Judul : Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang
Penulis : Achmad Choiruzzaman, dkk.
Tahun Terbit : Juni, 2025
Tebal : 211 halaman
QRCN : 62-159-9007-892
Presensi : Siswanto
RadarMadura.id - Membaca antologi cerpen Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang (TareBooks, 2025) memaksa ingatan pembaca pada waktu yang sudah retak di masa lalu dalam suatu peradaban manusia, yaitu gerabah.
Kemampuan mengolah lempung tersebut melahirkan produk kebudayaan yakni gerabah yang hingga saat ini masih digeluti oleh sebagian kecil manusia Madura.
Pencatatan sejarah perkembangan gerabah di Madura tidak begitu banyak. Misalnya, buku Gerabah Madura yang ditulis oleh Sulaiman BA (1982) yang menjelaskan fungsi gerabah secara sosial, ekologis, edukatif, magis, budaya atau adat istiadat yang melekat pada detak nadi masyarakat Madura.
Selain itu, pada 1982 dijelaskan setidaknya ada 42 jenis gerabah, baik yang digunakan dalam sektor domestik, ritual, maupun artistik. Dimungkinkan jumlah tersebut jauh berkurang pada era sekarang.
Antologi cerpen Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang menghimpun 13 cerpen yang mengeksplorasi semesta gerabah secara multidimensional.
Hal tersebut menunjukan bahwa ada kerja-kerja etnografis dari para penulis dalam mentranformasi tradisi gerabah Madura melalui lensa narasi yang dalam, memukau, dan penuh makna.
Sebagaimana deskripsi pada pengantar buku tersebut bahwa antologi cerpen tersebut ditulis oleh para penulis muda peserta Rakara Residensi Cerpen di Desa Andulang, Gapura, Sumenep.
Selain itu, secara naratif cerpen-cerpen ini berhasil menyelami dunia lempung yang bisu menjadi suara yang berbicara tentang identitas, spiritualitas, konflik, dan memori.
Dalam pandangan possible worlds, para penulis tidak hanya bercerita—mereka menciptakan dunia-dunia yang mungkin, di mana gerabah bukan lagi benda mati, melainkan entitas yang memiliki agensi, menyambungkan manusia dengan leluhur, alam, dan bahkan dunia spiritual. Beberapa cerita seperti Polo’ Tamonih dan Makane Bumi menggambarkan gerabah sebagai medium ritual yang sakral.
Di sini, gerabah menjadi penghubung antara dunia manusia dan kosmos, antara yang hidup dan yang mati.
Sedangkan dalam Rantau yang Silau dan Cobik Ritus, kita melihat ketegangan antara modernitas dan tradisi.
Marlena, misalnya, meninggalkan karier internasionalnya untuk kembali ke usaha keluarga membuat cobik—sebuah simbol reintegrasi nilai tradisional dalam kehidupan modern.
Selain itu, antologi tersebut menyajikan narasi-narasi magis, tragedi, dan ingatan yang melekat pada lempung atau gerabah.
Cerita-cerita seperti Anak Kandung Kontong dan Polo’ Terakhir membawa kita ke dunia yang dipenuhi unsur magis dan spiritual.
Juna, yang lahir dengan kemampuan supranatural, berkomunikasi dengan leluhurnya melalui kontong—periuk gerabah yang menjadi portal ke dunia lain.
Sementara itu, Tanah Berdarah dan Jamban Terakhir menggunakan gerabah sebagai saksi bisu dari tragedi dan pengkhianatan.
Retaknya gerabah bukan hanya kerusakan fisik, melainkan metafora dari retaknya hubungan dan jiwa.
Pada aspek naratif (storyworld) cerpen-cerpen dalam antologi tersebut memiliki strategi penceritaan menarik yakni para penulis membangun dunia statis—dengan hukum magis-religius dan entitas gerabah yang beragensi—lalu menghadapkannya dengan keinginan dinamis para karakter.
Konflik muncul ketika keinginan manusia berbenturan dengan hukum tradisi, seperti dalam kisah Suratmi di Mesin Tubuh yang Hilang, yang menyembunyikan penyakit hingga menyebabkan semua polo’ yang dibuatnya retak.
Ini adalah pelanggaran terhadap hukum ketulusan, dan dunia merespons dengan keras.
Secara tersirat, antologi cerpen tersebut tidak hanya menyajikan cerita-cerita yang memikat, tetapi juga menjadi cermin reflektif bagi budaya Madura yang terus bergumul antara mempertahankan akar dan menghadapi gelombang perubahan.
Para penulis berhasil menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku, melainkan hidup, bernapas, dan terus berdialog dengan zaman.
Baca Juga: Burnout! Bertahan atau Resign?
Tentu pasti ada, seperti nasib gerabah selalu ada retak demikian juga pada aspek teknik kepenulisan untuk keutuhan suatu cerpen, para penulis perlu juga memperhatikannya.
Antologi cerpen Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang adalah bukti bahwa sastra memiliki kekuatan tidak hanya untuk mendokumentasikan, tetapi juga untuk mencipta dunia—dunia yang memungkinkan kita memahami realitas dengan lebih dalam dan penuh empati.
Seperti yang dikatakan Albert Camus ”The purpose of a writer is to keep civilization from destroying itself.”
Dalam hal ini, antologi tersebut telah menjalankan tugas yang luhur itu—menjaga peradaban lewat cerita, lewat lempung, dan lewat kata-kata yang ditulis dengan hati dan keyakinan. Selamat membaca! (*)
Editor : Amin Basiri