Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mata Kala di Reruntuhan Menoreh

A
Penulis: Amin Basiri❯
Matakala di Reruntuhan Menoreh
Matakala di Reruntuhan Menoreh

Advertisement

Cerpen Ach. Jalaludin*


Orang-orang di lereng Menoreh percaya, tidak semua burung hantu diciptakan untuk berburu tikus. Ada satu yang lahir dengan topeng hitam sempurna di wajahnya. Mereka menyebutnya Kala, makhluk yang konon mampu mempertemukan manusia dengan Landaur, penunggu harta yang bersemayam di dasar Sumur Tanto.

Advertisement


MANUSIA selalu mengira malam adalah waktu yang sepi. Bagi saya, justru sebaliknya, dunia menjadi bising dan penuh warna. Dari tangkringan kayu di kamar penangkaran ini, saya mendengar desau angin menyisir daun jati di lereng Menoreh, juga detak halus laba-laba yang merajut jaring di sudut langit-langit.

Namun di antara semua suara malam, langkah kaki Njun adalah yang paling saya kenal.

Advertisement

Njun manusia yang baik. Tangannya yang kasar selalu bergerak lembut saat membersihkan bulu saya atau mengelus bagian belakang kepala saya yang sensitif.

Dulu, ketika sayap kiri saya patah menabrak kawat berduri di batas hutan, Njun yang menemukan dan merawat saya—membalut sayap dengan kayu kecil, membawakan tikus sawah segar setiap sore tanpa absen.

Di bawah asuhannya saya tumbuh menjadi Tyto alba yang gagah. Kerabat saya biasanya memiliki corak wajah berantakan, tetapi bulu di sekitar mata dan paruh saya membentuk lingkaran hitam sempurna, seperti topeng beludru legam di atas dada putih saya. Njun sering menatapnya lama, seolah topeng itu sebuah mahakarya.

Keunikan wajah saya rupanya juga memikat orang lain. Warga desa mulai berdatangan, berdiri di depan jendela besar, menunjuk-nunjuk dengan rasa ingin tahu yang berlebihan. Saya tidak suka tatapan manusia yang terlalu intens, itu selalu terasa seperti ancaman.

Di antara mereka ada seorang pemuda bernama Muhalis. Berbeda dari warga lain yang mengagumi saya dengan polos, matanya lapar dan penuh ambisi. Suatu sore saya mendengar bisikannya kepada seorang teman di luar jendela.

”Kau lihat topeng hitam di wajah burung itu? Itu bukan burung hantu biasa. Itu Kala. Kata orang tua dulu, burung bertopeng sempurna seperti itu adalah kunci bertemu Landaur di puncak Menoreh. Kalau kita pakai dia sebagai perantara, harta karun yang terkubur di dasar sumur Tanto akan kelihatan.”

Advertisement
Editor : Amin Bashiri
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Puisi J. Akit Lampacak

Puisi J. Akit Lampacak

pada saatnya buih itu sampai ke matamu seprti kerikil yang terlempar dari kaki masa kecil tentu kau akan mendengar suara angin seperti riuh burung pagi kehilangan mimpi gemerciknya menggelinding mengaliri ruang sunyi

Puisi Ririe Rengganis

Puisi Ririe Rengganis

Ibu selalu membawa laut di rambutnya....

Maulid Puisi: Sastra, Teater dalam Kehidupan Sehari-hari

Maulid Puisi: Sastra, Teater dalam Kehidupan Sehari-hari

Salah satu kegiatan rutin untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruang bersama dilakukan saat bulan Maulid tiba. Mereka mengadakan Maulid Puisi, yaitu membaca puisi setelah membacakan salawat Sarafal Anam.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer