Pamekasan, RadarMadura.id - Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah VII, I Made Puja Yasam enyampaikan bahwa sampai bulan April di Tahun 2025 Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama secara nasional untuk kasus dan pembiayaan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yangd ijamin oleh BPJS Kesehatan.
Tercatat sebanyak 31.611 kasus DBD telah dijamin dengan total biaya sekitar Rp43miliar.
Adapun rinciannya pada pelayanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP) sebanyak 8.034 kasus dengan biaya sekitar Rp6miliar dan pelayanan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) sebanyak 23.577 kasus dengan biaya sekitar Rp37miliar.
Puja menegaskan penjaminan dan pembiayaan ini menunjukan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjamin pelayanan kesehatan pasien yang didiagnosis DBD dengan syarat status kepesertaannya aktif.
“Peserta JKN aktif dapat mengakses FKTP, yang meliputi Puskesmas, klinik pratama atau dokter
praktik perorangan sesuai dengan tempat peserta terdaftar yg tertera di kartu atau KIS Digitalnya,” jelas Puja.
Penjaminan untuk layanan FKTP mengacu pada Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di FKTP yang
tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1936/2022.
Dan apabila membutuhkan rujukan ke faskes lanjutan penjaminan pada pasien DBD mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 dan Nomor
HK.01.07/MENKES/4636/2021 tentang Tata Laksana Infeksi Dengue Pada Dewasa, Anak dan Remaja.
Puja menambahkan, pada kondisi gawat darurat berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahunn2018 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2018, peserta JKN aktif dapat langsungnmengakses pelayanan kesehatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.
Kriteriangawat darurat dalam regulasi tersebut antara lain mengancam nyawa, membahayakan diri dannorang lain, adanya gangguan pada jalan nafas, adanya penurunan kesadaran, adanya gangguan hemodinamik dan/atau memerlukan tindakan segera.
“Ini tidak hanya untuk DBD, namun juga dalam kondisi kondisi lain sesuai dengan kriteria gawat darurat sebagaimana yang diatur dalam regulasi tersebut.
Dokter penanggung jawab di IGD rumah sakit berwenang menetapkan terpenuhnya kriteria gawat darurat,” tegas Puja.
Ditemui secara terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, Dr. dr. Sutrisno, Sp. OG.K
membenarkan bahwa saat ini kasus DBD memang sedang meningkat sehingga dibutuhkan gerak
cepat dari seluruh pihak dalam penanganan. Terkait penjaminan, Sutrisno menyampaikan pihaknya
telah berkomunikasi dengan BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan agar pelayanan pada
masyarakat tidak terganggu.
“Dari kedua sisi saya mendapatkan insight yang baik. BPJS Kesehatan menegaskan bahwa DBD
ini bisa dijamin sepanjang penegakan diagnosisnya tepat sesuai dengan pedoman pelayanan yang
dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Untuk faskes (fasilitas kesehatan) baik primer (FKTP)
maupun lanjutan (FKRTL) yang melayani (dihimbau) agar lengkap dan teliti dalam melakukan
pemeriksaan dan menegakkan diagnosis agar klaim bisa ditagihkan,” terangnya.
Sutrisno menegaskan setiap faskes tidak perlu ragu dalam memberikan pelayanan kesehatan
kepada peserta aktif JKN.
FKTP dan FKRTL wajib melakukan pemeriksaan agar bisa mendapatkan
diagnosis berdasarkan keluhan-keluhan pasien, kriteria klinis dari seluruh tubuh dan jika perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.
“Dari hasil pemeriksaan, jika gejala tidak membaik kemudian memang perlu rawat inap, ya harus dirawat inap.
Jika ada indikasi perdarahan dan gejala-gejala lain yang perlu dirujuk, ya harus dirujuk.
Tentu pemeriksaanyanya harus dilengkapi dengan baik di rekam medisnya agar bisa di klaim dan dijamin oleh JKN,” jelasnya.
Sutrisno pun menegaskan agar masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengakses layanan kesehatan di faskes yang bekerjsama dengan BPJS Kesehatan.
Jika memang merasa terdapat
gangguan kesehatan, peserta JKN dapat memeriksaan kondisi ksehatannya ke faskes.
“Masyarakat jangan takut, segera saja datang ke faskes. Nanti akan dipilah sehingga emergencynya bisa ditangani, kriteria emergency disini adalah sebuah keadaan yang mendadak, akut dan
mengancam jiwa.
Jika tidak emergency, keluhannya bisa dibantu. Faskes Primer (FKTP) merupakan
frontline untuk keluhan-keluhan kesehatan keluarga.
Dasarnya jangan sampai terlambat, jangan
sampai tidak datang ke faskes karena takut tidak bisa menggunakan JKN,” tambahnya.
Sutrisno berpesan agar peserta JKN dapat dengan tenang mengakses layanan kesehatan, pastikan
kepesertaan JKN tetap aktif dengan membayar iuran tepat waktu.
Ia juga mengingatkan bahwa
masyarakat perlu memahami jika segala sesuatu berangkat dari diri sendiri dan keluarga.
Ketikasudah merasakan ada keluhan, jangan ragu untuk datang ke faskes mitra BPJS Kesehatan sesuai prosedur.
“Karena pihah-pihak yang sudah bekerjasama sudah pasti punya komitmen untuk memberikanpelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.***
Editor : Amin Basiri