
Oleh MOHAMAD FATHOLLAH*
PERUNDINGAN Amerika-Iran selama 21 jam pada Minggu (12/4) kemarin mengalami kebuntuan. Dikhawatirkan kegagalan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, tersebut berdampak eskalasi konflik akan semakin tinggi. Secara domino, harga minyak dunia bakal ikut semakin tinggi.
Selat Hormuz yang awalnya tak menjadi medan perang kini seluruh dunia berkonsentrasi ke sana.
Maklum, selat yang dikuasai Iran ini adalah jalur maritim krusial yang menopang sekira 20% hingga 30% dari total pasukan minyak dunia per hari. Artinya, bila Selat Hormuz tutup, harga minyak dunia akan semakin mahal.
Stabilitas negara di seluruh dunia bisa terganggu. Tak hanya harga pasokan energi, barang-barang kebutuhan pokok warga dunia yang berkelindan pada minyak juga akan ikut mahal.
Untuk menyiasati potensi kelangkaan minyak, pelbagai negara telah melakukan berbagai upaya.
Ada yang mulai melirik pengolahan sumber daya energi terbarukan atau yang dikenal energi non-fosil. Hingga melakukan penghematan besar-besaran atas konsumsi minyak bumi.
Seperti di Indonesia, pemerintah Presiden Prabowo per minggu ini telah mencanangkan hemat energi melalui skema WFH (Work From Home) tiap Jumat atau satu hari di akhir pekan untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) dan menganjurkan hal serupa pada sektor swasta.
Skema kerja WFH atau WFA (Work from Anywhere) disebut-sebut sebagai salah satu langkah taktis dalam menyiasati fleksibilitas kerja yang mengharuskan si pekerja dapat bekerja secara remote.
Sederhananya, ASN atau pekerja sektor swasta yang terlibat dalam skema ini tak perlu keluar rumah dalam satu hari dalam sepekan, namun tetap bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing tanpa mengurangi kinerja dan kualitas layanan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




