Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Merindukan Sakralitas Tadarus Ramadan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 30 Maret 2025 | 17:40 WIB
Yanto Suhaini, alumnus Ponpes Al-Mardliyyah Tagangser Laok.
Yanto Suhaini, alumnus Ponpes Al-Mardliyyah Tagangser Laok.

Oleh YANTO SUHAINI

 

TADARUS merupakan aktivitas fenomenal yang menjadi buah bibir dan terngiang di telinga setiap muslim setiap menjelang Ramadan. Bahkan dengan adanya tadarus, Ramadan menjadi identik dengan bulan Al-Qur’an sejak dahulu hingga sekarang. Sehingga, tak heran jika ada ulama yang menyebut Ramadan sebagai bulan Al-Qur’an dengan tidak melakukan aktivitas lain selain khatmil Qur’an.

Konon, Imam Syafi’i bahkan dikisahkan kerap mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama Ramadan. Itu berarti rata-rata dalam sehari semalam Imam Syafi’i mampu mengkhatamkan bacaan 30 juz sebanyak 2 kali. Karena hal itu memang yang menjadi ciri khas pembeda antara Ramadan dengan bulan-bulan lainnya. Setiap masjid dan musala di pelosok desa dan kota pun hampir dipastikan adanya kegiatan tadarus yang pelaksanaannya sangat beragam, namun pada umumnya dimulai setelah salat Tarawih sampai tengah malam, dan itu pun terkadang tanpa toa (pengeras suara). Peserta tadarus biasanya diikuti oleh anak-anak, remaja, bahkan para sepuh pria dan perempuan semuanya berbaur saling menghormati, mendidik, dan memberi contoh. Dalam tulisan ini kita akan mengulas potret tadarus tempo dulu dan sekarang.

Makna Tadarus

Secara bahasa, tadarus merupakan masdar dari kata ”tadarrasa” dari fiil madhi ”darasa” yang berarti belajar atau membaca dengan mendalami. Sedangkan kata ”tadarrasa” memiliki arti saling belajar antar seorang dengan orang lainnya. Dalam konteks tradisi Ramadan, tadarus merujuk pada aktivitas membaca Al-Qur’an secara bergantian yang melibatkan partisipasi orang lain dalam sebuah majelis.

Karena kegiatan ini memuat makna belajar maka sewajarnya dalam kegiatan tadarus terdapat salah seorang atau beberapa orang yang dianggap memiliki kemahiran dan kefashihan dalam membaca Al-Qur’an tujuannya adalah untuk memberikan pembelajaran membaca Al-Qur’an yang baik dan benar (tartilan) kepada para peserta yang lain bila mana terdapat bacaan-bacaan yang keliru atau kurang tepat. Jika mengutip laman resmi Nahdlatul Ulama (NU), tadarus Al-Qur'an artinya kegiatan mempelajari, mengkaji, menelaah, serta mendalami secara bersama-sama. Namun dalam realitasnya di lapangan, khususnya di perdesaan, tadarus hanya fokus pada kemahiran dan kefasihan membaca Al-Qur’an. Kegiatan tadarus ini biasanya dilakukan dua atau tiga orang bahkan lebih, sehingga apabila hanya dilakukan oleh seorang saja tidak dinamakan tadarus.

Potret Tadarus Tempo Dulu

Di pelosok perdesaan, tadarus merupakan salah satu kegiatan yang memiliki nilai sakralitas yang cukup unik karena mengandung nilai-nilai edukatif. Hal itu dapat digali dari beberapa aktivitas yang terdapat di dalamnya. Tadarus biasanya dilaksanakan dalam bentuk lingkaran dan dimulai oleh imam tarawih atau orang lain yang dianggap memiliki kefasihan dan kemahiran bacaan Al-Qur’an. Hal itu dilakukan untuk memberikan contoh kepada peserta tadarus, terutama peserta yang terbilang masih anak-anak atau remaja yang notabene kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an masih sangat standar atau mungkin masih di bawah standar.

Mereka yang dianggap memiliki kemahiran dan kefasihan membaca Al-Qur’an berfungsi sebagai korektor yang mengoreksi setiap bacaan peserta yang sedang kebagian giliran membaca. Sedangkan peserta yang lain juga fokus menyimak dan memperhatikan bacaan setiap bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil. Tidak ada langgam khusus yang menjadi standar dalam tadarus. Semua peserta membaca Al-Qur’an dengan aneka ragam langgam masing-masing peserta.

