SAMPANG, RadarMadura.id – Enam orang anak sedang asyik bermain di bibir pantai Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Sampang, Minggu (8/12).
Lalu, dua anak di antaranya berpisah dengan yang lain. Yakni AY, 11, dan MHA, 11.
Tak disangka, dua anak yang masih pelajar itu terseret ombak saat mandi di pantai tersebut.
Abdullah yang mengetahui kejadian itu berusaha menolong dua anak tersebut. Nahas, imam masjid di Dusun Bliker, Desa Sokobanah Tengah, itu juga ikut terseret.
Kejadian tersebut membuat warga sekitar geger. Pasalnya, tiga orang yang terseret ombak itu tidak ada yang bisa diselamatkan.
Korban ditemukan meninggal tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).
Camat Sokobanah Sapta Nuris Ramlan membenarkan peristiwa tersebut. Dia mengatakan, tidak tahu secara detail kronologis kejadian itu.
”Informasi yang kami terima, anak-anak itu lari-lari di pantai sekitar TKP. Dugaannya, terseret ombak yang besar,” katanya.
Dia mengutarakan, saat dua anak terseret ombak besar, Abdullah mendekat bermaksud untuk menolong.
”Tapi, orang dewasa yang hendak menolong itu juga terseret ombak,” tuturnya.
Sapta mengungkapkan, tiga korban yang terseret ombak sudah ditemukan. Ketiganya ditemukan di sekitar TKP dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
”Sejak tiga hari yang lalu di wilayah Kecamatan Sokobanah, ombak di laut besar, angin juga kencang,” ungkapnya.
Menurutnya, cuaca di perairan Sokobanah terkadang tidak normal saat pancaroba.
Hujan lebat sering terjadi dalam beberapa hari terakhir disertai angin kencang.
Dia mengimbau masyarakat lebih waspada menjaga anak-anaknya agar tidak bermain di pinggir pantai.
”Saya mengimbau untuk tidak bermain di pantai dulu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbaunya.
Kapolsek Sokobanah Iptu Sujiyono menerangkan kronologis meninggalnya tiga orang tersebut.
Kejadian bermula saat enam anak dari Dusun Lonangkek, Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, bermain di bibir pantai sekitar pukul 05.30.
”Jarak dari rumah mereka kurang lebih satu kilometer ke TKP. Saat di TKP mereka mandi di sekitar pantai (laut),” terangnya.
Dua anak, yakni AY dan MHA, memisahkan diri dari teman-temannya.
Keduanya mandi di bibir pantai dan diketahui tenggelam. Dua siswa sekolah dasar tersebut sempat berteriak minta tolong.
Mendengar anak-anak itu berteriak minta tolong, Abdullah lalu mendekat.
Warga Desa Sokobanah Tengah, Kecamatan Sokobanah, itu rutin melakukan terapi di laut setiap pagi karena memiliki penyakit.
”Saat melihat dua anak itu tenggelam, Abdullah berusaha menolong. Sempat berhasil menggapai dua anak itu, tapi ombak besar datang dan Abdullah ikut tenggelam,” paparnya.
Melihat temannya tenggelam, lanjut Sujiyono, empat anak yang ada di pinggir pantai berlari dan teriak minta tolong pada warga sekitar.
Warga langsung mendatangi TKP disusul anggota Polsek Sokobanah.
”Tiga korban meninggal dunia. Korban tenggelam kelihatan rambutnya sehingga dievakuasi menggunakan perahu nelayan,” imbuhnya.
Sujiyono mengimbau masyarakat agar melarang anaknya bermain di pinggir pantai.
Pihaknya juga memasang banner yang berisi larangan berenang atau bermain di pinggir laut.
Semua banner sudah terpasang di pintu masuk menuju pantai.
”Kami juga sudah memberikan santunan pada korban dan mengikuti pemakaman korban. Sebab, Abdullah merupakan imam masjid dan takmir masjid di Dusun Bliker, Desa Sokobana Tengah,” tandasnya. (bai/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti