SAMPANG, RadarMadura.id – Memasuki triwulan kedua, realisasi pendapatan asli daerah (PAD) sektor pelayanan kesehatan masih rendah. Dinas Kesehatan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Sampang mengeklaim terjadi penurunan pendapatan. Salah satunya di RSUD Ketapang yang merosot miliaran rupiah.
Kasubbag Keuangan Dinkes KB Sampang Muhammad Maman Firmansyah mengatakan, realisasi sampai Mei semestinya 41,67 persen. Sementara hasil himpunan pendapatan yang terekap baru mencapai 32,94 persen. Dengan demikian, pendapatan tersebut masih belum ideal.
“Ada kendala yang terjadi di puskesmas dan RSUD,” katanya.
Dijelaskan, capaian PAD sementara baru di angka Rp 108,6 miliar dari target Rp 329 miliar. Dengan demikian, baru tercapai 32,94 persen yang bersumber dari puskesmas dan RSUD.
Rendahnya capaian tersebut dikarenakan klaim layanan April dan Mei belum dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. “Sehingga pendapatannya belum mencapai target,” tambahnya.
Selain itu, penurunan jumlah peserta BPJS Kesehatan aktif juga menjadi kendala. Banyak peserta yang status Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-nya terdampak penonaktifan. Sehingga membutuhkan reaktivasi kembali yang membutuhkan waktu tidak sebentar.
“Akibatnya menurunkan pendapatan dari kapitasi di masing-masing puskesmas,” ungkapnya.
Dijelaskan, merosotnya pendapatan lain juga dampak beberapa pelayanan di RSUD yang tahun ini tidak ada, yakni di RSUD Ketapang karena berhentinya dokter spesialis bedah.
Berdasarkan periode tahun lalu, realisasi pendapatan sampai Mei mencapai Rp 7,8 miliar, sementara di tahun ini hanya Rp 6,3 miliar. “Hasil evaluasi pada periode yang sama memang ada penurunan,” jelasnya.
Menurutnya, meski begitu upaya memulihkan pendapatan akan dilakukan. Di antaranya pengaktifan kepesertaan, koordinasi dengan BPJS Kesehatan untuk pembayaran, dan menyetujui kerja sama sejumlah pelayanan baru.
“Untuk RSUD Ketapang saat ini sedang proses merekrut dokter spesialis bedah yang baru,” ujarnya.
Koran ini berusaha menghubungi Direktur RSUD Ketapang Sokarno melalui nomor yang biasa dihubungi. Namun, telepon dan pesan yang dikirim koran ini tidak direspons oleh yang bersangkutan. (ay/yan)
Editor : Anis Billah