Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ponpes Nurul Islam Padukan Warisan Keilmuan Pesantren dengan Sentuhan Teknologi Modern:  Merawat Tradisi, Menyulam Masa Depan

Amin Basiri • Selasa, 24 Maret 2026 | 06:31 WIB
TEGAS: Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam KH Ilyas Siraj (jas hitam) dalam sebuah acara.
TEGAS: Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam KH Ilyas Siraj (jas hitam) dalam sebuah acara.

Di tengah arus zaman yang terus bergerak cepat, Pondok Pesantren Nurul Islam di Sumenep tetap teguh menjaga akar tradisinya. Dari musala sederhana pada 1960-an, lembaga ini tumbuh menjadi ruang belajar yang tak hanya menanamkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga merangkul kemajuan teknologi demi menyiapkan generasi masa depan.

PONDOK Pesantren (Ponpes) Nurul Islam terus mengembangkan sistem pendidikan dengan memadukan tradisi pesantren dan kebutuhan pendidikan modern.

Lembaga ini didirikan KH Sirajuddin pada 1960-an, berawal dari sebuah musala yang menjadi tempat anak-anak belajar mengaji.

Ketua Yayasan Ponpes Nurul Islam KH Ilyas Siraj menjelaskan, pada awal berdirinya, kegiatan mengaji di musala tersebut berlangsung layaknya pengajian kampung.

"Pembelajaran dimulai selepas magrib hingga menjelang subuh. Seiring waktu, kegiatan itu berkembang dengan hadirnya santri yang mukim di lingkungan pesantren", ujarnya.

Dengan adanya santri mukim, aktivitas pendidikan yang semula hanya berlangsung malam hari berkembang menjadi pembelajaran selama 24 jam.

"Pada masa awal, fasilitas pesantren masih sangat sederhana. Para santri tinggal di pondok berbahan seadanya dan membawa perlengkapan sendiri", katanya.

Perkembangan pendidikan formal dimulai pada akhir 1960-an dengan berdirinya madrasah ibtidaiyah (MI) dalam kondisi terbatas.

Selanjutnya, madrasah tsanawiyah (MTs) berdiri pada 1975, disusul madrasah aliyah (MA) pada dekade 1980-an.

Meski terus berkembang, Nurul Islam tetap mempertahankan jati dirinya sebagai pesantren berbasis pendidikan keagamaan.

Nurul Islam tetap berorientasi pada pendidikan keagamaan, tetapi juga akomodatif terhadap perkembangan dan kebutuhan santri untuk masa depan, tegasnya.

Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah penguatan pendidikan berbasis teknologi dan digitalisasi.

Pesantren memandang penting kesiapan santri dalam menghadapi perkembangan zaman.

Dalam pembinaan mental dan keagamaan, pesantren memiliki sejumlah lembaga pendukung.

Seperti tahfiz Al-Quran serta pengembangan bahasa asing meliputi Arab, Inggris, dan Mandarin.

Selain itu, Nurul Islam juga mengembangkan program pondok transit, konsep yang relatif jarang ditemui di pesantren lain.

"Program ini diperuntukkan bagi siswa MI yang mengikuti sekolah formal pada pagi hari dan melanjutkan pembelajaran Al-Quran pada sore hari. Program ini tidak wajib, tetapi berdasarkan kemauan siswa", ujarnya.

Melalui program tersebut, siswa tidak perlu pulang setelah sekolah. Pesantren menyediakan fasilitas istirahat dan belajar hingga kegiatan sore selesai.

Program Al-Quran berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Al-Quran (LPQ) yang meliputi TPQ, MQ, dan MHQ. 

Setelah kegiatan berakhir sekitar pukul 17.00, siswa diantar pulang ke titik penjemputan yang telah disepakati bersama wali santri.

Menurut Ilyas, program tersebut tidak hanya memperkuat pembelajaran Al-Quran, tetapi juga mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai. Program ini sudah berjalan sekitar lima tahun dan berdampak positif.

"Jumlah siswa MI per angkatan yang sebelumnya sekitar 40 orang kini meningkat menjadi 60 siswa", jelasnya.

Saat ini Ponpes Nurul Islam memiliki jenjang pendidikan lengkap, mulai dari PAUD, TK, MI, MTs, MTs Tahfiz, hingga SLTA yang terdiri atas MA dan SMK dengan jurusan arsitektur.

Selain itu, tersedia pula Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran.

Sebagai pendukung, pesantren juga memiliki lembaga pengembangan bahasa, LPQ, serta Balai Latihan Kerja (BLK) di bidang teknik informatika dan multimedia.

"Melalui berbagai program tersebut, kami berupaya menghadirkan pendidikan yang tetap berakar pada tradisi pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman", tandasnya. (tif/han)

Editor : Amin Basiri
#nurul islam #karang cempaka #sumenep #pesantren