
Oleh Sairil Munir*
BAGI sebagian orang, menjadi wartawan mungkin hanya sebuah profesi. Namun bagi saya, menjadi wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) adalah sebuah cita-cita yang tumbuh sejak masih menjadi santri di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.
Setiap hari saya terbiasa membaca koran JPRM yang terpampang di mading pondok. Tidak hanya membaca, saya juga mengkliping berita-berita JPRM. Dari kebiasaan sederhana itu tumbuh keinginan besar untuk suatu saat bisa menjadi bagian dari media terbesar di Madura tersebut.
Pada 2011, meski belum menyelesaikan kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), saya memberanikan diri mendaftar sebagai wartawan JPRM. Keinginan itu begitu kuat karena saya melihat JPRM bukan hanya sebagai perusahaan media, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat Madura.
Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Pada November 2011, saya resmi bergabung sebagai wartawan JPRM. Oleh pemimpin redaksi (Pemred) saat itu, saya ditempatkan di Biro Bangkalan. Selama enam bulan di Bangkalan, saya ditempa untuk memahami dunia jurnalistik secara langsung. Setelah itu, saya dipindahkan ke Biro Sumenep dan bekerja selama sekitar 17 bulan.
Menjadi wartawan JPRM memberikan pengalaman yang sangat berharga. Setiap hari saya dituntut untuk menulis berita, minimal tiga hingga lima berita sesuai dengan deadline. Kemampuan menggali informasi, melakukan wawancara, menyusun tulisan, hingga memahami persoalan masyarakat menjadi pelajaran yang tidak ternilai.
Selain kemampuan jurnalistik, profesi wartawan juga membuka ruang pertemanan dan jaringan yang luas. Saya bisa berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai dari birokrasi, eksekutif, legislatif, tokoh masyarakat, hingga tokoh nasional. Dari sana saya memahami banyak persoalan dan melihat langsung bagaimana media dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.
Lebih dari itu, menjadi wartawan juga memberi kesempatan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian. Melalui pemberitaan, persoalan masyarakat kecil bisa disuarakan agar mendapat perhatian dari pihak terkait.
Pada akhir 2013, saya kembali ke Bangkalan setelah menerima surat mutasi dari Pemred. Tidak lama kemudian, saya dipercaya oleh Direktur JPRM saat itu, Bapak Abd. Aziz, untuk menjadi Kepala Biro JPRM Wilayah Bangkalan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




