Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tubuh Mati, Jiwa Revolusi yang Hidup Kembali

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 16 Juni 2024 | 13:15 WIB
Resensi novel Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori.
Resensi novel Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori.

Oleh NARAYA KASIH KINANTI

 

SETELAH merdeka pada 1945, dan mengalami pergulatan politik bangsanya sendiri, Indonesia masihlah bangsa yang menyedihkan dengan kondisi rakyat-rakyat melarat, terlebih pacsa Soeharto menggantikan posisi Soekarno sebagai kepala negara. Bahkan, setelah Soeharto secara dramatis melengserkan kekuasaannya sendiri, jejak yang dia tinggalkan belum terhapus hingga hari ini, korupsi yang semakin mengerikan, hukum bisa dibeli, ekonomi hanya milik penguasa dan para kroni, rakyat tetap hidup dalam ketakutan (Laut Bercerita, hlm. 351).

Serangkaian kejadian yang mengerikan seperti, G-30-S PKI, kematian tragis seorang buruh pabrik bernama Marsinah, ketidakadilan yang terjadi pada petani Sengkon dan Karta, dan penangkapan para aktivis, yang kemudian juga hilangnya 13 mahasiswa pada tahun-tahun terakhir kepemimpinan Soeharto, merupakan sejarah yang tidak mungkin terhapus jejaknya dalam peradaban manusia. Lalu, jika kita terlahir di tahun 90-an itu, sumbangsih apa yang akan kita berikan sebagai mahasiswa melihat praktik pemerintahan yang otoriter dan terlepas dari persoalan kemanusiaan? Sementara tujuan murni dalam menyerap ilmu adalah tidak lain dan tidak bukan untuk memanusiakan manusia.

Sama seperti dua novel lain: Pulang dan Namaku Alam, Leila S. Chudori dalam novel Laut Bercerita, juga mengambil latar belakang kondisi Indonesia pada masa kepemimpinan Soeharto pada 1991–1998, sementara tragedi yang diangkat dalam novel ini adalah aksi tanam jagung di Blangguan pada 1993, serta penculikan para aktivis yang terjadi pada masa itu. Novel ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah Biru Laut yang mengambil sekte dari cerita Laut sendiri, tentang bagaimana dia hidup sebagai aktivis. Sementara bagian kedua adalah Asmara Jati lebih banyak menceritakan perkabungan keluarganya setelah kehilangan Biru laut, karena bagaimanapun novel ini bukan hanya menyuguhkan tentang semangat revolusionalisme, namun juga sebuah keluarga yang begitu hangat, dan tidak mungkin Laut temukan di mana pun kecuali di dapur ibunya sendiri.

Pada mulanya, di 1990 Biru Laut adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Dia kemudian dipertemukan dengan Kasih Kinanti yang merupakan kakak kelas Laut. Pertemuan pertama mereka adalah saat Kinan dan Laut berada di toko fotokopi dan kebetulan mereka sama-sama menggandakan novel karya Pramoedya Ananta Toer, Kinan pada akhirnya mengajak Laut untuk hadir dalam diskusi yang akan mendiskusikan buku-buku pemikiran kiri milik Pram dan para penulis terkenal dari Amerika Latin, padahal mereka paham betul bahwa kegiatan tersebut mampu menjebloskan mereka ke penjara.

Dalam pertemuannya yang kedua, Kinan bertanya; Kenapa Laut memilih menempuh pendidikan di Jogja dan bukan di UNS, hingga Laut baru mampu menyimpulkan dirinya sendiri bahwa dia memanglah mahasiswa semester tiga yang diam-diam menbaca buku terlarang milik Pram, bukannya karena estetika sastra, namun ada dorongan lain dalam dirinya atas sistem pemerintahan yang semena-mena meski dia sendiri tidak tahu apa yang mesti dia lakukan untuk menggguncang sebuah rezim yang sudah bepuluh-puluh tahun berdiri dengan kokoh. Setelah hari itu, Laut kemudian bergabung dengan organisasi Winatra, yang di dalamnya juga terdapat aktor lain: Kasih Kinanti, Alex Pragon, Sunu, Gala, Daniel, Bram, dan juga Gusti.

Novel ini juga mengangkat tragedi pada 1993 di Blangguan. Leila menyajikan kisah ini dalam bahasa yang ringan namun memukau dan mampu diserap baik oleh otak kita, sehingga kisah yang jarang diketahui ini terkenang dengan baik. Pada 1993, seluruh mahasiswa Winatra turun tangan menemani para penduduk Blangguan, mereka melakukan aksi tanam jagung di beberapa ladang yang tersisa, karena pada saat itu ladang mereka beralih fungsi menjadi area latihan tempur tentara. Namun, aksi itu tidak berhasil karena keberadaan mereka memang sudah diketahui oleh para intel. Meskipun pada akhirnya mereka bisa melarikan diri hingga sampai di Terminal Bungurasih.

