Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa dan 3 Pilar Pendidikan Profetik

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 7 Maret 2025 | 11:56 WIB
Suwantoro, alumnus PP Riyadlus Sholihin Laden, Pamekasan, mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.
Suwantoro, alumnus PP Riyadlus Sholihin Laden, Pamekasan, mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.

Oleh SUWANTORO*

 

PUASA merupakan ibadah yang memiliki multidimensi, tidak hanya mencakup aspek spiritual, tetapi juga aspek lainnya, seperti sosial dan pendidikan. Ibadah puasa yang kita tunaikan dari dulu hingga sekarang (1446 Hijriah), bukan sekadar bentuk ketaatan kepada Allah sebagai umat Islam (aspek spiritual semata).

Tetapi, juga menjadi sarana untuk melatih diri sekaligus mengasah kepekaan sosial terhadap sesama. Selain itu, puasa juga berperan dalam pembentukan karakter manusia sebagai salah satu dimensi pendidikan yang terkandung di dalamnya.

Dalam Islam, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses internalisasi nilai moral dan peningkatan ketakwaan. Hal ini sesuai dengan tujuan puasa dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa.

Ketakwaan ini membuat manusia lebih sadar akan hubungannya dengan Allah, sesama, dan juga lingkungannya. Pendek kata, puasa bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga sarana meningkatkan ketakwaan dan memperkuat pendidikan karakter manusia.

Seorang ahli tafsir terkemuka Muhammad Ali ash-Sabuni dalam buku Berpuasa Bukan Bersandiwara menjelaskan, ibadah puasa memiliki tujuan yang sangat besar. Pertama, puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan bagi manusia agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Kedua, puasa melatih jiwa untuk tetap sabar dan kuat dalam menghadapi berbagai ujian serta menjalankan perintah-Nya.

Ketiga, puasa membantu menumbuhkan rasa kasih sayang dan mempererat persaudaraan. Sehingga, memunculkan empati untuk membantu sesama yang membutuhkan. Keempat, puasa menanamkan kesadaran spiritual yang lebih dalam. Sehingga, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. (Owen Putra, 2014:24).

3 Pilar Pendidikan Profetik

Dalam perspektif pendidikan Islam, ibadah puasa memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan konsep pendidikan profetik yang berlandaskan pada tiga pilar utama. Yaitu, humanization (humanisasi), liberation (liberasi), dan transcendence (transendensi). Ketiga pilar tersebut sangat pas dijadikan kerangka dalam membangun manusia yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga kepekaan sosial serta spiritual yang tinggi.

Istilah prophetic berasal dari bahasa Inggris prophet, yang berarti ”nabi”. Sedangkan prophetic bermakna ”bersifat kenabian”. Sifat ini merujuk pada karakter nabi, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fatanah.

Nabi bukan hanya manusia ideal secara spiritual, tetapi juga pelopor perubahan dan pembimbing masyarakat. Mereka berjuang tanpa henti melawan penindasan. Maka, dalam konteks ini, Ali Syariati, dikutip oleh Munawaroh dalam Ikmal, menyatakan bahwa para nabi tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga membawa ideologi pembebasan (Munawaroh, 2020:25).

Prinsip profetik mengacu pada integrasi berbasis Al-Qur’an dan al-Sunnah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam puasa, prinsip ini terlihat dari keseimbangan spiritual dan sosial. Puasa tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial.

Hal ini sejalan dengan humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam pendidikan profetik. Tiga dimensi tersebut menanamkan nilai kemanusiaan, membebaskan dari ketertindasan, dan mengarahkan manusia pada kesadaran ketuhanan.

Pilar humanisasi sebagai pilar pertama dalam pendidikan profetik yang menekankan keadilan dan penghargaan terhadap perbedaan. Semua manusia dipandang setara sebagai ciptaan Tuhan, sehingga harmoni dapat terjaga.

Puasa menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Kesadaran ini mendorong solidaritas dan persaudaraan. Dengan demikian, puasa menjadi sarana membangun nilai kemanusiaan.

Pilar kedua adalah liberasi, yang berfokus pada pembebasan dalam berbagai aspek kehidupan. Kuntowijoyo menyebut empat sasaran utama: pengetahuan, sosial, ekonomi, dan politik.

Liberasi pengetahuan membebaskan manusia dari materialisme dan dominasi kelas atau gender. Liberasi ekonomi berkaitan dengan pembangunan dan keadilan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Sementara itu, liberasi politik bertujuan menghapus otoritarianisme dan neofeodalisme (Muhammad Zainal Abidin, 2016:157).

Liberasi dalam pemikiran Kuntowijoyo sejalan dengan nilai puasa yang sedang kita jalani saat ini. Puasa melatih manusia membebaskan diri dari hawa nafsu, materialisme, dan ketimpangan sosial.

Dalam pengetahuan, puasa mendorong refleksi spiritual. Secara sosial, puasa menanamkan kesetaraan, karena semua merasakan lapar. Dalam ekonomi, puasa mengajarkan kepedulian dan berbagi untuk mengatasi kesenjangan. Begitupun secara politik, puasa menanamkan kejujuran dan integritas untuk melawan otoritarianisme dalam kelompok atau komunitas.

Sedangkan pilar yang terakhir adalah transendensi. Roger Garaudy, dalam Fahmi yang dikutip oleh M. Hadi Purnomo, menjelaskan transendensi dari tiga aspek. Pertama, manusia bergantung pada Sang Pencipta. Kedua, ada hubungan dan ukuran bersama antara Tuhan dan manusia. Ketiga, terdapat norma mutlak yang melampaui akal manusia. Konsep ini menjadi landasan dalam humanisasi dan liberasi, memastikan keduanya tetap dalam kerangka transendensi (M. Hadi Purnomo, 2016:46).

Dalam konteks puasa, tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang bertakwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga kualitas ibadah agar tetap bernilai spiritual. Transendensi dalam puasa menanamkan kesadaran akan keterbatasan manusia dan ketergantungannya kepada Tuhan. Selain itu, puasa mengajarkan kerendahan hati dan mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah milik-Nya (titipan).

Secara keseluruhan, puasa bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebuah proses pembentukan karakter dalam perspektif pendidikan profetik. Dengan menjalankan puasa secara benar dan penuh kesadaran, maka akan lahir manusia-manusia yang humanis, memiliki jiwa merdeka, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Mahakuasa.

Semoga ibadah puasa yang kita jalani tahun ini membawa dampak, memiliki keberkahan dan menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik, lebih humanis, lebih merdeka, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin. Wallahu alam. (*)

*)Alumnus PP Riyadlus Sholihin Laden Pamekasan, mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #humanisasi #Liberasi #pendidikan profetik #transendensi #pendidikan karakter #3 pilar #membangun nilai kemanusiaan #pembentukan karakter #ibadah puasa #bernilai spiritual