Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Said Abdullah Libatkan Guru Ngaji Perkuat Empat Pilar Kebangsaan

D
Penulis: Dafir.❯
Sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, De Baghraf Hotel Sumenep.
Sosialisasi empat pilar kebangsaan di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, De Baghraf Hotel Sumenep.

Advertisement

SUMENEP – Penguatan nilai-nilai kebangsaan tidak cukup hanya dilakukan melalui jalur pendidikan formal. Guru ngaji di tingkat akar rumput juga dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan sosial, politik, hingga pengaruh global yang semakin kompleks.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI Madura, MH Said Abdullah, di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, De Baghraf Hotel Sumenep, Selasa (23/6).

Kegiatan yang diikuti guru ngaji dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep itu diawali dengan istighasah untuk keselamatan bangsa yang dipimpin KH Jumaatun. Hadir sebagai narasumber Amir Syarifuddin dan Slamet Wahedi. Turut mendampingi dua tenaga ahli MH Said Abdullah, Moh Fauzi dan Slamet Hidayat.

Advertisement

Dalam pemaparannya, Amir Syarifuddin menekankan pentingnya pemahaman agama yang utuh agar tidak melahirkan sikap ekstrem maupun intoleran. Menurutnya, pemahaman keagamaan yang sempit berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam memaknai ajaran Islam.

“Kadang ada yang hanya melihat teks, tetapi mengabaikan konteks. Padahal satu ayat bisa memiliki banyak tafsir dan penjelasan. Pemahaman yang sempit berpotensi melahirkan sikap yang justru bertentangan dengan nilai agama itu sendiri,” ujarnya.

Amir menilai tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan ideologi. Fanatisme sempit, lemahnya penegakan hukum, hingga derasnya arus globalisasi juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Advertisement

Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan memahami persoalan secara utuh agar tidak mudah terjebak pada prasangka maupun informasi yang hanya menampilkan sisi permukaan.

“Yang tampak di luar belum tentu sama dengan yang terjadi di dalam. Karena itu penting bagi masyarakat untuk memahami persoalan secara lebih mendalam,” katanya.

Sementara itu, Slamet Wahedi menegaskan bahwa kebangsaan harus menjadi perekat seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok.

Menurut dia, perbedaan pandangan terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif tanpa menghilangkan semangat persaudaraan sesama anak bangsa.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kelangkaan Solar Ganggu Aktivitas Nelayan, DPR RI Dorong Pemerintah Cari Solusi

Kelangkaan Solar Ganggu Aktivitas Nelayan, DPR RI Dorong Pemerintah Cari Solusi

Anggota DPR RI Ansari mengatakan, selain persoalan BBM, pihaknya mendorong pemerintah memberikan kemudahan perizinan bagi masyarakat pesisir.

Dihadiri Pimpinan Komisi X DPR RI, FH UTM Gelar FGD Bahas Kodifikasi Sistem Pendidikan Nasional

Dihadiri Pimpinan Komisi X DPR RI, FH UTM Gelar FGD Bahas Kodifikasi Sistem Pendidikan Nasional

UTM gelar FGD untuk membahas urgensi kodifikasi sistem pendidikan nasional dalam satu undang-undang

Pertahanan Semesta dan Wajib Militer

Pertahanan Semesta dan Wajib Militer

SELAMA ini, isu tentang militer dan demokrasi sering ditempatkan dalam posisi yang berhadap-hadapan. Padahal, keduanya tidak semestinya ditempatkan dalam posisi yang diametral. Dalam konteks Indonesia, pandangan tersebut

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer