Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Astaba

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 20 Mei 2025 - 03:44 WIB
Ilustrasi cerpen Astaba dibantu AI.
Ilustrasi cerpen Astaba dibantu AI.

Cerpen KASIH KINANTI*

 

DI rumahmu yang besar ini, kesepian adalah penghuni dan diam-diam menjelma kutukan setiap malam, mungkin juga sebuah makhluk tak kasatmata, yang makin meracuni kesendirianmu di hari tua, setelah anak tak dikandung, suami tak tentu kapan pulang, hilang tanpa kabar. Kini setelah setiap hari kau susah payah  mengurus penyakit dan kemalangamu sendirian, pergi berobat sendiri, mengundang dukun dengan telepon genggammu sendiri, dan berharap kepada dirimu sendiri agar lekas sembuh dan mampu melawan segala kesakitan dalam tubuhmu, rupanya kelelahanlah yang bertakhta, akhirnya kau terkapar sendirian di tempat tidurmu yang pualam, hendak ke kamar mandi pun kau sudah tak mampu melangkahkan kaki, sekarang hanya satu yang kau tunggu, yaitu maut, agar segala penderitaan yang semrawut itu tak lagi menggerogoti tubuhmu.

Harusnya dari dulu kau sadar, Rum. Bahwa seluas apa pun petak tanah yang kau miliki, hakikat tanah tetaplah tanah, darinya kau terbuat padanya pula kau akan dilumat dan dikembalikan, meski berapa hektare pun yang kau miliki, tanah tidak akan pernah memapahmu ke kamar mandi, tidak akan menyuapimu barang sesuap nasi, tidak akan memandikanmu di saat maut menjemput, dan tubuhmu hanya jasad yang begitu menyedihkan dengan sisa penyesalan  mengambang.

”Sum, tanah ini adalah pemberian embu untukku dulu, kenapa kau izinkan menantumu membangun kedai di atasnya tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” tanyamu dengan bengis waktu itu, di tepi jalan, di tengah lalu-lalang orang-orang yang sedang antrean seblak di kedai menantu saudaramu, yang pada dasarnya juga menantumu, Rum. Kau keterlaluan Sum, seakan dia orang asing di matamu. Dia hanya diam berkali-kali. Tidakkah kau mampu merenunginya barang sedikit bahwa kenapa dia hanya diam? Bukankah seharusnya dia melawan ketika harga dirinya ditelanjangi di depan orang-orang.

Aku paham betul tabiatmu, Rum. Kau dan suamimu tidaklah kekurangan sehingga harus mempermasalahkan tanah yang luasnya hanya 4x5 meter persegi itu. Bukan hal itu yang membuat sekam di dadamu bertumpuk menjelma kesesakan kemudian perlahan tersulut dari dalam, namun ada penyakit lain yang menggerogoti, membuat tidurmu makin tak tenang, membuat kejahatan-kejahatan di tempurung kepalamu beranak pinak makin cepat, hingga kemudian berbagai cara kau lakukan untuk mengobati penyakit itu, penyakit iri nan dengki, namun bukan kebenaran yang kau jadikan penawar, melainkan hal-hal yang malah membuat dirimu makin sesak dan terbelenggu.

