SAMPANG, RadarMadura.id – Antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Kabupaten Sampang, tepatnya di SPBU 54.692.01 Desa/Kecamatan Ketapang, Sampang, pada Kamis (2/7) ricuh. Pihak yang terlibat adalah pembeli kontra petugas SPBU.
Pengawas SPBU 54.692.01 Solihin membenarkan kericuhan yang terjadi di SPBU tempatnya bertugas tersebut sebagaimana video yang viral di media sosial (medsos). Kericuhan tersebut terjadi pada Kamis (2/7).
”Iya benar, seperti video yang beredar, kericuhan tersebut memang benar terjadi di SPBU kami,” katanya.
Dijelaskan, sejak pagi pukul 06.00 pembeli BBM solar sudah antre panjang. Truk distribusi BBM oleh Pertamina baru datang ke SPBU 54.692.01 pada pukul 10.00.
Sebelum kejadian, dilakukan proses bongkar (proses pemindahan BBM dari tangki ke tempat penyimpanan).
”Sedangkan warga sudah banyak yang antre untuk membeli solar,” ujarnya.
Solihin mengatakan, karena kuota BBM jenis solar dibatasi, pihaknya memikirkan cara agar semua pembeli yang antre kebagian.
Yakni, masing-masing kendaraan semuanya dibatasi pembelian maksimal Rp 300 ribu.
”Tapi, para sopir dump truck tidak mau dibatasi. Mereka meminta untuk mengisi full tangki. Kami tidak tahu alasannya apa mereka pada tidak mau dibatasi pembelian maksimalnya. Entah diambil dan dijual lagi kami tidak mengetahuinya,” ujarnya.
Dia menerangkan, berdasarkan hasil kalkulasi pihaknya, BBM untuk kendaraan dump truck, yang bakal digunakan bekerja tiap hari, BBM solar Rp 300 ribu dinilai sudah cukup. Sehingga, bisa melakukan pembelian kembali keesokan harinya.
”Saya sudah berkonsultasi terkait penggunaan BBM solar sopir dump truck per hari. Saya menilai itu sudah sesuai porsi pembatasan maksimal pembelian. BBM senilai Rp 300 ribu sangat cukup untuk aktivitas sopir dump truck,” ujarnya.
Baca Juga: Gandeng KPK, Ditjen Imigrasi Perkuat Integritas dan Tata Kelola Pelayanan
Solihin menuturkan, pengiriman BBM jenis solar maupun Pertalite sejak tiga bulan terakhir oleh Pertamina dikurangi.
Kemudian terjadi panic buying di tengah masyarakat, lantaran mencuat isu harga BBM bakal naik dan akan diganti dari B40 ke B50.
”Pasca ada pengurangan pendistribusian BBM, kami sebulan hanya mendapatkan 29 kiriman tangki. Sebelumnya ada pengurangan, sebulan kami mendapatkan sebanyak 38 kiriman,” bebernya.
Selain itu, faktor antrean panjang di SPBU yakni lantaran Pertamina saat ini mengeluarkan kebijakan baru.
Yakni, pembelian BBM subsidi untuk roda dua menggunakan barcode. Dia menilai hal itu sangat tidak masuk akal.
”Sehingga memperlambat pengisian pada pengendara roda dua (R2). Kami berharap untuk R2 tidak perlu barcode, agar tidak lagi perlu menggunakan barcode dalam mengisi BBM subsidi,” bebernya.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patraniaga Ahad Rahedi tidak bisa dimintai keterangan terkait kericuhan di kawasan SPBU 54.692.01 yang diduga lantaran pembelian BBM dibatasi tersebut.
Sebab, saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler yang biasa digunakan, yang bersangkutan tidak merespons.
Video kericuhan yang terjadi di SPBU 54.692.01 viral di sejumlah platform media sosial (medsos).
Terlihat warga adu mulut dengan petugas SPBU lantaran diduga dibatasi pembelian BBM solar. (bai/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti