SAMPANG, RadarMadura.id – Pendapatan asli daerah (PAD) RSUD Ketapang merosot hingga Rp 1,5 miliar.
Salah satu pemicunya, dokter spesialis bedah di rumah sakit pelat merah tersebut berhenti sejak awal 2026.
Merosotnya PAD itu diketahui dari capaian hingga 31 Mei, yakni sebesar Rp 6,3 miliar.
Tahun lalu, PAD RSUD Ketapang mencapai Rp 7,8 miliar pada periode yang sama.
Direktur RSUD Ketapang Sukarno menyampaikan, dokter spesalis bedah mundur terhitung sejak awal 2026.
Alasannya, dokter bedah satu-satunya di rumah sakit tersebut melanjutkan pendidikan.
Pria asal Bangkalan itu menyatakan, saat ini sudah ada dokter bedah pengganti. Dokter tersebut aktif bekerja di RSUD Ketapang sejak Juni 2026.
”Sekarang sudah terpenuhi,” katanya Selasa (30/6).
Meski begitu, Sukarno pesimistis bisa mendongkrak PAD. Sebab, dokter spesialis bedah tersebut hanya bisa memberikan pelayanan pada malam hari.
”Dokter bedah juga bertugas di rumah sakit lain. Bisanya (buka layanan) hanya malam,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan jam praktik tersebut dinilai berdampak pada kunjungan pasien. Masyarakat lebih banyak menjangkau pelayanan saat siang hari.
”Kalau malam yang dari pelosok itu sulit (mengakses layanan), apalagi angkot sulit,” tuturnya.
Sukarno menambahkan, merosotnya PAD tidak hanya karena kekosongan dokter spesialis bedah. Kunjungan pasien setiap bulan fluktuatif.
”Ada siklus bulan-bulan tertentu kadang ramai di rumah sakit,” imbuhnya.
Sebelumnya, Kasubbag Keuangan Dinkes KB Sampang Muhammad Maman Firmansyah membenarkan bahwa pendapatan RSUD Ketapang turun.
Target PAD yang harus dicapai tahun ini sebesar Rp 25,7 milar. Hingga Mei, pendapatannya baru Rp 6,3 miliar atau 24,75 persen.
”Berdasarkan evaluasi, banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya berhentinya dokter spesialis bedah,” paparnya.
Ketua Komisi IV DPRD Sampang Mahfud mendorong agar PAD terus ditingkatkan. Hal itu perlu dilakukan evaluasi di semua faskes, terutama dalam pelayanan.
Dia menilai, pelayanan faskes sedang tidak sehat sehingga perlu ada peningkatan kapasitas bagi SDM tenaga kesehatan.
"Semua bergantung pelayanan dan itu menjadi catatan kami. Percuma spesialis hebat tapi pelayanan buruk, maka saya minta paramedis dilatih quick service, responsif, dan tidak boleh dicampur dengan berbagai kepentingan," tandasnya. (ay/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti