SAMPANG, RadarMadura.id – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sampang Fadilah Helmi meraih penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif 2024. Penghargaan itu diberikan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) pada Malam Anugerah Madura Awards 2024 di Sentra IKM Bangkalan, Jumat, 20 Desember 2024.
Fadilah Helmi menjelaskan, untuk menjadi perempuan inspiratif di Madura, khususnya Sampang, tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dilakukan. ”Tentunya tidak lepas dari tantangan dan pengalaman hidup yang mesti dilalui,” katanya.
Istri Cholik Hidayat itu menceritakan, sebagai putri daerah yang terlahir di desa, tepatnya di Kecamatan Omben, dia tidak pernah berkecil hati untuk menjadi yang terbaik. Baginya, walaupun terlahir di desa, semangat dan harapan harus diperjuangkan.
”Mindset mesti tertanamkan, kita harus berhasil dan sukses menjadi orang besar seperti orang di luar sana. Meskipun kita orang desa, jika mau berusaha dan istiqamah belajar, pasti akan dibukakan jalan oleh Sang Pencipta,” katanya.
Putri pasangan H. Helmi Abdurahman dan Hj Tuffa Zahri itu menambahkan, perempuan-perempuan yang terlahir di desa di Sampang khususnya dan di Madura pada umumnya, hendaknya menjadi perempuan yang mandiri.
Dia berpesan agar tidak selalu bergantung pada orang lain, lebih-lebih terhadap orang tua atau suami.
”Cara mewujudkannya yakni terus belajar, percaya diri, dan tidak lupa berdoa pada Yang Mahakuasa,” pesannya.
Keinginan menjadi pemimpin bagi perempuan berhijab itu sudah dicita-citakan sejak masih kecil dan waktu duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dalam mewujudkannya, dia berusaha untuk bisa menjadi pemimpin dimulai dari bawah.
”Saat masih SD waktu mengikuti kegiatan Pramuka, saya menjadi ketua. Kalau ada kegiatan upacara di sekolah, saya menjadi komandan upacara dan sebagainya. Saya selalu berusaha menjadi pemimpin di mana pun berada,” kenang Fadilah.
Raihan prestasi akademik sejak masih SD juga ditorehkan. Meski tidak meraih rangking pertama, setidaknya dapat meraih rangking dua atau rangking tiga. Kemudian, saat SMP tidak meraih rangking.
”Saat sudah di tingkat SMA kelas XI mulai fokus pada jurusan IPS. Alhamdulillah saya mulai bangkit lagi meraih prestasi akademik (ranking kelas) 1,” terangnya.
Perjalanan pendidikannya tidak cukup sampai di situ. Saat menempuh kuliah, dia sambil bekerja. Sebab, meskipun keluarganya mampu membiayai kuliah, keinginan menjadi perempuan yang mandiri tetap tertanam sebagai prinsipnya.
”Sambil kuliah saya bekerja sebagai SPG freelance berjualan pager. Tujuan saya hanya satu, ingin mandiri, tidak bergantung pada orang tua,” katanya.
Orang tuanya memang sudah memiliki toko onderdil. Sebenarnya jika pun dia bekerja di toko tersebut sudah bisa dan mudah.
Namun, dia lebih memilih berusaha dengan hasil keringat perjuangan sendiri. ”Bahkan saya pernah juga bekerja di toko keramik Baliwerti, Surabaya,” ujarnya.
Setelah kuliahnya selesai, dia mencoba melamar menjadi jaksa. Namun, surat lamaran yang dilayangkan tidak hanya satu kali. Tiga kali mengajukan lamaran, dia baru diterima menjadi jaksa.
Karena itu, Fadilah mengajak pemuda, khususnya perempuan, tidak selalu mengandalkan orang tua. Sebab, jika mampu berusaha dengan jerih payah sendiri, hasil dan nikmatnya akan luar biasa.
”Saya waktu kerja jadi SPG upahnya hanya Rp 50 ribu satu kali sif. Sedangkan saat kerja di toko keramik honornya sebulan tidak sampai Rp 2 juta. Namun, itu luar biasa karena hasil keringat sendiri,” paparnya.
Fadilah juga berpesan kepada pemuda agar tidak gengsi dan malu menekuni pekerjaan apa pun. Yang terpenting, kata dia, pekerjaan tersebut halal. ”Karena kunci kesuksesan itu bergantung pada niat, usaha, dan kemauan,” tandasnya. (bai/luq)
Editor : Ina Herdiyana