SAMPANG, RadarMadura.id – Luas lahan tembakau di Kabupaten Sampang mencapai 3.780 hektare. Hasil produksinya mencapai puluhan ribu ton. Sebagian besar petani menjual tembakaunya sebelum dipanen.
Junaidi, petani tembakau asal Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, menyatakan, tembakaunya dijual saat masih di ladang. Sehingga, pihak yang bertanggung jawab memetik tembakau di ladangnya, yaitu pembeli.
Proses panen biasanya dilakukan dua tahap. Pertama, tembakau yang dipetik daun di bagian bawah. ”Sedangkan panen kedua memetik daun bagian tengah hingga atas,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Pria 40 tahun itu mengaku tidak pernah menjual tembakau dalam bentuk sudah dirajang. Sehingga, tidak perlu mengeluarkan beberapa pembiayaan. Antara lain, mempekerjakan buruh untuk memetik tembakau, dan biaya pengangkutan dari ladang ke rumahnya.
”Kami gak biasa merajang, langsung menjual (tembakau) di sawah. Karena nyaman, tidak terlalu bikin capek,” bebernya.
Kabid Sarana Pertanian Disperta KP Sampang Nurdin menyatakan, 75 persen petani tembakau di Kota Bahari menjual daun emasnya sebelum dipanen. Sedangkan 25 persen lainnya menjual dalam bentuk sudah dirajang.
Petani yang menjual tembakau dalam bentuk sudah dirajang tersebar di beberapa wilayah. ”Antara lain, di wilayah Kecamatan Kota Sampang, Camplong, dan Sokobanah,” imbuhnya.
Nurdin menjelaskan, sistem perajangan tembakau di Kota Bahari bervariasi. Yakni, menggunakan mesin dan cara manual. Penggunaan mesin rajang membuat pengirisan daun tembakau lebih cepat.
”Sedangkan kelebihannya merajang tembakau secara manual ketebalannya bisa diukur (diatur). Tapi, kekurangannya butuh biaya lebih, karena butuh banyak pekerja,” imbuhnya.
Terdapat beberapa faktor yang mendasari banyak petani memilih menjual tembakau sebelum dipanen. Antara lain, karena petani ingin segera mengembalikan modal produksi. ”Juga tidak perlu buang-buang tenaga dan biaya tambahan,” sambungnya.
Ketua I Kadin Sampang Bagian UMKM Rachman Setiadi menilai wajar adanya pola transaksi tembakau sebelum panen. Sebab, petani menghindari pengeluaran biaya tambahan. ”Apalagi petani ingin segera mendapatkan keuntungan,” ujarnya.
Produksi tembakau membuat banyak petani waswas. Sebab, cuaca tidak menentu. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu alasan petani menjual tembakaunya sebelum dipanen. Harapannya, menghindari kerugian yang lebih besar akibat kualitas tembakau berkurang.
”Mindset petani ingin modal yang dikeluarkan kembali, bahkan mendapat keuntungan dari penanaman tembakau yang dilakukan,” katanya. (bai/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti