Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menyegarkan Pendidikan Adab

Amin Basiri • Sabtu, 1 November 2025 - 16:59 WIB
ilustrasi buku
ilustrasi buku

Oleh Zaitur Rahem (Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Annuqayah (UA). Mahasiswa Doktoral PAI Program LPPD Jawa Timur di UMM.)

PENDIDIKAN secara utuh merupakan tiang moral bagi sebuah peradaban masyarakat. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang mumpuni akan menjembatani setiap keluh kesah, suka duka, dan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya.

Pendidikan dalam berbagai kajian disiplin keilmuan menempati posisi paling utama. Kajian dan sajian tentang pendidikan (dalam berbagai ruang lingkupnya) memiliki atau diberi porsi lebih banyak/luas dibanding segmen kajian yang lain.

Pendidikan juga dalam rentetan sejarah umat manusia dalam tiap tahapan generasi menciptakan gelombang potensi, prestasi, dan dedikasi.

Sumbangan dunia pendidikan pada setiap generasi berbanding lurus dengan tegak harapan besar mereka sebagai bangsa besar dengan kharisma dan pencapaian kebaikan untuk umat manusia.

Gambaran tentang substansi-maha penting pendidikan bagi sebuah generasi tertuang jelas dalam lintas karya-karya peminatnya.

Karya besar para peminat pendidikan (ilmuwan) bisa dibaca banyak generasi dan hal itu menjadi bahan menjembatani lintas generasi berpetualang ke dunia masa lalu.

Yaitu, menyelami kebesaran prestasi besar dunia pendidikan dalam sumbangan pembangunan moral, intelektual, spiritual, dan berbagai bidang yang menjadi elemen dunia pendidikan.

Pembelajaran berharga dari sumbangan dunia pendidikan tiap generasi ini menjadi titik utama untuk senantiasa menghadirkan roh pendidikan dalam tiap detik, di mana manusia itu berdiam.

Sesuatu yang sudah hilang hari ini adalah pembelajaran berharga tentang merawat fungsi pendidikan sebagai dasar moral seseorang.

Pendidikan jauh panggang dari api. Peminat pendidikan sebatas melihat, menganalisis, dan sedikit abai dengan makna substansial dari pendidikan.

Roh pendidikan dengan spirit menebar kebaikan ini penting untuk kembali disegarkan.

Minimal, rohnya bisa hidup dalam jiwa peminatnya. Sehingga, totalitas dalam memaknai pendidikan sebagai dasar dan tiang moral seseorang (bangsa) kembali menjadi acuan dalam menata peradaban ini.

Kisah duka tentang anak didik yang menendang guru, murid mem-bully orang tuanya, peserta didik merokok di kelas, melawan guru saat dinasihati ke jalan yang baik, dan berbagai cerita hitam tentang manusia pendidikan hari ini membutuhkan koreksi dan evaluasi agar tidak terjadi.

Sehingga, tidak lagi terulang kejadian yang sama. Penulis ulas lagi, biar tidak pernah terjadi kesekian kalinya.

Semua elemen pendidikan dituntut bergerak ke arah yang sama, satu draft pemikiran, bahwa pendidikan yang menjadi bagian dari kehidupan seseorang hakikatnya semata menjaga moral dalam kehidupan agar tertata menjadi lebih baik.

Menjaga Pendidikan Adab

Menggelorakan elemen adab dalam dunia pendidikan kita hari ini menjadi sangat mendesak.

Adab artinya budi pekerti (akhlak al karimah). Istilah adab selama ini dikenal merujuk pada bahasa Arab.

Ada sejumlah ahli yang menegaskan bahwa adab merupakan perilaku baik seseorang secara total.

Ada juga yang menggariskan bahwa adab itu mencakup pikiran, ucapan, tindakan, dan keyakinan.

Artinya, cakupan adab tersebut setidaknya harus total baik. Konteks kajian lokal, orang kampung Madura menyebut adab dengan istilah tengka dan semo.

Patao ka tengka artinya hendaknya mengetahui sopan santun (budaya). Contoh dalam kalimat lain patao ka semo, artinya hendaknya mengetahui tata cara berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku.

Kajian ilmu tarbiyah menempatkan adab sebagi fondasi awal seseorang dalam mencapai puncak keilmuannya.

Maka, sering tersebar slogan hikmah al adab fauqa al-ilmi (ahlak/sopan santun di atas ilmu pengetahuan).

Orang tua di kampung Madura menjadikan adab seseorang sebagai salah satu ukuran akan kharisma dan keilmuan seseorang.

Atas alasan tersebut, maka pendidikan di kampung-kampung Madura menjadikan perilaku, budi pekerti, tata cara menghormati terhadap empat sosok panutan (buppa’, babu’, guru, rato) sebagai kewajiban.

Ada sejumlah metode mungkin untuk menyegarkan kembali tentang pentingnya adab sebagai landasan dalam pendidikan kita.

Pertama, menghidupkan adab dalam semua rangkaian kegiatan pendidikan. Metode pembiasaan yang selama ini hanya sering dipraktikkan di jenjang satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) wajib dilakukan hingga jenjang pendidikan tertinggi seseorang.

Bukan hanya itu, menghidupkan adab sebagai bagian rentetan aktivitas seseorang sehari-hari ini, setidaknya didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Sebab, lingkungan dinilai menjadi pendukung konsistensi dari perilaku beradab harus diciptakan.

Semua orang dengan latar pendidikan yang berbeda-beda setidaknya sama-sama menciptakan lingkungannya beradab.

Kedua, merancang satu monitoring bersama terhadap setiap gejala tidak beradab di lingkungan pendidikan.

Tanggung jawab untuk memberikan sanksi moral dan bahkan sanksi sosial terhadap oknum yang tidak beradab menjadi tanggung jawab bersama.

Satu kasus misalnya, di sekolah ada anak didik yang kurang beradab terhadap pendidiknya, maka yang melakukan evaluasi adalah semua elemen masyarakat.

Sebab, perilaku tidak beradab tersebut menjadi ancaman terhadap masa depan dunia pendidikan.

Terakhir, mari kita jaga dengan baik para pendidik kita yang ada di sekolah/lembaga pendidikan. Mereka adalah elemen penting yang senantiasa lurus dan tulus dalam mengajarkan ilmu dan adab kepada peserta didiknya.

Jasa mereka sangat besar. Sehingga, tidak ada balasan yang setimpal atas jasa mereka kecuali dengan balasan rasa tawadhu’ (tunduk), tha’atan (patuh), dan wa ikraman (memuliakan).

Editor : Amin Basiri