas Damar Korong Minggu (14/7) sore itu. Beberapa di antaranya dimuat di Basabasi.co pada 2021. Antara lain, Usia Pagi, Ingatan, Memoria, Taman, Kembang Laut, Laska, dan Tonduk. Ada juga yang dimuat di buku antologi puisi bersama dengan tema Siapakah Jakarta. Puisi itu berjudul Jakarta Pukul Tujuh Pagi yang diterbitkan Galeri Buku Jakarta pada 2023.

Puisi Damar Kembang, Bermain dengan Bayang, Desember, Martajasah, dan Di Mlajah merupakan puisi yang dimuat di Lampung Post pada 2018. Sementara Empat Impresi bagi Malam dan Isyarat merupakan puisi yang dimuat di buku Rantau, antologi puisi bersama Komunitas Negeri Poci 10 pada 2021.

Baca Juga: Pendidikan, Guru, dan Migrasi Cara Pandang

Nostalgia adalah salah satu

puisi bentuk partisipasi atas kepergian Sapardi Djoko Damono yang terhimpun dalam buku Setelah Sapardi Pergi: Sehimpun Puisi Tribute to Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan Diomedia pada 2021.

Sementara puisi Panglong, Toraja, Doa Nangger, Maddung Singkek, Ladang Cahaya, dan Di Karduluk merupakan puisi yang dimuat dalam buku Bintang Kugalah, Bulan Kudapat (Antologi Puisi Manifesco, 2019).

Kukenang Engkau dalam Puisi ditulis pada masa Covid-19 sebagai bentuk persembahan kepada petugas medis dan orang-orang yang berjuang melawan virus. Puisi ini diikutsertakan lomba baca puisi daring tingkat Jatim tentang Corona.

Manuskrip puisi ini ditulis pada rentang waktu 2018–2024. Namun, yang terbanyak antara 2018–2020. Hanya beberapa puisi yang ditulis pada rentang waktu 2021–2024. Antara lain, Aline, Patean, Di Gendongan Ibu, Di Kota Ini, Hujan Malam Hari, Jolotundo I, Jolotundo II, Rumah, dan lain-lain.

Secara bentuk, tema, isi, dan hal-hal lain yang melatarbelakangi terciptanya puisi ini sangat jauh dari kata sempurna. Sebab itu, dengan adanya wadah Komunitas Damar Korong, masukan dan saran sangat dibutuhkan untuk mengembangkan manuskrip puisi ini sehingga menjadi lebih baik.

Tema yang dimuat dalam manuskrip puisi ini beragam. Seperti yang disampaikan Matroni Muserang, manuskrip puisi Kembang Laut ini seperti gado-gado. Belum menemukan satu titik temu yang bisa mewakili satu buku secara utuh.

Namun, secara bahasa sudah final. Banyak mengisahkan tentang suasana kenangan. Hal yang harus diperhatikan ketika akan menerbitkan buku adalah judul dan tema. Di antara keduanya harus ada titik fokus dan kepaduan.

Faidi Rizal Alief menambahkan, manuskrip puisi ini perlu dipilah dan dikelompokkan lagi secara tematik. Dari segi bentuk, diksi, maupun rima tidak ada masalah. Namun, ada beberapa metafor yang janggal dan perlu diperbaiki. Juga tentang penyeragaman huruf kapital dan nonkapital serta tanda baca tiap puisi.

Kepaduan antara bentuk dan isi perlu dipertajam seperti puisi Damar Kembang// malam yang temara//dengan batok kelapa dan rakara//disulutnya sumbu kapuk dengan hangat api// dan minyak kelapa/ beserta segala doa// ayat-ayat suci ditembang//damar kembang menyala di sudut-sudut ruang.

Jika dilihat secara filosofi dan maknanya, damar kembang yang dimaksud masih ambigu antara damar kembang atau damar kambang (Madura). Jika yang dimaksud adalah damar kambang, puisi ini belum sampai pada kesakralan dari damar kambang itu sendiri.

Daviatul Umam menilai hal yang sama. Judul dari manuskrip puisi itu harus disesuaikan dengan isi atau yang mewakili keseluruhan isi (tema). Setidaknya berisi dua tema saja yang saling berkaitan. Misalnya, tema lokalitas dan urbanitas, kemaritiman dan agraria, kemanusiaan dan alam semesta, dll.

Hal itu diperkuat oleh pendapat Fajri Andika bahwa judul buku itu menggambarkan isi dari buku, termasuk sampul. Terkait buku antologi, baik cerpen maupun puisi, pemilihan judul biasanya mengambil dari salah satu judul atau menggabungkan beberapa judul di buku itu, yang tentu tidak melenceng dari tema.

ANTUSIAS: Anggota Komunitas Damar Korong berfoto bersama usai bedah kumpulan puisi Ina Herdiyana di Warung Pentol Barokah, Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Minggu (14/7). (DAMAR KORONG UNTUK JPRM)
ANTUSIAS: Anggota Komunitas Damar Korong berfoto bersama usai bedah kumpulan puisi Ina Herdiyana di Warung Pentol Barokah, Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Minggu (14/7). (DAMAR KORONG UNTUK JPRM)

Yang lebih penting dalam buku antologi, isinya padu dan utuh. Cerpenis yang tinggal di Jogjakarta itu mencontohkan antologi puisi Padamkan Mataku karya Rilke. Isinya tetap romantisme. Begitu pula buku puisi karya Ahmad Nurullah yang berjudul Setelah Hari Keenam. Dari halaman pertama sampai khatam, isinya tentang penciptaan dan eksistensi alam semesta.

