Deadline Is "Fardhu Ain"

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:18 WIB
Sukma Firdaus
Sukma Firdaus

Oleh Sukma Firdaus*

 

Deadline is fardhu ain” itulah ilmu pertama yang saya dapatkan ketika menjadi bagian dari Jawa Pos Radar Madura pada pertengahan 2012, sepulang saya kuliah dari Yogyakarta. Saya bingung mau bekerja apa, bekerja sebagai tenaga pendidik, sebagaimana keilmuwan yang tertera dalam ijazah S-1, ternyata lagu Iwan Fals "Oemar Bakri" benar adanya.

Dipikir-pikir, kiriman dari orang tua saat kuliah lebih cukup, mencukupi kebutuhan saya. Setelah saya lulus dan menjadi pendidik, sepertinya untuk membeli BBM motor saja harus ekstra hati-hati, apalagi membeli rokok.

Setiap pagi setelah saya mengantar adik sekolah, sebelum beraktivitas lain, saya menyempatkan mampir ke toko majalah di seberang jalan Pendopo Wakil Bupati Pamekasan. Tujuannya satu, untuk mencari informasi, khususnya informasi dari media massa yang bonafide, yaitu koran Jawa Pos dan Radar Madura di dalamnya.

Baca Juga: Radar Madura, Kampus Kehidupan yang Tak Pernah Usai

Di toko majalah itu, tentunya tidak enak jika saya hanya membaca dan pergi, sebab Jawa Pos saat itu harganya sekitar empat ribuan. Koran harian paling mahal, karena memang informasi yang disajikan lengkap dan yang pasti berimbang. Saya harus membeli koran lain yang harganya seribuan, namun tujuan utama ingin membaca Jawa Pos dan Radar Madura.

Kenapa begitu? Pertama, tentunya ingin meng-update informasi, karena saat itu gadget belum populer, smartphone apa lagi, bahkan saat itu saya hanya punya handphone biasa (not-net-not) belum punya BlackBerry yang populer saat itu, maklum "Oemar Bakri". Di situ saya membaca berbagai informasi, maklum baru pulang dari Yogya yang sangat dinamis, di mana bisa gratis membaca berbagai koran di kampus dan di pojok-pojok kampung.

Mencari pojok-pojok kampung yang memajang koran untuk dibaca masyarakat tidak ditemukan di Pamekasan, maka dengan begitulah solusi saya mempunyai informasi. Hal ini terus saya lakukan setiap pagi dengan modal 1.000 membeli koran, namun tujuan utama membaca Jawa Pos dan Radar Madura di tempat. Meski demikian, koran yang harga 1.000 itu tetap saya baca di rumah sampai tuntas.

Setelah kira-kira dua pekan, saya membaca lowongan wartawan di halaman pertama Radar Madura untuk menjadi pencari berita di koran tersebut. Dengan modal pengalaman di kampus, tanpa pikir panjang saya langsung mengirimkan lamaran ke Jawa Pos Radar Madura melalui Kantor Jawa Pos Radar Madura Biro Pamekasan dengan tujuan kantor pusat Jawa Pos Radar Madura di Bangkalan. 

Baca Juga: Koran, Jawa Pos Plus Radar Madura Tetap di Hati

Singkat cerita, selang kira-kira dua pekan berikutnya, di halaman terakhir Jawa Pos Radar Madura, muncul salah satunya nama saya, untuk mengikuti seleksi ke kantor pusat Jawa Pos Radar Madura. 

Setelah mengikuti serangkaian seleksi, termasuk di dalamnya menulis berita dan diwawancara langsung oleh Akhmadi Yasid (Pemred Jawa Pos Radar Madura saat itu), keluar pengumuman bahwa saya diterima dan penempatan tugas di Kabupaten Pamekasan. Tentunya rasa syukur dan bahagia serta bangga saya rasakan, bisa menjadi bagian dari koran terbesar di Jawa Timur bahkan mungkin Nasional.

Hari pertama bekerja, “deadline is fardhu ain”, itu menurut saya ikrar yang wajib diucapkan dan dipegang para wartawan baru Jawa Pos Radar Madura, termasuk saya. Hari pertama sebagai wartawan, diberi tugas menulis dua berita beserta fotonya (diberi pegangan kamera oleh kantor), dengan deadline pukul 16.00.

Alhamdulillah, ini bisa saya selesaikan. Merasa senang dan bangga kembali ketika keesokan harinya dua berita itu terbit dengan identitas saya sebagai penulisnya, walaupun masih berupa kode “C5” (karena masih percobaan/training tiga bulan). Tugas berat untuk bisa lulus tiga bulan ke depan, dari calon wartawan Jawa Pos Radar Madura menjadi wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Baca Juga: Xiaomi Pad 7 Pro vs Huawei MatePad Pro 2026, Tablet Mana yang Paling Cocok untuk Kuliah dan Produktivitas

Hari kedua bekerja, langsung diberi tugas mencari tiga berita setiap hari, dengan dua deadline. Pertama, maksimal pukul 13.00 list tiga berita yang akan ditulis harus sudah dikirimkan ke Kabiro Pamekasan melalui pesan singkat (SMS) karena saya belum mempunyai BlackBerry. Kedua, maksimal pukul 16.00 tiga berita tersebut harus sudah selesai terketik karena akan masuk ruang editor. Bila tidak menepati ini semua, tentunya konsekuensi hanya bekerja tiga bulan saja di sini, bahkan tidak sampai.

Deadline is fardhu ain”, tidak salah ketika kalimat ini selalu ada dalam dada dan kepala saya saat itu, bahkan terus ada hingga sekarang. Dan perlu diingat, selama masa percobaan tiga bulan tidak ada hari libur bagi calon wartawan. Berani libur, berani cukup hanya menyandang gelar mantan calon wartawan Jawa Pos Radar Madura. Disiplin, keras, fokus, itulah fondasi ilmu ketika saya ada pada bagian keluarga besar Jawa Pos Radar Madura.

Fondasi ilmu itu tanpa sengaja dan sadar terus saya bawa dan melekat pada diri saya hingga saat ini. Bahkan, saya terapkan dalam keseharian, termasuk saat ini sebagai Ketua Bawaslu Kabupaten Pamekasan. Terima kasih gemblengannya Radar Madura. “Deadline is fardhu ain” kata ini jika diilmiahkan mungkin menjadi “Disiplin adalah kunci”.

Di tengah gemblengan keras tersebut, tiga bulan berikutnya saya dinyatakan lulus sebagai wartawan Jawa Pos Radar Madura, dan berhak meletakkan inisial "suf" di setiap berita yang saya tulis. "Suf" merupakan kependekan dari nama lengkap populer saya “Sukma Firdaus”. Dengan tetap bertugas di Pamekasan dan diminta untuk lebih fokus di berita hukum dan kriminal.

Hari demi hari saya lalui sebagai wartawan resmi di keluarga besar Jawa Pos hingga 2014, tentunya dengan gaji yang sudah full 100% setara UMR bahkan lebih, bergantung seringnya berita dan foto dimuat di halaman depan. Di sini kompetisi terbuka antar wartawan se-Madura di Jawa Pos Radar Madura dimulai, untuk berebut dimuat di halaman depan setiap harinya.

Baca Juga: Radiator Springs di Ujung Madura: Jalur Mati yang Bisa Dihidupkan Kembali

Sekitar 12 wartawan berkompetisi membuat berita terbaiknya setiap hari, di Biro Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Setiap hari kita dituntut mengasah kemampuan menulis berita, mulai kepekaan isu, pemilihan angle berita, kedalaman data dan fakta, hingga keberanian mengungkap kasus, dengan tetap memperhatikan “deadline is fardhu ain”.

