
Oleh: Umarul Faruk, M.Psi. (Dosen UIN Madura)
SEMPAT terbayangkan saat pagi di halaman kampus. Tepat di tengah keramaian mahasiswa yang berjalan sambil menatap layar handphone, ada yang sibuk dengan media sosial, ada juga yang sibuk mencari referensi untuk persiapan presentasi, tiba-tiba hadir sosok perempuan dengan memakai kebaya sederhana dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Ia memerhatikan semua yang ada di sekitarnya, gedung-gedung tinggi, orang-orang yang sibuk dengan handphone-nya, dan ruang belajar yang kini sudah dipenuhi dengan media teknologi. Sosok itu adalah Raden Ajeng Kartini. Coba kita bayangkan tentangnya.
Panggung Sosial di Era Digital
Dalam konteks psikologi, diakui dan dihargai merupakan bentuk kebutuhan setiap manusia yang dikenal sebagai social validation.
Di era digital saat ini, hal tersebut sudah menemukan panggungnya.
Banyak orang berkompetisi menjadi terbaik versi dirinya, baik melalui penampilan, gaya, dan aktivitas yang sekiranya menarik perhatian. Bahkan, mahasiswa pun juga tidak luput dari fenomena seperti ini.
Penampilan menjadi bahasa pertama yang berbicara sebelum keilmuan sempat menjelaskan siapa diri mereka.
Andai Kartini hidup hari ini, kemungkinan ia tersenyum melihat keadaan saat ini. Betapa luasnya akses pendidikan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