Di sisi lain, antologi puisi Ina mirip dengan buku-buku puisi yang ditulis para penulis Madura. Tema dan isinya tidak jauh-jauh dari romantisme dengan menggunakan diksi-diksi laut, darat, perjalanan, maupun kearifan lokal.

Padahal, masih banyak yang bisa dieksplorasi. Misalnya, tentang sains, digital, dan lain-lain dengan tetap menggunakan ”asmara” sebagai bungkusnya. Jika hal ini dilakukan, tentu akan memancing pembaca untuk berimajinasi tentang Madura (jika tema atau setting-nya di Madura). ”Bukankah puisi itu hasil dari intuisi dan imajinasi? Bukankah logika hanya digunakan dalam penulisannya?” ujar Fajri.

Lihatlah bagaimana orang-orang semakin penasaran pada misteri kehidupan bawah laut setelah membaca Berpetualang di Bawah Laut karya Jules Verne dan tetralogi The Deep karya Helen Dunmore. Saking kuatnya tulisan Jules Verne, sampai-sampai dikutip di scene awal film Aquaman 2. Contoh lainnya adalah novel-novel Jepang yang membuat para pembaca (khususnya pembaca dari luar Jepang) semakin penasaran dengan kehidupan tradisional masyarakat Negeri Matahari Terbit. Misalnya, orang-orang jadi penasaran dengan kultur masyarakat Jepang di masa lalu setelah mengkhatamkan novel Musashi karya Eiji Yoshikawa.

Menurut Ibna Asnawi, kumpulan puisi Ina adalah puisi yang tenang (puisi kamar), tidak tersusun dari kata-kata sarkas. Sebanyak 30 persen dari isi puisi menyatakan tentang tempat dan 20 persen lainnya menceritakan tentang orang/ditujukan pada seseorang. Sisanya tentang pengalaman pribadi penyair. Beberapa puisi Ina bersifat deskriptif seperti yang terlihat pada Tonduk dan naratif seperti yang terlihat pada puisi Martajasah.

Baca Juga: Sanja’na Aqil Husein Almanuri; Tase’ Badhur

Dalam puisi Di Gendongan Ibu, Oonk menanggapi bahwa puisi tersebut klise, sama dengan puisi-puisi lain. Apalagi puisi Ibu sudah ditulis oleh penyair terkenal D. Zawawi Imron. Boleh-boleh saja, kata Oonk, menulis puisi tentang ibu, tetapi harus melampaui puisi D. Zawawi Imron.

Saifa Abidillah pun menanggapi pernyataan Oonk, bahwa puisi diciptakan bukan sebagai bahan tandingan untuk melampaui karya orang lain. Setiap penyair memiliki ciri khas dan pemikiran tersendiri. Penulis Kuil Bawah Laut itu mencontohkan puisi Saut Situmorang berjudul Aku MencintaiMu dengan Seluruh JembutKu. Apakah itu tandingan untuk melampaui puisi Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono? Jawabannya tidak. Dua puisi itu memiliki aliran dan karakter tersendiri, bukan untuk mengungguli, tetapi justru memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Demikian pula dengan puisi Ina. Tak jadi masalah menulis puisi sesuai perspektifnya. Namun, alangkah baiknya, lebih banyak menggali hal-hal yang belum dieksplorasi dari penulis-penulis sebelumnya.

Pernyataan itu selaras dengan pendapat A. Warits Rovi. Warits menyadari, puisi yang ditulis Ina adalah hal yang terdekat dengan diri si penulis. Alam, tempat-tempat, kearifan lokal, dan kebanyakan tentang Madura. Seperti halnya bahasa, puisi yang tercipta dari rangkaian kata-kata juga harus ada proses pembaruan. Dengan adanya pembaruan, diharapkan dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia, baik secara diksi maupun isi.

Sementara itu, Romzul Falah memiliki pendapat berbeda. Dia menelaah manuskrip puisi Ina bukan dari segi tema semata. Menurut Romzul, puisi-puisi Ina lebih transparan dan tanggung dalam mengeksplorasi/menggarap ide atau gagasan seperti pada puisi berjudul Damar Kembang, Ingatan, Doa Nanggher, Maddung Singkek, Ladang Cahaya, Jakarta Pukul Tujuh Pagi, dan Hujan Malam Hari.

Secara ide, puisi-puisi tersebut menarik, tapi pada tahap eksekusi tidak mampu menyampaikan secara mendalam perihal suatu keadaan/keyakinan/kepercayaan/nilai filosofis dari tiap ide utama puisi tersebut. Romzul berharap, puisi ini ditinjau ulang dan diperbaiki sebelum diterbitkan menjadi buku kumpulan puisi.

Dengan banyaknya masukan dan kritik dari pembaca, semoga manuskrip puisi Kembang Laut ini dapat diperbaiki dan dikembangkan menjadi lebih baik. Walaupun Tak Ada Gading yang Tak Retak. Tidak ada sesuatu yang sempurna. Namun, terus berkarya dan menerima masukan adalah bentuk apresiasi bahwa kita ada dengan semangat yang menyala. (*)

*) Editor bahasa Jawa Pos Radar Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Antologi Puisi #ina herdiyana #intuisi #Komunitas Damar Korong #sudut pandang #imajinasi #manuskrip puisi #Kembang Laut