Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

BPS Sumenep: Angka Inflasi Perlu Dibaca Konteks dan Pemicunya

Amin Basiri • Selasa, 7 Juli 2026 | 08:31 WIB
SUMBER PENGHASILAN: Pedagang menjaga dagangannya di Pasar Anom Baru Sumenep, Minggu (28/6).
SUMBER PENGHASILAN: Pedagang menjaga dagangannya di Pasar Anom Baru Sumenep, Minggu (28/6).

SUMENEP, RadarMadura.id – Perbedaan capaian inflasi Kabupaten Sumenep yang tercatat sebagai yang terendah secara bulanan (m-to-m), namun tertinggi secara tahunan (y-to-y) di Jawa Timur, dinilai bukan sebagai sesuatu yang bertentangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan angka inflasi harus dipahami berdasarkan periode perbandingan serta komoditas yang menjadi pemicunya.

Kepala BPS Kabupaten Sumenep Handoyo Wijoyo mengatakan, inflasi bulanan dan tahunan memiliki fungsi yang berbeda dalam menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa.

Karena itu, kedua indikator tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung tanpa melihat konteksnya.

Menurutnya, inflasi bulanan lebih mencerminkan perubahan harga dalam jangka pendek yang dipengaruhi faktor musiman.

Sementara inflasi tahunan menggambarkan perubahan harga dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Inflasi bulanan maupun tahunan sama-sama penting. Penggunaannya bergantung pada tujuan analisis yang dilakukan,” katanya.

Dia menjelaskan, suatu komoditas dapat mengalami kenaikan atau penurunan harga yang cukup tajam dalam satu bulan, tetapi secara tahunan perubahannya belum tentu besar.

Begitu pula sebaliknya, kenaikan harga yang terjadi secara bertahap selama setahun dapat membuat inflasi tahunan tetap tinggi meski inflasi bulanannya rendah.

Karena itu, Handoyo mengingatkan agar pembacaan data inflasi tidak hanya terpaku pada besaran angkanya.

Analisis juga perlu diarahkan pada komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap perubahan inflasi.

“Yang terpenting adalah melihat komoditas apa yang menjadi penyebab inflasi tersebut,” tegasnya.

Berdasarkan rilis BPS, inflasi Sumenep pada Juni 2026 secara bulanan tercatat sebesar 0,01 persen, menjadi yang terendah di Jawa Timur.

Sepanjang tahun berjalan, BPS mencatat inflasi Sumenep sebesar 2,08 persen. Angka tersebut menjadi terendah kedua di Jawa Timur.

“Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulanan antara lain bensin, angkutan udara, emas perhiasan, pembalut wanita, dan seragam sekolah wanita,” ucapnya.

Di sisi lain, inflasi tahunan Sumenep pada Juni 2026 mencapai 4,48 persen atau tertinggi di Jawa Timur.

Meski demikian, angka tersebut menurun sekitar 0,64 poin dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 5,12 persen.

Menurut Handoyo, inflasi tahunan terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta penyediaan makanan dan minuman restoran.

Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar setelah harganya meningkat sekitar 38,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dia menambahkan, perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi indikator penting dalam memantau dinamika harga barang dan jasa.

“Inflasi yang rendah dan stabil diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tandasnya. (tif/yan)

Editor : Amin Basiri
#BPS Sumenep #ekonomi #inflasi