SUMENEP, RadarMadura.id – Raut wajah Afi tidak bisa menyembunyikan perasaaan senang dan bahagianya di ruang tunggu pesantren Kamis (17/10).
Hari itu santri bernama lengkap Wafiwatun Nuraniyyah tersebut menceritakan perjuangan meraih juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional.
Warga Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, Sumenep, itu melalui proses panjang. Saat proses seleksi hingga mengikuti lomba harus mengorbankan ujian wajib di pondok pesantren. Bahkan, ibunya meninggal dunia ketika Afi mengikuti seleksi tingkat provinsi.
Ibunya meninggal saat melahirkan adik ketiganya. Perempuan kelahiran 13 Juli 2007 itu memiliki dua saudara. Yaitu, Shofwah Izzana yang duduk di kelas V SD dan Nur Qurroti A’yun yang masih kelas I SD.
Putri pasangan Moh. Anwar Santriwati dan Juhartini itu mengikuti seleksi MTQ tingkat kecamatan.
Materi lomba yang diikuti berubah-ubah. Mulai dari 5 juz tilawah dan lainnya. Hingga akhirnya lolos dan diutus untuk mengikuti lomba MTQ tingkat provinsi dengan materi lomba cerdas-cermat Al-Qur’an.
Cerdas-cermat ini melibatkan tim dengan tiga anggota. Teman setimnya saat lomba di tingkat provinsi tersebut masih satu pondok dengannya di Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep. Yaitu, Nur diana Alisa Rahma dan Fithriyyah Hanun.
Saat itu, tim dari Sumenep berhasil mendapatkan juara 2. Setelah itu, Wafiwatun Nuraniyyah kembali ditunjuk mengikuti seleksi untuk mewakili Jawa Timur Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) tingkat nasional.
”Alhamdulillah di seleksi tingkat provinsi itu saya lolos bersama dua orang lain yang beda kabupaten. Yaitu, Talita Fidelila Sari dari Sidoarjo dan Aliya Fikriyah dari Jombang,” ucap Afi.
Seleksi itu dilakukan Februari lalu. Sedangkan pelaksanaan kejuaraan tingkat nasional dilakukan pada September. Pelatihan yang dari Jawa Timur itu ada 14 kali pembinaan sekitar 6 bulan. Setiap kali pembinaan memakan waktu tiga hari.
Persiapan yang dilakukannya cukup berat karena banyak buku dan kitab yang harus dipelajari. Hal itu memakan waktu, tenaga, dan pikiran. ”Banyak buku tafsir yang harus saya pelajari dengan tuntas,” ujar perempuan berusia 17 tahun itu.
Baca Juga: Achmad Fauzi Wongsojudo Terbukti Lindungi Pekerja Rentan
Saat babak penyisihan, timnya mendapatkan nilai bagus sehingga lolos ke tahap berikutnya. Kemudian di semifinal bertemu dan menang atas tim dari Jakarta yang dikenal sering juara.
Selisih nilai kedua yang tipis. Sedangkan yang masuk final tim Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. ”Kami hanya berhasil mendapatkan juara 3,” tuturnya.
Meski demikian, Afi sangat senang. Apalagi mengikuti MFQ ini merupakan pengalaman pertama. ”Saat maju ke nasional, posisinya saya ujian di pondok. Jadi, saya tidak ikut ujian full 25 materi. Setelah lomba, saya mengulang lagi di pondok,” tutur santri yang mondok di Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sejak 2019 itu.
Lomba tingkat nasional yang diikuti Afi itu disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube. Jadi, keluarga besarnya bisa menonton. Ketika dinyatakan mendapatkan juara tiga, semua orang menyemangati.
”Saya turun panggung langsung dapat chat dari orang tua saya. Isi pesannya itu ’Sudah, Nak, tidak apa-apa yang sabar. Alhamdulillah Aba bangga bisa punya anak yang ikut lomba sampai tingkat nasional’ itu pertama kali aba saya bilang bangga,” ujarnya.
Afi memiliki cita-cita besar. Dia harus berlajar keras untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Hal itu dilakukan hanya untuk membahagiakan orang tua.
”Saya menargetkan bisa mendapatkan ijazah dengan nilai memuaskan karena cita-cita bisa kuliah di Arab Saudi,” imbuhnya. (iqb/luq)
Editor : Ina Herdiyana