***

”Apa pun akan aku lakukan, asal kedai menantu Sumyatin itu tak lagi laku!” Sekelebat ingatan berkesiur dari jendela kamarmu, menempel di antara sarang laba-laba, yang kau sendiri tak tahu kapan sarang itu terbentuk di langit-langit. Tentu kau tidak akan pernah lupa kepada hari ketika kau dan suamimu datang ke rumah Ke Mathalil untuk meminta tenung agar dagangan Hosaima–menantu Sumyatin itu tak lagi laku, matamu gatal bukan main ketika kau lihat pelanggannya membeludak, terlebih ketika Ramadan tiba, mereka harus berdesak-desakan dari jam 3 sore sampai azan di masjid berkumandang hanya demi mengantre seblak, geprek, es campur, dan apa saja yang tersaji di sana. Tentu orang-orang akan dengan penuh sukacita menikmati makanan di kedai Hosaima, selain harga terjangkau, dia juga sering memberikan minuman gratis tiga kali seminggu bagi setiap pembeli di bulan Ramadhan, tak jarang dia juga selalu mengantarkan dua nampan berisi nasi dan paha ayam lengkap dengan minuman, pun kurma ke rumahmu, meski kau tak pernah sekalipun sudi membuka pintu untuknya. Lalu terletak pada sisi manakah kesalahan darinya yang kemudian membuat kebencian di hatimu semakin menjadi-jadi? Tidakkah kau malu terhadap dirimu yang mampu dikalahkan oleh kedengkian itu sendiri, hingga tanpa kendali kau lakukan apa yang Ke Mathalil katakan malam itu.

”Taburkan tanah kuburan ini di depan kedainya saat malam Jumat Kliwon nanti.”

”Hanya itu, Ke?

”Hanya itu, tapi baik kamu atau suamimu harus dengan hati yang mantap jangan sampai kalian ragu ini bakal mujarab atau tidak.”

Baca Juga: Pesantren dan Keraguan pada Daya Saing

Pada malam Jumat Kliwon yang telah ditentukan itu, kau sendirian mengendap-endap di antara rerimbun semak belukar di samping kedai Hosaima. Desir angin malam dan suara serangga serta lenguhan sapi di kandang seakan mencium bau busuk rencanamu yang sama sekali tak mencerminkan kemanusiaan itu, bahkan dia adalah menantu saudaramu sendiri. Apa yang kau harapkan dari sepetak tanah dengan luas hanya sekitar 4x5 meter?

Beberapa hari setelah malam jahanam itu, senyum di wajahmu mulai mengembang, paru-parumu seperti menemukan pasokan udara yang lebih. Kini kau lihat warung itu berangsur sepi, beberapa kali Hosaima juga mengeluh nasinya lekas basi. Begitu juga dengan daging ayam di kulkas. Padahal biasanya mampu bertahan walaupun sampi tiga hari. Tak cukup sampai pada malam itu gelagat dari kebencianmu bekerja, kau masih belum juga berhenti bergunjing sana-sini, merayu orang-orang agar tidak membeli.

Di hari yang lain, kau dapati Sum duduk di teras rumahmu, saat itu kau baru pulang dari arisan.

”Ada perlu apa kemari?” delikmu.

Buk, sekali ini tolonglah, jangan lagi kau ganggu anak dan menantuku, tanah yang mereka tempati itu tanahku, Buk. Tidakkah kamu ingat bahwa embu dulu membagi rata tanah ini? Dan tanah yang kini kau tempati sekarang memang sudah bagianmu.”

”Tidakkah kau lihat, mereka berjualan di pojok halaman rumah ini? Tanah 4x5 meter itu juga termasuk halaman rumahku.”

”Tidak Buk, itu sudah masuk dalam bagianku.”

”Tidak bisa, itu masih bagian rumahku. Aku dulu juga sudah membuat pagar rumahku memanjang ke sana, namun malah dirobohkan,” sinismu.

”Baiklah, Buk. Aku juga malu cekcok hanya karena tanah tak seberapa itu. Anggap saja itu milikmu. Tapi begini, bagaimana kalau aku tukar saja dengan tanahku di tepi pantai? Ambillah semuanya, lebarnya juga berkali lipat daripada tanah yang kita permasalahkan ini, asal jangan kau ganggu lagi mereka.”

”Mengganggu apa maksudmu, Sum? Aku tidak pernah mengguna-guna mereka!” napasmu turun naik, matamu seakan hendak keluar dari rongganya, persis seperti sapi karapan yang pantatnya ditancapi paku agar cepat melaju.

