
SUMENEP, RadarMadura.id – Perbedaan capaian inflasi Kabupaten Sumenep yang tercatat sebagai yang terendah secara bulanan (m-to-m), namun tertinggi secara tahunan (y-to-y) di Jawa Timur, dinilai bukan sebagai sesuatu yang bertentangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan angka inflasi harus dipahami berdasarkan periode perbandingan serta komoditas yang menjadi pemicunya.
Kepala BPS Kabupaten Sumenep Handoyo Wijoyo mengatakan, inflasi bulanan dan tahunan memiliki fungsi yang berbeda dalam menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa.
Karena itu, kedua indikator tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung tanpa melihat konteksnya.
Menurutnya, inflasi bulanan lebih mencerminkan perubahan harga dalam jangka pendek yang dipengaruhi faktor musiman.
Sementara inflasi tahunan menggambarkan perubahan harga dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Inflasi bulanan maupun tahunan sama-sama penting. Penggunaannya bergantung pada tujuan analisis yang dilakukan,” katanya.
Dia menjelaskan, suatu komoditas dapat mengalami kenaikan atau penurunan harga yang cukup tajam dalam satu bulan, tetapi secara tahunan perubahannya belum tentu besar.
Begitu pula sebaliknya, kenaikan harga yang terjadi secara bertahap selama setahun dapat membuat inflasi tahunan tetap tinggi meski inflasi bulanannya rendah.
Karena itu, Handoyo mengingatkan agar pembacaan data inflasi tidak hanya terpaku pada besaran angkanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