Mengesampingkan deadline, sama saja mengikhlaskan berita yang telah ditulis tidak dimuat dan diterbitkan. Saya harus belajar dan terus mengasah kemampuan menulis setiap hari. Karena ilmu itu dinamis, mengikuti perkembangan zaman. Di Jawa Pos Radar Madura lah saya melakukan dan mendapatkannya, melengkapi keilmuan yang telah saya dapat sejak TK hingga sarjana.

Semakin banyak belajar, semakin banyak ilmu, maka kita sadar bahwa kita ini sebenarnya bodoh. Berangkat dari perasaan inilah, saya melanjutkan kuliah ke jenjang magister melalui penghasilan bekerja sebagai wartawan di Jawa Pos Radar Madura. Harus pandai-pandai memanajemen waktu, dari kewajiban tugas sebagai wartawan dan kewajiban tugas sebagai mahasiswa S-2.

Alhamdulillah itu bisa saya lakukan, dan selesai S-2 tepat waktu, yang total menghabiskan kurang lebih 1/3 penghasilan saya selama menjadi wartawan di Jawa Pos Radar Madura. Terima kasih Jawa Pos Radar Madura, dengan bekerja di sini saya lebih cepat menyandang gelar magister, tidak perlu melamar-lamar beasiswa.

Dengan menjadi bagian dari Jawa Pos, selain ilmu jurnalis dan kedisiplinan didapat, gelar S-2 juga saya sandang. “Deadline is fardhu ain” terpaksa juga harus saya terapkan saat kuliah magister tersebut, semacam menjadi candu.

Baca Juga: Red Magic Astra 2 Resmi Debut Global, Tablet Gaming dengan Layar 185 Hz dan Chip Flagship yang Siap Menantang iPad serta Tablet Premium Lainnya

Waktu terus berjalan, dengan bekal pengalaman sebagai wartawan dan sudah S-2, saya diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri dan salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Pamekasan.

Namun pada akhirnya karena kepentingan pendataan dosen nasional, harus memilih salah satu sebagai perguruan tinggi homebase. Selanjutnya, karena harus melaksanakan kewajiban di keluarga dan kewajiban baru sebagai dosen, saya merasa tidak mampu lagi menjaga amanah ”Deadline is fardhu ain”.

Sebagai laki-laki, saya menghadap pimpinan Jawa Pos Radar Madura, saya menyatakan kalah dan mengajukan permohonan pengunduran diri. Alhamdulillah juga, pimpinan memahami itu, dan saya mendapatkan surat keterangan pernah bekerja di sini (Jawa Pos Radar Madura, Red), tempat yang banyak mengubah pandangan dan cara hidup saya.

Sekarang, saya sedang duduk sebagai Ketua Bawaslu Kabupaten Pamekasan. Beruntung saya pernah belajar di Jawa Pos Radar Madura. Ilmu dan pengalaman di sana (Jawa Pos Radar Madura, Red), saya terapkan di Bawaslu Kabupaten Pamekasan.

Budaya kerja di kantor ini (Bawaslu Kabupaten Pamekasan, Red) saya ajak untuk terus belajar dan mengasah kemampuan pengawasan pemilu setiap hari, kerja fokus, berintegritas, dan berdisiplin, karena disiplin adalah kunci. Itu semua berawal dari candu “Deadline is fardhu ain”.

Selamat Ulang Tahun Jawa Pos Radar Madura yang ke-27 tahun. Terus menjangkau lebih luas, dan tetap konsisten menjadi Korannya Orang Madura. Terima kasih. (suf/han)

*)Penulis adalah alumnus jurnalis Jawa Pos Radar Madura, Dosen Universitas Madura, Anggota Bawaslu Kabupaten Pamekasan 2018-2023, Ketua Bawaslu Kabupaten Pamekasan sekarang.

Editor : Hera Marylia Damayanti
deadline is fardhu ain Disiplin adalah kunci Ikrar jawa pos radar madura wartawan