
Oleh Al-Madany*
Riuh rendah suara sendok yang beradu dengan piring porselen di kantin kampus siang itu tidak mampu mengalihkan fokus kacamata tebal milik Malik. Jari-jarinya menari cepat di atas layar gawai, sesekali dahinya mengernyit dalam. Di sebelahnya, Citra sedang asyik mengunyah batagor sembari berselancar di media sosial. Sementara Dimas, anggota ketiga dari lingkaran pertemanan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) itu, sibuk membolak-balik diktat kuliah Epidemiologi.
”Malik, lihat ini,” Citra menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Malik. ”Ini tren video terbaru di TikTok. Isinya anak-anak remaja minum suplemen pemutih dosis tinggi dicampur minuman bersoda biar instan katanya. Penontonnya jutaan, Lik!”
Malik menghela napas panjang, menurunkan sedikit kacamatanya. ”Itu dia masalahnya, Cit. Minggu lalu, waktu kita turun lapangan ke Puskesmas Sukamaju, dr. Anwar bilang kasus gagal ginjal akut pada usia produktif naik hampir lima belas persen di wilayah itu. Salah satu pemicunya? Konsumsi obat-obatan ilegal dan suplemen tanpa izin edar yang mereka beli online karena termakan hoaks influencer.”
Dimas menutup diktat kuliahnya dengan hentakan pelan. ”Dunia digital kita sedang sakit. Arus informasi kesehatan bergerak lebih cepat daripada ambulans, tapi sayangnya, mayoritas adalah misinformasi. Masyarakat kita, terutama gen-Z dan milenial, lebih percaya testimoni estetis di Instagram ketimbang jurnal ilmiah atau anjuran dokter.”
Kenyataan pahit itulah yang melatarbelakangi terbentuknya gerakan ”Sinyal Sehat”. Sebuah proyek idealis yang diinisiasi oleh Malik, Citra, dan Dimas. Sebagai mahasiswa tingkat akhir FKM, mereka sadar bahwa mengedukasi masyarakat tidak bisa lagi sekadar mengandalkan brosur kertas yang dibagikan di lampu merah, atau penyuluhan kaku di balai desa yang hanya dihadiri oleh segelintir kader posyandu lansia. Kampanye kesehatan harus bermigrasi ke tempat di mana jantung generasi muda berdetak paling kencang: ruang digital.
Sore itu, sekretariat senat mahasiswa disulap menjadi studio mini. Sebuah lampu lingkaran (ring light) murah, sebuah mikrofon jepit, dan kamera ponsel pintar menjadi modal utama mereka. Agenda hari ini adalah memproduksi konten berkala untuk meluruskan hoaks yang sedang viral.
”Oke, Cit. Kamera siap, audio siap. Mulai dalam tiga, dua, satu... action!” seru Dimas dari balik layar.
Citra langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ceria dan interaktif. ”Hai Teman Sehat! Pernah gak sih kalian lihat tips diet ekstrem yang melarang kita minum air putih setelah makan karena katanya bikin lemak menggumpal? Waduh, jangan langsung percaya ya! Yuk, kita bedah faktanya dari sudut pandang fisiologi tubuh...”
Citra menjelaskan dengan bahasa yang sangat membumi, diselingi analogi-analogi jenaka khas anak muda. Ia memaparkan bahwa air putih justru membantu proses pencernaan, melarutkan zat gizi, dan menjaga fungsi ginjal agar tetap optimal menyaring racun. Tidak ada satu pun jurnal medis yang membenarkan bahwa air putih setelah makan dapat membekukan lemak tubuh.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