Berkali-kali setelah beberapa rentetan kejadian yang terang-terangan melawan pemerintah itu, Laut dan teman-temanya yang lain sering diinterogasi serta disiksa, namun risiko besar yang mereka terima tidak pernah menghentikan semangat untuk membangun negara yang lebih berdaulat, hingga pergerakan mereka berhenti karena satu per satu dari anggota Winatra mulai tertangkap. Leila menggambarkan bagaimana penyiksaan terakhir mereka begitu keji, mulai dari setruman listrik, berbaring di balok es selama berjam-jam dan diinterogasi, hingga berakhir pada pembunuhan Laut, Kinan, Gala, Sunu, dan beberapa aktivis lain yang hilang tanpa kejelasan.

Leila begitu apik membangun jiwa pembaca sebagai penggerak di masa depan, dengan patokan tokoh seperti Laut, Kinan, Sunu dan Gala, yang hidup di tengah gejolak revolusi dan pertentangan sengit antara rakyat dan pemerintah. Leila mampu membuat jiwa kita terpanggil  dan merasakan gejolak jiwa sebagai anak muda yang haus akan keadilan meski pada hari ini kita tidak hidup di tengah-tengah kekejaman rezim, namun sekali lagi Indonesia bukanlah negara yang betul-betul bebas dari jejak yang Soeharto tinggalkan, di lingkungan kita masih terdapat banyak praktik korupsi dan kejahatan lain dari petinggi negara, praktik hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.

Selain membangun jiwa revolusioner, dalam novel ini Leila juga menyajikan bagaimana hangatnya sebuah keluarga, dan betapa kehangatan itu tetap berusaha mereka (keluarga korban) pertahankan meski mereka sendiri harus hidup dalam kenangan dan angan-angan atas kehilangan anak-anaknya yang tidaklah sederhana. Hal itu digambarkan dalam bagian kedua Asmara Jati. Bapak dan ibu Laut enggan sekali selama kehilangan Laut untuk menganggap anaknya terbunuh, dia hanya menganggap Laut ditangkap dan belum kembali.

Baca Juga: Tunjangan Hari Raya

Bertahun-tahun keluarga itu terjebak dalam kenangan yang mereka buat sendiri, dan masih melakukan ritual keluarga, yaitu memasak padi minggu sore pada minggu keempat. Ibu laut masih senantiasa menyediakan piring dan kursi milik Laut, berharap setiap hari anaknya pulang. Sementara bapak Laut tidak pernah absen membersihkan buku-buku milik Laut. Tidak hanya itu, hingga setelah Soeharto turun dari jabatannya, pada tahun 2000-an beberapa keluarga korban tetap menggelar ritual kamisan di depan Istana Negara untuk mengenang, sekaligus menuntut hak mereka atas kasus yang belum terusut itu.

Walau akhirnya, pada ending novel ini, Laut menjadi seorang aktor yang merasa sia-sia, karena kematiannya yang begitu tragis, bahkan keluarganya sendiri tidak tahu dia dikuburkan di mana, dan pencarian akan dirinya serta beberapa aktivis yang hilang tidak kunjung menemukan kepastian, akan tetapi bagaimanapun Leila telah mampu menghidupkan aktor Laut kembali, karena setelah membaca buku ini, jiwa Laut rupanya hidup dalam diri pembaca.

Selain itu pula, kelebihan Leila dalam menulis novel ini, dia menyusun banyak tragedi yang tidak diduga sama sekali, seperti pengkhianatan seorang Gala terhadap Winatra, padahal dari awal pembaca sudah diajak untuk mencurigai tokoh Naratama. Sementara kekurangan dalam novel ini adalah Leila terlalu banyak mengulang kata-kata, dan kematian Laut yang tidak jelas karena versi berbeda antara ungkapan dalam Biru Laut dan analisis yang dilakukan oleh Asmara Jati dalam sakte Asmara Jati. (*)

Mahasiswa Universitas Annuqayah Fakultas Syariah, santri PP Annuqayah Lubbangsa Putri

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#novel #Laut Bercerita #mahasiswa #jiwa #korupsi #Asmara Jati #Tragedi #Revolusi #indonesia #Blangguan #biru #laut