
PAMEKASAN, RadarMadura .id - H. Khairul Umam atau Haji Her menjadi salah satu bukti bahwa santri mampu meraih kesuksesan secara ekonomi.
Pengusaha tembakau, garam, dan sejumlah bidang usaha lainnya itu tetap bangga mengenakan sarung dan kopyah sebagai identitas santri yang melekat dalam dirinya.
Penampilan ala santri itu dipertahankan dalam kegiatan formal maupun nonformal.
Baginya, sarung dan kopyah bukan sekadar pakaian, melainkan bagian dari identitas yang tak perlu ditinggalkan setelah meraih kesuksesan.
”Ini loh, santri juga bisa banyak uang. Maksudnya begini, saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa sukses,” ucap CEO Bawang Mas Group itu.
Perjalanan Haji Her sebagai santri dimulai di Pondok Pesantren Al-Falah Sumber Gayam, Kecamatan Kadur, Pamekasan.
Dia menimba ilmu di pesantren tersebut sejak 1991 hingga 2000, mulai dari madrasah ibtidaiyah (MI) sampai madrasah aliyah (MA).
Sembilan tahun hidup di pesantren meninggalkan banyak kenangan. Salah satu yang paling membekas justru hal sederhana, yakni air pet, air sumur, dan air mentah yang menjadi bagian dari kesehariannya.
”Momen yang paling berkesan itu ya ketika saya dan teman-teman santri lainnya minum air kran, air sumur, air mentah. Itu air sehat bagi saya,” sambungnya.
Kehidupan pesantren juga menanamkan nilai berbakti kepada orang tua dan guru yang terus dipegangnya hingga kini.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