”Aku tidak menuduhmu memakai guna-guna, Buk. Hanya selama ini aku tahu bahwa kau menggunjing mereka ke sana kemari, kau menghasut orang-orang agar tidak membeli jualan menantuku!” kesabaran Sum mulai tersulut, betapa pun kau tidak pernah melihat dia naik pitam seperti itu, tapi harusnya kau malu terhadap dirinya yang terlampau sabar menghadapimu, Rum.

”Pergi dari sini, Sum. Saudara macam apa yang menuduh saudaranya sendiri yang bukan-bukan, jangan pernah ke rumahku lagi, apa pun yang terjadi!”

Saudara macam apa pula yang telah berbuat yang bukan-bukan, Rum? Kenapa kau tak menyadari apa yang kau perbuat dan apa yang kau katakan? Hari itu kau hardik Sum dengan berbagai perasaan di dadamu, perasaan takut barangkali? Hahaha... iya..tentu, kau takut perilaku busukmu tercium bukan? Sejak itulah semuanya bermula, Rum. Ketakutan di kepalamu beranak pinak, apalagi setelah berbulan-bulan kemudian kau lihat kedai itu tak sepi lagi, pelanggannya makin ramai, dan kau semakin sibuk mencari dukun yang lain untuk meminta tenung yang lain pula.

Hartamu berangsur terkuras karena sudah tak terhitung berapa kali kau pulang pergi ke daerah-daerah yang jauh, hanya untuk mengguna-guna menantu saudaramu. Namun bukan kesialan seperti yang kau dambakan yang terjadi, malah kedainya makin laku saja, tentu bukan karena mereka juga menggunakan guna-guna, namun mereka percaya bahwa memang hanya pada Tuhanlah mereka berserah. Tidakkah kau tahu bahwa tiap setengah bulan mereka selalu mengundang tetangga untuk istigasah dan khatmil bersama, air semaan dari khatmil itulah yang kemudian mereka minum dan cipratkan ke segala penjuru kedai, termasuk tempat yang telah kau taburi tanah kuburan.

Pikiranmu makin menggila saja setiap hari, uangmu mulai habis, suami yang katanya dulu hendak merantau kini malah tak tentu arah pulang. Barangkali kau telah memasuki fase stres, setelah kau rasakan sakit kepala berkepanjangan, kadang dadamu begitu nyeri, dan malammu penuh dengan mimpi buruk, namun sekali lagi kau lebih percaya berkonsultasi ke dukun daripada ke dokter, sehingga bebagai pendapat pun bermunculan, ada yang mengatakan bahwa tenung yang kau pernah berikan itu kembali pada dirimu sendiri karena kau tak memercayai bahwa hal tersebut bakal mujarab. Ada yang bilang bahwa mereka juga mengguna-gunamu sehingga kau mengalami gejala-gejala yang ganjil itu. Ada yang bilang bahwa kau sendiri telah menginjak tanah pekuburan yang pernah kau tabur di samping kedai. Hingga akhirnya kau makin terjebak dalam semua kegelapan itu, sendirian.

***

Di rumah yang besar itu, semua hal makin menjadi kutukan. Jam dinding melengking nyaring, tiap saat kau selalu waswas dan bertanya-tanya dari manakah malaikat kematian itu akan datang, menjemputmu, mengakhiri segala penderitaanmu, setelah anak tak dikandung, kedengkian malah merundung, suami tak tentu kapan pulang, sanak saudara hilang dalam keangkuhan.

Kini kau mengaku bahwa kau telah kalah, Rum. Dikalahkan oleh dirimu sendiri! (*)

*)Mahasiswa Universitas Annuqayah, santri PPA Lubangsa Putri, bergiat di Komunitas Baca Puisi Alif SENANSA Ikstida, warga UKM Teater Al-Fatihah.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kutukan #tenung #hakikat tanah #dukun #kedai #guna-guna