SUMENEP, RadarMadura.id – La Ngetnik semakin melejit. Salah satu grup musik di Kabupaten Sumenep ini semakin menampakkan wajahnya.
Grup musik ini berdiri sekitar delapan tahun silam. Tepatnya pada 2016.
Eksistensi kelompok musik ini tetap terjaga sampai sekarang.
Kreativitas yang tumbuh di dalamnya terus terpupuk untuk melahirkan karya-karya di hadapan pencinta musik Indonesia.
La Ngetnik berdiri bersamaan dengan adanya peristiwa kunjungan pelajar dari Negara Ceko.
Kala itu untuk menyambut kedatangan para pelajar itu dia menggagas semacam pertunjukan musik.
”Jadi, itu sejarah singkat berdirinya grup musik kami. Bisa dibilang mendadak atau impulsif,” kenang Rifan Khoridi, salah seorang penggagas La Ngetnik kepada JPRM kemarin (21/6).
Penamaan La Ngetnik cukup unik. Ia diambil dari bahasa Madura, yakni la, yang berarti sudah atau telah. Sedangkan Ngetnik sendiri adalah unsur etnik.
La Ngetnik dimaksudkan sudah ada unsur etniknya. Baik secara pola nada maupun dentum dan karakteristik tetabuhannya.
”Begitulah sejarah nama dari La Ngetnik sendiri. Kami tetap berpijak pada lokalitas dan etnisitas kami yang mudah ditemui di sekitar,” ujarnya.
Dalam prosesnya, grup musik yang satu ini tidak langsung bergerak secara aktif.
Akan tetapi, melalui proses yang cukup panjang. Tahun 2016 merupakan masa-masa pertumbuhan.
Karena itu, tidak banyak yang dikerjakan. Kecuali membuat grup musik La Ngetnik tetap ada dan dikenal oleh masyarakat.
Rifan menyampaikan, pada formasi awal, personelnya ada 9 orang.
Yakni, Rifan Khoridi, Ramsi, Farhan, Memet, Sinal, Hairul, Anwar, Amin Bashiri, dan Disty.
Kemudian berubah, karena dari tahun 2016 para personel memiliki aktivitas dan kesibukan di luar seni musik.
Di samping itu, pasca 2016 berbarengan dengan kondisi Covid-19.
Akibatnya, La Ngetnik belum bisa melakukan banyak hal. Namun, proses kreatif tetap berjalan secara kultural dan konsisten.
”Hitungannya, dari 2016 sampai 2020 kami vakum. Karena banyak hal, termasuk bersamaan dengan pembatasan sosial akibat pandemi korona,” paparnya.
Masuk pada 2022, La Ngetnik mengubah format musiknya.
Yang semula digagas semacam gamelan kontemporer berubah menjadi musik Avant-folk. Begitu juga dengan personel di dalamnya.
La Ngetnik diisi wajah-wajah baru, kecuali Rifan sendiri. Yakni, Faris Nofail, Riang Harmonis, dan Johariyadi.
Pada tahun itu pula, La Ngetnik meluncurkan single pertamanya berjudul Figurasi.
Pendistrbusiannya melalui platform digital. Mulai dari Spotify, Apple Music, Joox, dan YouTube.
Tepat pada Selasa (19/6) La Ngetnik merilis album kedua bertajuk Lawh Fashal 1.
”Itu proses kreatif kami yang cukup singkat. Tapi, intinya, bahwa kami sampai hari ini ada dan terus berkarya,” jelasnya. (di/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta