SAMPANG, RadarMadura.id – Memasuki pertengahan tahun, produksi garam di Kabupaten Sampang masih belum ideal.
Konon, salah satu pemicunya karena faktor cuaca yang tidak menentu.
Kabid Perikanan Budi Daya Sampang Moh. Mahfud mengatakan, produksi garam hasil pengamatan institusinya saat ini masih berjalan lamban.
Padahal secara jadwal, bulan ini seharusnya memasuki masa potensial produksi para petambak garam.
“Hasil produksi sementara masih sekitar 25 ribu ton,” katanya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Dijelaskan, idealnya pada bulan ini produksi garam semestinya mencapai 50 ribu ton.
Rendahnya capaian tersebut disebabkan faktor cuaca yang tidak menentu.
“Karena kemarin sering terjadi hujan, jadi sangat berpengaruh pada fase produksi,” tambahnya.
Ditambahkan, faktor cuaca yang labil otomatis memengaruhi target yang telah ditetapkan oleh Pemkab Sampang yang mencapai 300 ribu ton lebih.
Target tersebut terancam tidak terpenuhi jika cuaca tidak berpihak kepada petani.
“Jika cuacanya sama seperti tahun lalu, maka target produksi pada tahun ini kemungkinan tidak terpenuhi,” jelasnya.
Mahfud menyampaikan, masa produksi garam diprediksi sampai September. Setelah itu akan memasuki musim hujan.
“Kalau puncak kemarau jatuh pada Agustus, itu akan dimaksimalkan petambak dan masa produksi akan berlanjut,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian produksi garam dapat dibantu dengan penggunaan geomembran.
“Realitasnya, mayoritas petambak saat ini banyak yang tidak menggunakan geomembran,” ungkapnya.
Ahmad Suhaimi, salah satu petambak garam di Desa Aengsareh, Kecamatan Sampang, menuturkan, cuaca tahun ini hampir sama dengan tahun lalu. Hal itu berpengaruh pada capaian produksi garam.
“Sekarang tidak normal cuacanya, sama seperti tahun lalu. Biasanya saya bisa memproduksi sampai 50 ton, sekarang rasanya tidak sampai karena tadi malam saja gerimis,” ungkapnya. (ay/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti