Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jimat Menuju Kesuksesan

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:46 WIB
Bahrul Ulum, Wartawan Jawa Pos Radar Madura
Bahrul Ulum, Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Oleh Bahrul Ulum

 

Eppa: ”Mangkat, Cong.”

Ebu: ”Salamet, Cong.”

Bine: ”Tekka hajat ban bajjra, Ka.”

Jangan pernah meremehkan tiga kalimat sederhana itu.

DIA bukan sekadar percakapan sebelum seseorang meninggalkan rumah. Bukan hanya tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya tersimpan cinta, kepercayaan, harapan, dan doa yang menjadi bekal paling berharga dalam mengarungi kehidupan.

Seorang ayah mungkin bukan orang yang paling pandai merangkai kata. Kasih sayangnya sering kali tidak tampak dalam pelukan atau pujian. Namun ketika ia berkata, Mangkat, Cong,” sesungguhnya dia sedang menyerahkan anaknya kepada perjuangan.

Kalimat itu berarti, Pergilah dengan keberanian. Jagalah kehormatanmu. Bekerjalah dengan jujur. Jangan pernah menyerah. Pulanglah membawa kebanggaan, bukan penyesalan.”

Lalu terdengar suara ibu, Salamet, Cong.” Hanya satu kata. Namun satu kata itu lahir dari hati yang sepanjang hidupnya tak pernah berhenti mencemaskan anaknya. Tidak ada ibu yang benar-benar tenang ketika anaknya berada di luar rumah.

Setiap langkah anaknya adalah doa. Setiap detik kepergiannya adalah munajat. Setiap sujudnya dipenuhi harapan agar Allah menjaga anaknya dari bahaya, melapangkan rezekinya, menguatkan imannya, dan mengembalikannya dalam keadaan selamat.

Kemudian, ketika seseorang telah berkeluarga, ada satu suara yang melengkapi semuanya. Tekka hajat ben bajjra, Ka.” Kalimat sederhana dari seorang istri yang menyimpan ketulusan luar biasa.

Dia tidak meminta suaminya membawa kemewahan. Dia tidak menuntut pulang dengan kekayaan. Yang diharapkan hanyalah semua urusan dimudahkan, setiap tujuan tercapai, setiap langkah diberkahi, dan suaminya kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Tiga kalimat. Tiga suara. Tiga cinta. Namun berasal dari tiga hati yang paling tulus dalam hidup kita. Ayah memberikan keberanian. Ibu mengirimkan doa. Istri menghadirkan harapan.

Ketiganya adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi sering kali menjadi alasan mengapa langkah terasa ringan, pintu-pintu rezeki terbuka, dan jalan yang tampak sulit akhirnya dipermudah oleh Allah.

Di zaman sekarang, banyak orang mengejar berbagai rumus kesuksesan. Ada yang mencari mentor terbaik, membangun jaringan seluas-luasnya, mengikuti seminar, membaca buku motivasi, hingga mempelajari strategi demi strategi.

Semua itu penting. Namun, ada satu bekal yang sering terlupakan. Restu ayah. Doa ibu. Ketulusan pasangan. Bekal itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa dipinjam. Tidak bisa digantikan oleh jabatan, kekayaan, atau kepintaran.

Karena sering kali bukan kemampuan kita yang mengantarkan pada keberhasilan, melainkan keberkahan dari doa-doa orang yang mencintai kita. Maka, biasakanlah berpamitan sebelum melangkah.

Jangan pernah merasa terlalu sibuk untuk mencium tangan orang tua. Jangan pernah malu meminta doa kepada ibu. Jangan pernah lupa menoleh kepada pasangan dan memohon restunya. Sebab, mungkin yang membuat perjalananmu selamat bukan kehati-hatianmu semata.

Yang membuat rezekimu lancar bukan hanya kerja kerasmu. Yang membuat urusanmu dimudahkan bukan sekadar kecerdasanmu, melainkan ada ayah yang diam-diam bangga kepadamu. Ada ibu yang setiap selesai salat menyebut namamu dalam doa. Dan, ada istri yang menunggu kepulanganmu sambil berharap Allah melimpahkan keberkahan pada setiap langkahmu.

Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, tetapi dari doa siapa yang mengangkat kita. Karena itu, sebelum melangkah mengejar dunia, bawalah tiga kalimat ini sebagai bekal hidup:

Mangkat, Cong. Salamet, Cong. Tekka hajat ban bajjra, Ka. Ingat, kalimat-kalimat sederhana itu jadi jimat menuju kesuksesan.

Jika ketiganya masih mengiringi setiap langkahmu, jangan takut menghadapi kerasnya kehidupan. Sebab engkau tidak hanya berjalan dengan kakimu. Engkau berjalan dengan restu ayah, doa ibu, harapan istri, dan atas izin Allah Yang Maha Menjaga.

Itulah bekal yang tidak pernah kehilangan kekuatannya, di mana pun kita berada dan setinggi apa pun kita ingin menggapai cita-cita. (*/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#restu ayah #ketulusan pasangan #jimat #kesuksesan #doa ibu