
Oleh Bahrul Ulum
Eppa’: ”Mangkat, Cong.”
Ebu: ”Salamet, Cong.”
Bine: ”Tekka hajat ban bajjra, Ka’.”
Jangan pernah meremehkan tiga kalimat sederhana itu.
DIA bukan sekadar percakapan sebelum seseorang meninggalkan rumah. Bukan hanya tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya tersimpan cinta, kepercayaan, harapan, dan doa yang menjadi bekal paling berharga dalam mengarungi kehidupan.
Seorang ayah mungkin bukan orang yang paling pandai merangkai kata. Kasih sayangnya sering kali tidak tampak dalam pelukan atau pujian. Namun ketika ia berkata, ”Mangkat, Cong,” sesungguhnya dia sedang menyerahkan anaknya kepada perjuangan.
Kalimat itu berarti, ”Pergilah dengan keberanian. Jagalah kehormatanmu. Bekerjalah dengan jujur. Jangan pernah menyerah. Pulanglah membawa kebanggaan, bukan penyesalan.”
Lalu terdengar suara ibu, ”Salamet, Cong.” Hanya satu kata. Namun satu kata itu lahir dari hati yang sepanjang hidupnya tak pernah berhenti mencemaskan anaknya. Tidak ada ibu yang benar-benar tenang ketika anaknya berada di luar rumah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