Pada sisi yang lain, kedisiplinan menjadi salah satu warna tersendiri dalam kegiatan tadarus yang tercermin dari aktivitas giliran membaca tanpa membedakan usia dan tidak ada yang pindah-pindah tempat duduk. Bahkan, urutan tersebut terus berlanjut sampai kegiatan tadarus selesai tanpa ada yang keluar duluan dari lingkar giliran. Rasa bangga para orang tua menjadi salah satu support dan motivasi bagi anak-anak dan remaja agar aktif terlibat dalam kegiatan tadarus di musala dan masjid, sehingga jarang sekali anak-anak dan remaja berkeliaran di luar (rumah) sebelum selesai kegiatan tadarus.

Suguhan tetangga dekat tempat tadarus berupa kue, tajin, dan kolak menjadi salah satu edukasi pentingnya bersedekah di bulan Ramadan. Hal unik yang terdapat di dalamnya adalah, siapa pun yang ingin menikmati suguhan tersebut tidak diperbolehkan makan sambil pegang Al-Qur’an apalagi sambil membacanya, hal itu dianggap tidak etis terhadap Al-Qur’an. Sehingga, peserta yang ingin menikmati suguhan tersebut atau mungkin ingin merokok dan minum kopi harus berada di luar lingkar giliran. Dengan kata lain, bahwa peserta tadarus harus betul-betul mampu mengondisikan diri untuk bertadarus sebelum duduk bergabung dalam lingkaran.

Tadarus Era Transformasi Digital

Disadari atau tidak, digitalisasi telah memberikan banyak perubahan dalam seluruh aktivitas manusia, termasuk dalam ritual keagamaan. Banyaknya user gadget atau smartphone menjadi salah satu penanda semakin tingginya kebutuhan manusia terhadap digitalisasi. Khususnya dalam hal bermedia sosial, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Menjelang Ramadan, sering kita temukan di Facebook, WhatsApp, Instagram, dan platform media sosial lainnya tentang story dan informasi seputar kebahagiaan Ramadan yang dirasakan sejagat manusia, termasuk story pada saat tadarusan di musala dan masjid. Namun jika kita flashback ke masa lalu, akan dirasakan adanya pergeseran kegiatan tadarus tempo dulu dan sekarang.

Nomophobia (no mobile phone phobia) merupakan suatu kondisi ketika seseorang merasa takut apabila jauh dari smartphone-nya karena merasa ada sesuatu yang hilang atau kurang dari dirinya. Situasi ini merupakan salah satu ”penyakit” yang menjadi penyebab terkikisnya sakralitas dalam kegiatan tadarus di musala atau masjid tempo dulu. Keberadaan smartphone di tangan dapat mengganggu konsentrasi dan keseriusan dalam kegiatan tadarus apabila seseorang tidak mampu mengontrol diri dalam menggunakan smartphone. Padahal, penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menimbulkan adiksi atau kecanduan pada diri seseorang yang pada jangka panjangnya menyebabkan munculnya sikap ”abai” terhadap situasi dan kondisi tertentu, termasuk dalam aktivitas tadarus di bulan Ramadan.

Jadi bukan sesuatu yang mustahil jika dalam kegiatan tadarus zaman sekarang tidak lagi ada aktivitas saling belajar antar sesama anggota tadarus. Bahkan mungkin adanya pembiaran tanpa koreksi bacaan Al-Qur’an sudah dianggap biasa karena rendahnya sikap kepedulian untuk menyimak dan mengamati bacaan yang dibaca oleh peserta lain. Setelah mendapat giliran membaca Al-Qur’an langsung keluar, atau ngobrol sendiri dengan smartphone-nya atau mungkin dengan orang yang ada di dekatnya.

Tidak dipungkiri, di mana-mana dan kapan pun smartphone selalu ada dan mengikuti aktivitas manusia, khususnya remaja sebagai user tertinggi. Smartphone tentu bermanfaat bagi kehidupan, tetapi jika lalai dan kurang bijak dalam menggunakannya justru akan mengendalikan hidup manusia, termasuk dalam urusan keluarga, ibadah, bisnis, dan lainnya. Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini sudah selayaknya kita harus mampu menjadi smart people, yakni orang yang cerdas dalam membaca Al-Qur’an dan cerdas dalam memahami kandungannya serta cerdas dalam mengondisikan interaksi dengan smartphone yang kita miliki, khususnya ketika kita sedang duduk berkumpul dalam suatu majelis tadarus misalnya. Wallahu a’lam. (*)

*)Alumnus Ponpes Al-Mardliyyah Tagangser Laok

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #digitalisasi #smartphone #Al-Qur'an #tadarus