
Oleh Umar Fauzi Ballah
SAYA tahu Haji Her, mula-mula bukan sebagai H. Her yang saat ini sedang viral, tetapi dari berbagai baliho pada hajatan politik 2024 yang lalu dengan nama lengkapnya, H. Khoirul Umam, lalu dalam tanda kurung (H. Her).
Sebagai bagian dari publik yang antipati dengan hajatan tersebut, saya pun tidak suka pada wajah-wajah asing yang memenuhi jalanan dan menjadi sampah visual. Itu adalah perjumpaan pertama saya dengan H. Her walaupun dia bukan sebagai kandidat. Posisinya dalam berbagai baliho adalah sosok yang mendukung.
Perjumpaan kedua saya dengan H. Her adalah "perjumpaan langsung" ketika dengan santai dan elegan, dia menyortir tembakau dari petani. Perjumpaan itu juga terjadi tanpa sengaja melalui media live TikTok. H. Her sedang menghidu rajangan tembakau kering yang disodorkan kepadanya, lalu memberikan harga.
Hal yang membekas dari kejadian itu adalah ketika dia berkata, "Sampean ikhlas ya ceceran-ceceran tembakau ini dibiarkan di sini, nanti akan disatukan." Ada kalimat doa setelahnya; mungkin bisa menjadi umrah bagi karyawannya.
Saya tidak ingat pasti. Dari situ, untuk kali pertama saya tahu bagaimana bos-bos tembakau itu menyortir tembakau dan bagaimana cara mereka menghidu rajangan tembakau untuk dibeli.
Algoritma medsos saya masih perjumpaan dengan H. Her. Puncaknya adalah ketika dia menjadi penyokong ketika memberikan saweran virtual bagi kesuksesan Valen yang sedang berlaga di Dangdut Academy 7.
Dukungan itu terus dia tunjukkan sampai Valen menginjakkan kaki kali pertama di Pamekasan sebagai artis ternama. Saya sempat berbisik pada seorang kawan, "Uang sebanyak itu alangkah sangat bermanfaat jika diberikan kepada fakir miskin.
" Kawan saya menimpali, "Jangan salah, beliau sampai sekarang masih memberikan sumbangan, bahkan pada Palestina." Saya pun terdiam sambil membatin, "Iya ya, dia kaya raya. Uangnya banyak yang bisa dia poskan sesuai keinginannya." Alamat, betapa tidak bijaknya membaca orang kaya dengan kacamata manusia dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.
Semakin ke sini, saya sering bertemu dengan H. Her, tetap melalui algoritma medsos. Ada hal yang cocok dengan pandangan saya. Potongan-potongan ceramahnya, baik formal maupun sekadar obrolan di rumah, saya simak.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




