SUMENEP, RadarMadura.id – Pondok pesantren (ponpes) berperan besar dalam memproduksi keilmuan. Keilmuan itu kerap dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal itulah yang hingga saat ini dilakukan santri di Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep.
Pengembangan literasi di Al-Amien Prenduan terus berjalan. Hal itu dapat dibuktikan dengan berbagai macam prestasi yang diraih santri di bidang kepenulisan, apresiasi karya, pembacaan puisi, dan lainnya.
”Setiap santri itu harus punya yang namanya kompetensi. Pilihannya macam-macam. Ada santri yang fokus mengembangkan bahasa, seni, musik, menulis, dan lainnya,” terang Pembina Komunitas Literasi di Al-Amien Prenduan Ali Ibnu Anwar.
Penulis buku kumpulan puisi Syahwat Batu itu menjelaskan, sebagian besar santri Al-Amien Prenduan memang lebih banyak mendalami kompetensi pilihan berupa tulisan. Sebab, pembinaan kompetensi ini memang paling intens.
Menurut dia, gairah literasi di Al-Amien Prenduan bergerak di komunitas-komunitas. Yakni, Sanggar Sastra Al-Amien untuk santri putra dan Sanggar Vilia untuk santri putri.
Kelompok-kelompok ini merupakan orang-orang pilihan yang memang sangat konsisten menulis. ”Sehingga pembinaannya dalam mematangkan karya mereka itu lebih intensif,” ujar penulis buku Garam Mengaku Ikan, Cinta Merampas Metafora itu.
Ali mengungkapkan, setiap tahun pasti ada buku yang diterbitkan. Buku-buku itu berupa kumpulan puisi, cerpen, dan artikel yang sifatnya kolektif. Namun, ada juga yang sifatnya pribadi. Saat menjelang wisuda, ada tradisi membuat buku bagi santri.
”Tetapi, tidak semua buku dicetak. Misalnya, dari 250 orang yang diwisuda, paling ada sekitar 150–200 orang yang menulis buku,” terangnya.
Semua tulisan itu sesuai dengan keahlian santri. Misalnya, ada santri yang punya kemampuan fotografi, mereka menulis hal yang berkaitan dengan fotografer. Bagi yang punya kemampuan di bidang MIPA akan menulis tentang kultur tumbuhan dan sebagainya.
”Setiap kompetensi yang mereka miliki itu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Jadi, tidak hanya di sastra, tetapi meliputi semua bidang keilmuan,” ungkap pria kelahiran Jember, 4 Mei 1986 itu.
Salah seorang ustad di Ponpes Al-Amien Prenduan Fahmy menambahkan, menulis itu menjadi tantangan tersendiri bagi santri.
Dengan kegiatan padat di pesantren, santri dituntut cerdas dalam mengatur waktu sehingga bisa melahirkan karya. Misalnya, menarget dalam satu kali duduk harus menulis dua sampai tiga judul.
”Tetapi, kebanyakan santri itu menulis di waktu malam hari habis salat Isya sampai pukul 10 malam,” tuturnya. (tif/luq)
Editor : Ina Herdiyana