SAMPANG, RadarMadura.id – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sampang harus mendapat perhatian serius.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus mengalami peningkatan signifikan. Mayoritas korbannya merupakan anak, dengan mayoritas kasus kekerasan seksual.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinsos PPPA Sampang Masruhah mengatakan pihaknya telah melakukan upaya pencegahan secara maksimal.
Salah satunya dengan mengerahkan tim pendamping di setiap kecamatan.
”Kami memiliki 12 pendamping yang kami tempatkan di setiap kecamatan untuk melakukan upaya pencegahan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya Senin (19/1).
Masruhah tidak menampik bahwa angka kekerasan masih tergolong tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2024, tercatat 38 kasus. Sedangkan pada 2025 meningkat menjadi 60 kasus yang terlapor.
”Kasus yang paling banyak dilaporkan adalah persetubuhan, dengan korban mayoritas anak-anak,” tambahnya.
Dia menjelaskan, tingginya kasus kekerasan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan minimnya pengawasan orang tua.
Terutama pada anak-anak dari keluarga broken home atau yang ditinggal merantau oleh kedua orang tuanya.
Selain pencegahan, dinsos PPPA juga melakukan pendampingan terhadap korban, terutama pemulihan psikologis.
Berdasarkan pengalaman pendampingan, trauma yang paling sulit dipulihkan dialami anak usia 12–17 tahun serta perempuan di bawah usia 25 tahun.
”Beberapa korban masih kami dampingi, terutama kasus yang masih berproses di persidangan. Pendampingan difokuskan pada pemulihan trauma,” jelasnya.
Koordinator Pendamping PPA Kabupaten Sampang Nofita Febriyanti menambahkan, peningkatan jumlah kasus juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran korban untuk melapor.
Hal tersebut tidak lepas dari upaya sosialisasi yang terus dilakukan kepada masyarakat.
”Ini hasil dari sosialisasi terbuka agar masyarakat berani berbicara. Sehingga, muncul kepercayaan kepada kami untuk memberikan perlindungan,” katanya.
Menurut Nofita, kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sampang masih didominasi kasus kekerasan seksual.
Kasus terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Sampang. Sementara di tingkat desa, jumlah laporan relatif kecil karena banyak kasus diselesaikan di tingkat desa.
”Padahal, itu bukan solusi yang tepat. Misalnya, dengan menikahkan korban. Pernikahan di usia dini sering kali tidak bertahan lama. Karena itu, kami terus berupaya memberikan pendampingan hingga ke daerah terpencil,” tandasnya. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti